Selasa, 15 Jun 2021,


di-desa-janda-bolong-itu-liar-tak-ada-yang-melirikTanaman janda bolong. (istimewa)


Arie Giyarto
Di Desa, Janda Bolong Itu Liar Tak Ada yang Melirik

SHARE

KORANBERNAS.ID, DEPOK -- Masih terpesona dengan tanaman ron (daun) dho - padha bolong? Artinya daun pada bolong. Akhirnya banyak yang menterjemahkannya ke bahasa Indonesia menjadi Janda Bolong. Secara estetika memang bagus dilihat lantaran bolongnya alami. Bukan buatan atau rekayasa manusia.


“Walah kalau di desa saya itu hanya rumput liar tidak ada harganya. Nggak ada orang meliriknya,” kata Nina Saugita (21) kepada koranbernas.id, hari Minggu (2/5-2021) petang.


Menurut penduduk Kampung Saroge Kelurahan Lemah Beureum Kecamatan Cigudeg Kabupaten Bogor yang kini bekerja sebagai Asisten Rumah Tangga (ART) di salah satu perumahan di Depok Jabar itu, tanaman tersebut tumbuh liar.

Tidak sengaja ditanam, biasanya tumbuh di pinggir pekarangan. Apabila daunnya sudah banyak dan arahnya ke mana-mana, biasanya pemiliknya baru merapikan.


Ketika tiba-tiba tanaman itu muncul di sosial media dengan penawaran harga tinggi, warga setempat kaget juga tapi menanggapinya sebagai hoax saja.


Anehnya justru ada yang jadi korban penipuan. Paman dari Nina didatangi orang. “Lha wong mau beli kok paman saya diminta memberi uang muka. Dengan janji akan dapat ganti berlipat ganda,” kata Nina lagi.


Dia heran kenapa pamannya mau bayar. Jumlahnya lumayan gedhe bagi warga setempat yang kebanyakan bekerja sebagai petani. Sekitar Rp 2 juta bukan angka kecil. Akhirnya uang melayang tanpa bisa melacak sang penipu.

Sudah lama ada

Tanaman itu sudah lama ada, sebelum dia merantau pada usia 13 tahun begitu lulus Sekolah Dasar. Namun tak ada yang peduli.

Nina sendiri tidak mengetahui siapa yang memunculkannya sebagai tanaman bernilai ekonomis tinggi. Kampungnya dari Kota Bogor memang masih agak jauh. Naik angkot sekitar 1,5 sampai 2 jam atau lebih. Tergantung macet tidaknya, dengan jalan naik berliku.

Nina yang pernah bekerja berpindah-pindah dari Tangerang, Lebakbilus, Cibinong dan terakhir Depok ini tidak ingin memanfaatkan heboh Rondho Bolong. Meskipun jika dia mau, bisa saja.

Dia tetap tekun bekerja sebagai ART. Dari kerja panjangnya sebagian penghasilan diberikan kedua orang tuanya. Sebagian untuk membiayai adiknya di pesantren dan sudah diwisuda Maret silam.

Totalnya menghabiskan dana Rp 10 juta. Meski banyak dia ikhlas membiayai pendidikan adiknya agar menjadi kebanggaan keluarga. Selain itu, dia juga berhasil membeli sebidang tanah. Tanpa memanfaatkan Rondho Bolong yang di kampungnya seperti rumput tumbuh liar itu. (*)


TAGS: janda bolong tanaman 

SHARE


'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini