anggota-dewan-pakai-berbagai-cara-untuk-mengajak-vaksinAnggota Komisi A DPRD DIY, Muhammad Syafii. (istimewa)


Sholihul Hadi
Anggota Dewan Pakai Berbagai Cara untuk Mengajak Vaksin

SHARE

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA – Target vaksinasi Covid-19 di provinsi DIY baik dosis pertama maupun kedua tercapai dengan hasil menggembirakan. Prestasi ini tidak lepas dari kerja keras semua pihak, termasuk dari kalangan legislatif.


Anggota Komisi A DPRD DIY, Muhammad Syafii, memiliki pengalaman saat mengajak warga untuk mengikuti vaksinasi. Berbagai cara dia pakai. Baginya, tantangan terberat adalah hoaks di sosial media.


“Pemahaman di masyarakat bermacam-macam apalagi pada era media sosial. Waduh, setiap yang dibaca seolah-olah itu kebenaran. Kami beri pemahaman tentang vaksin dan Covid. Ini bagian dari upaya kita menyadarkan masyarakat,” ungkapnya, Senin (13/12/2021).

Imbauan serupa dia sampaikan ke masyarakat serta konstituen saat menjadi pembicara dialog online bersama Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY Pembajun Setyaningastutie.


Pada dialog mengangkat tema percepatan vaksinasi ikhtiar pandemi menuju endemi, anggota Fraksi PKS DPRD DIY ini menyatakan dirinya menyadari sebagai mitra pemerintah dewan harus memberikan dorongan agar program itu berjalan.

“Kami sebagai mitra ekeskutif memang sudah mendorong bahwa perluasan jangakauan vaksin betul-betyul dilaksanakan. Sperti kemarin kita melihat pelaksanaan vaksin sampai level kalurahan. Masyarakat merasa punya tempat yang dekat sebab ke kantor Dinas  Kesehatan jauh. Ini yang kita pantau kemarin sehingga cukup mengangkat persentase,” kata Syafii.

Menurut dia, itulah salah satu kendala, bagaimana meyakinkan masyarakat vaksinasi adalah proses dari pandemi menuju endemi., “Kita langsung menjelaskan ke masyarakat tentang pentingnya vaksin. Vaksin yang yang ternaik itu yang tercepat kita dapatkan,” ujarnya tentang sempat adanya fenomena masyarakat pilih vaksin.

Soal fenomena itu, Pembajun Setyaningastutie menjelaskan pada prinsipnya jenis vaksin itu sama, hanya yang membedakan adalah platform atau cairannya di dalam. Sinovac atau Coronavac adalah bagian dari virus yang sudah dimatikan, sedangkan Moderna dan Pfizer itu bagian dari DNA virus yang dimasukkan.

“Jadi, orang awam bilang dilemahkan sehingga Kejadian Ikutan Pasca Imunasi (KIPI) berbeda. Bayangkan kalau kita kecucuk duri, makhluk hidup. Suatu benda yang hidup tentu akan bereaksi lebih daripada benda mati yang tidak punya reaksi. Karena makhluk hidup ini punya enzim bereaksi dengan kondisi tubuh kita. Kadang-kadang orang pilih Sinovac karena KIPI-nya tidak banyak, pusing dan mual. Sedangkan Moderna bisa tepar dua hari,” jelasnya.

Baik Syafii maupun Pembajun menyampaikan apresiasi kepada lintas sektor termasuk institusi pendidikan yang memberikan dukungan pelayanan vaksinasi maupun kepada masyarakat yang secara mandiri melakukan vaksinasi. Itu dibolehkan sepanjang dikoordinasi dan termonitor dengan baik. (*)



SHARE
'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini