Kamis, 21 Okt 2021,


desa-masihkah-milik-wong-ndesaMarjono (istimewa)


--
Desa, Masihkah Milik Wong Ndesa?

Oleh: Marjono
SHARE

BEBERAPA waktu lalu Mendes PDTT manyatakan, Indomart dan Alfamart jangan sampai masuk ke desa-desa, karena akan mematikan usaha kecil masyarakat (liputan6.com, 28/8/2021). Suka tak suka ritel modern banyak dihidupi warga desa di bibir jalan desa maupun jalan kecamatan. Maka kemudian, ajakan Gus Menteri itu sekaligus permintaan kepada kepala daerah tersebut menyiratkan pertanyaan bagi kita: “Akankah desa masih menjadi milik wong ndesa?”


Kita bisa lihat fenomena desa yang sudah tergadai atau terbeli orang kota, seperti: lahan atau tanah sekitar kampus, seperti Tembalang, Sekaran Semarang, atau wilayah Gayam di Sukoharjo, Jaten Karanganyar, Sleman Jogja, dan sebagainya. Dengan iming-iming tetumpukan uang, rumah, tanah juga lahan lain milik masyarakat desa satu satu berangsur berpindah tangan ke pemilik orang-orang kota alias berduit.

  • Tiga Gunungan Ini Tarik Wisatawan

  • Warga desa melepas kekayaannya demi memperoleh pengganti yang berlipat dalam angannya, sehingga merelakan diri membangun rumah dan membeli tanah ke pinggiran desa atau lokasi lebih ke belakang dari poros jalan utama yang lebih murah meski kelas tanah turun. Pada konteks ini, warga desa mesti bekerja keras dan tidak nggégé mangsa secara instant, maunya enak dan kepénak. Radio dan televisi selama ini menjadi kebanggaan masyarakat, khususnya mereka yang sudah tergolong usia tua, tapi bagi remaja kekinian media mereka lebih memilih gadget, artinya lebih suka mengaktifkan HP dengan media sosialnya ketimbang mendengar atau melihat via radio dan teve. Varian konten di medsos jauh lebih lengkap dan modern.

    Seolah kebutuhan anak-anak desa itu pulsa atau kuota internet, tanpa itu sepertinya sengsara banget. Rerupa medsos dari gaya bicara, dandanan rambut, fashion, dll semua dicontoh dan dipraktikkan di desa. Kemudian mereka pun acap bergaya borju dengan memborong hamburger, steak, pizza, fried chicken, dll. Mereka malas atau emoh dengan nasi, singkong, dan sego jagung, thiwul serta makanan ala desa.


    Memang musim pandemi Covid-19, warga termasuk anak desa yang berstatus pelajar dan mahasiswa akrab dengan handphone untuk belajar dan komunikasi dengan guru, sekolah, kampus dan atau dosen. Di sinilah penting orangtua atau keluarga mendampingi anak-anaknya kelas dasar dan menengah dalam menggunakan gadget tersebut. Jangan sampai penyalahgunaan medos melambung.

    Properti dengan bisnis perumahan sekarang ini suka tak suka sudah menyentuh bahkan menjadi basis properti baru di pedesaan. Memang konsep propertinya lebih simple, minimalis dan praktis dengan harga terjangkau. Kita rasanya sudah sulit menemukan rumah bertipe tradisional atau menjunjung kearifan lokal, seperti rumah joglo, rumah bergaya Jogja asli atau rumah berarsitek asli Banyumasan, dan sebagainya. Harus kita pastikan, soal rumah tidak perlu gedong dan mewah, terpenting rumah itu secara teknis, higienis dan etika memadai. Bukan soal house, tapi lebih pada home.

     

    Angin Surga

    Pada belahan lain, desa sekarang juga sudah diserbu dengan label industrialisasi yang merangsek desa-desa. Beberapa perusahaan atau pabrik besar sudah menanamkan investasinya di ladang, persawahan bahkan ruang publik desa. Acap kita mendengar tukar guling, dibeli bahkan diborong oleh kapitalis yang berasal dari kota. Untuk itu, penting pemda membeli tanah warga desa sehingga lahan pertanian berkelanjutan tetap terjamin. Kecuali untuk kepentingan negara, warga desa mesti welcome.

    Para perantau yang mudik ke desa, tak jarang mencekoki kaum muda desa bahkan anak-anak dengan bahasa gaul kota yang tentu jauh dari nilai kedesaan yang menjunjung sopan santun, unggah-ungguh dan penghargaan kepada orangtua maupun guru. Sebagai warga asli desa perlu memahamkan pada pemudik untuk tidak meracuni anak-anak dengan bahasa kota yang kadang kala diterjemahkan menjadi rusak, karena tidak empan papan. Misalnya menyapa orangtua dengan loe, gue, atau ente, kamu, bokap, nyokap, semeh, sebeh, dll.

    Atau kita acap saksikan, event-event seni budaya maupun olahraga yang digelar di pedesaan pun tak luput dari serbuan diksi-diksi dengan bahasa asing biar dianggap keren atau hebat. Lagi-lagi, desa kian menjauh dari dekapan orang desa. Sebut saja saja budaya latah juga menjangkiti alam pedesaan, kadang kita miris atau ngelus dhadha dengan masifnya pergerakan narkoba maupun terorisme yang acap menyelinap di damainya desa. Kita maklum, bahasa daerah punya makna dan filosofi jauh lebih tinggi ketimbang frasa atau diksi asing yang justru belepotan jika belum cakap melafalkannya.

    Hal lain yang terbit, sekurangnya menjadi penanda kian redupnya kedesaan, seperti warga desa yang tak sedikit kena tipu muslihat hanya terdorong iming-iming janji manis “angin surga”, seperti investasi bodong, sehingga dengan gampangnya hijrah ke kota atau urbanisasi dengan alasan di kota pekerjaan dan uang lebih mudah didapat. Maka kemudian penguatan literasi keuangan dan permodalan pun masih relevan digelorakan di wilayah pedesaan, sehingga tak terjebak dengan calo legal, pinjol illegal, glembuk, penggandaan uang dan jalan ekonomi underground lain.

    Tak sedikit pula, anak-anak muda kita yang justru mengolok-olok kampungnya sendiri, tanah airnya “desa,” kepada para orangtua atau ketika orang lain maupun kawan sendiri melakukan kesalahan atau kebodohan yang acap distigma dengan predikat “ndesa.” Kita tak perlu iri atau mèri dengan kampung atau tetangga bahkan kemolekan kota, karena sumberdaya masing-masing berlainan, baik SDM, anggaran maupun pendapatan desa. Misalnya, jalan desanya masih jeblog dibanding jalan di kampung sebelah yang sudah mulus. Pada tataran lainnya, kita sering menjumpai orang desa yang makin minder atau rendah diri alias tidak punya rasa bangga atas kedesaannya, atau desa kerap menjadi proteksi atas kekurangsempurnannya, misalnya “mohon maaf, saya hanya orang desa.” Sudah seharusnya kita mesti bangga dan berani menyebut,: “Saya dari desa A, nama saya B menawarkan segenap potensi A-Z, dlsb.”

    Menjadi “Desa”

    Kini, kita barangkali masih relevan merawat dan mempertahankan pertanian organik atau lumbung-lumbung desa yang masih berdiri kokoh dan sanggup menjadi penyedia cadangan pangan warga kala paceklik menggigit. Selai itu, bagi anak muda desa tak ada salahnya kita dorong dan gerakkan menjadi petani, tak cuma suka bekerja di kota dan kelihatan parlente. Maka best practice petani milenial turut menyokong mencegah anak-anak lari ke kota.

    Satu hal lagi, anak-anak kita karena ulah orangtuanya juga, kini mereka tak terbiasa atau nyaris tak bisa berbahasa Jawa secara baik. Orangtua lebih memilih menggunakan bahasa pengantar di rumah dengan bahasa Indonesia atau bahasa Inggris, ada juga yang memakai bahasa Arab. Bahasa Ibu kian tiarap di antara serbuan bahasa lain yang semakin masif. Pembudayaan bahasa Ibu menjadi kebutuhan di tengah kurusnya nilai dewasa ini.

    Itulah kemudian, hari ini penting bagi kita untuk kembali pada frasa “kedesaan,” yang mungkin cukup lama menghilang disapih dengan mordernitas dan kapitalisasi. Menjadi desa tak harus menyerahkan harga diri dan rerupa budaya kepada para borju kota. Berkapital kesederhanaan, kesahajaan dan kegotong royongan kita akan membawa desa kita kuat dan besar..

    Jika selama ini desa hanya buat numpang hidup, sudah saatnya kita hidupkan desa dengan pasokan cahaya ilmu pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang selalu merawat kedesaaanya tanpa kehilangan makna jatidiri. Jangan sampai desa menjadi penampungan orang kota, perlu diantisipasi pergerakan atau kepindahan pabrik-pabrik ke desa-desa, jangan sampai budaya kontra produktif membanjiri alam pikiran pedesaan apalagi membelah kerukunan warga.

    Kepada sedulur desa di manapun berada, mari bergerak, urun angan dan turun tangan. Kita tak ingin desa dicap sebagai kantong kemiskinan abadi, pemasok tenaga kasar, langganan BLT, dan stigma inferior lainnya. Dana desa semestinya mampu menerjemahkan dan menjawab kebutuhan masyarakat desa. Semua itu menegaskan desa bukan anti modernitas tapi desa punya segalanya. Negara mawa tata, desa mawa cara. Menjadi “desa,” itu bahagia. Menjadi kerinduan kita, desa dengan guyub sengkuyungnya warga, berpemikiran maju dalam membangun desa dengan tetap mempertahankan “ke-desa-an” nya. *

    Marjono

    Kasubag Materi Naskah Pimpinan Pemprov Jateng



    SHARE



    '

    BERITA TERKAIT


    Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

    Tulis Komentar disini