Senin, 01 Mar 2021,

aktivitas-seismik-merapi-turun-pengungsi-belum-boleh-pulangKepala BPPTKG, Hanik Humaida, didampingi Plt Assek Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sleman, Joko Supriyanto, memaparkan perkembangan terkini kondisi Gunung Merapi. (istimewa)


Nila Hastuti
Aktivitas Seismik Merapi Turun, Pengungsi Belum Boleh Pulang

SHARE

KORANBERNAS.ID, SLEMAN -- Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Hanik Humaida, didampingi Plt Assek Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Sleman, Joko Supriyanto, memaparkan perkembangan terkini kondisi Gunung Merapi usai mengadakan rakor di Pendopo Parasamya, Selasa, (19/1/2021).

Di depan para awak media, Hanik memaparkan bahwa BPPTKG sudah menyatakan bahwa Gunung Merapi sudah bererupsi sejak 4 Januari 2021. Aktivitas erupsi tersebut berupa guguran lava pijar dan awan panas sejauh maksimal 1.800 meter yang disebut dengan erupsi efusif.


“Sampai dengan saat ini terjadi 10 kali awan panas, yaitu pada tanggal 7 (4 kali) , 9, 13, 16 (2 kali), 18, dan 19 Januari 2021, dominasi luncuran sekitar 500 meter,” kata Hanik.

Hanik juga menyatakan, potensi dan daerah bahaya erupsi Gunung Merapi sudah berubah mengingat erupsi yang cenderung bersifat efusif serta memperhatikan arah erupsi yang mengarah ke barat.


“Per tanggal 15 Januari 2021, distribusi probabilitas erupsi dominan ke arah erupsi efusif 40% dan eksplosif 21%, sehingga potensi erupsi eksplosif menurun signifikan,” ungkapnya.

Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor sungai Kuning, Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, dan Putih sejauh maksimal 5 km. Sedangkan lontaran material vulkanik jika terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau sejauh maksimal 3 km dari puncak.
“Jarak awan panas maksimal 1,8 km. Masih cukup jauh dari pemukiman yang berjarak 6,5 km,” papar Hanik.

Seiring berlangsungnya erupsi, saat ini aktivitas seismik, deformasi, dan gas menurun signifikan. Kegempaan internal 27 kali per hari. Deformasi 0.3 cm/hari. Gas vulkanik CO2 saat ini 600 ppm dalam tren menurun. Kejadian guguran tinggi, dominan bersumber di lokasi erupsi.

“Berdasarakan data pemantauan seismik, deformasi, dan gas menurun. Tidak ada tekanan magma berlebih yang mencerminkan tambahan suplai magma,” terang Hanik.

Sementara itu, Plt Assek Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sleman, Joko Supriyanto, mengatakan walaupun Merapi sudah di fase erupsi efusif tetapi Pemkab Sleman belum memperbolehkan para pengungsi lereng Merapi untuk pulang ke rumahnya masing-masing, mengingat Pemkab Sleman masih memberlakukan PTMK hingga tanggal 25 Januari 2021.

“Hingga tanggal 25 januari 2021 pengungsi tetap di barak. Sambil menunggu instruksi Bupati lebih lanjut,” kata Joko. (*)



SHARE
'

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini