ada-becak-masuk-ruang-rapat-dprd-diyBecak di ruang rapat DPRD DIY, Jumat (07/12/2018). Becak ini dijadikan contoh pengembangan becak listrik. (sholihul hadi/koranbernas.id)


sholihul
Ada Becak Masuk Ruang Rapat DPRD DIY

SHARE

KORANBERNAS.ID –  Satu unit becak berwarna kecokelatan itu tiba-tiba berada di ruang lobi lantai satu DPRD DIY Jalan Malioboro, Jumat (07/12/2018).


Usut punya usut becak itu ternyata sengaja dibawa masuk ruang rapat, bukan sekadar untuk hiasan tetapi sebagai pelengkap Forum Diskusi Wartawan DPRD DIY bertema Solusi terhadap Becak Kayuh dan Becak Motor di DIY.

  • Humor Tersembunyi Taruna Akabri
  • Para Tokoh Blockchain Bertemu di Jogja

  • Ini bukan becak biasa melainkan becak listrik yang ide pembuatannya dikerjakan oleh tim Brotoseno, budayawan yang sejak puluhan tahun akrab dengan para pengemudi becak di provinsi ini.

    Membuka diskusi itu, Wakil Ketua DPRD DIY Dharma Setiawan mengungkap ada semacam fenomena yang bertolak belakang dari kehadiran angkutan umum online.

  • Smart Phone Picu Disharmoni Keluarga
  • Cagar Budaya Makin Tua Makin Seksi

  • Di satu sisi, angkutan jenis ini disambut gegap gempita oleh masyarakat tetapi di sisi lain terkesan ada pembiaran pelanggaran massal.

    “Ternyata sepeda motor online untuk angkutan penumpang tetapi tidak pernah diributkan,” ungkapnya.

    Diskusi kali ini juga dihadiri narasumber Kepala Bidang Angkutan Darat Dinas Perhubungan (Dishub) DIY Hari Agus Triyono serta budayawan Brotoseno.

    Menurut Dharma Setiawan, dirinya tidak menolak angkutan online karena arus perubahan zaman memang tidak bisa dibendung.

    Tetapi ada yang bertolak belakang dari masalah angkutan sepeda motor online itu, yakni kehadiran becak bermesin di DIY justru diributkan karena melanggar aturan, termasuk SIM dan STNK-nya tidak jelas.

    “Ketika becak tidak pakai mesin tidak diributkan, ketika pakai mesin diributkan. Di sini becak motor dikejar-kejar. Bukan soal mesin atau tidak, mana yang lebih mulia penarik becak tua dan rekayasa becak mesin,” kata dia.

    Dari sinilah muncul inovasi becak listrik. Dia pun memberikan dukungan, selain tanpa polusi juga mampu meningkatkan kemuliaan masyarakat Jogja.

    “Memuliakan masyarakat itu isi pidato dari Ngarsa Dalem. Maka becak listrik ini menjadi solusinya,” unkapnya.

    Sedangkan Hari Agus Triyono menyampaikan seperti inilah dinamika angkutan roda tiga di DIY. Dia berharap kontroversi tentang becak motor ada titik temunya.

    “Dibanding daerah lain, dinamika becak di Jogja luar biasa. Kami sudah surati Kemenhub yang menginginkan penumpang becak motor ada di belakang tapi kita tidak bisa mengubah kebiasaan di Jogja,” ungkapnya.

    Kehadiran becak listrik, menurut dia, diharapkan menjadi solusi yang terbaik. Yang pasti, harus ada pengembangannya.

    “Kami setuju karena pada intinya adalah memuliakan masyarakat, pengemudi becak lebih manusiawi,” kata dia.

    Hadir pula dalam diskusi kali ini perwakilan paguyuban becak motor maupun becak wisata. Bukan rahasia lagi, di Yogyakarta masih terdapat bebeerapa pengayuh becak yang usianya sudah di atas 70 tahun.

    Sedangkan Brotoseno menyatakan perlunya Pemda DIY turun tangan membantu para pengayuh becak.

    Seandainya Dana Keistimewaan (Danais) DIY, tahun 2019 sebesar Rp 1,2 triliun, dialokasikan Rp 35 miliar maka sudah bisa digunakan untuk membuat 5.000-an becak  listrik.

    Usulan ini dinilai lebih baik serta realistis daripada Danais sebagian besar habis untuk membiayai misi kesenian ke luar negeri, lebih baik dipakai untuk menyejahterakan para penarik becak.

    Biaya produksi satu unit becak listrik sekitar Rp 15 juta. Apabila diproduksi secara massal kemungkinan satu unit cukup dengan biaya Rp 10 juta. Kemudian, becak listrik itu dibagikan kepada para pengayuh becak. (sol)



    SHARE
    '

    BERITA TERKAIT


    Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

    Tulis Komentar disini