dibentak-bos-galak-penyandang-disabilitas-ungkap-kisah-nyata-saat-melamar-kerjaDaliyo (kanan) bersama tim bersiap mementaskan drama pantomim. (wahyu nur asmani ew/koranbernas.id)


Wahyu Nur Asmani EW
Dibentak Bos Galak, Penyandang Disabilitas Ungkap Kisah Nyata Saat Melamar Kerja

SHARE

KORANBERNAS.ID, PURWOREJO -- Seorang penyandang disabilitas hanya duduk di kursi roda, dibentak-bentak oleh bos galak saat melamar pekerjaan.


Dia dianggap lemah serta tidak punya kemampuan sehingga tidak diterima bekerja di sebuah perusahaan. Penyandang disabilitas tersebut mentalnya turun. Dia pun menangisi nasibnya.


Ternyata, di dalam kehidupan sehari-hari masih ada penyandang disabilitas masih mendapat perlakuan kurang baik.

Gambaran itu terekam di dalam drama pantomim yang dipentaskan dalam rangka Peringatan Hari Disabilitas Internasional (HDI) 2022 tingkat Kecamatan Purwodadi, Kamis (1/12/2022),  di Pendopo Kecamatan Purwodadi Kabupaten Purworejo Jawa Tengah.


Daliyo selaku Ketua Ikatan Disabilitas Purworejo (IDP) Kecamatan Purwodadi sebagai pemeran utama drama pantomin tersebut. Menurutnya, lakon drama tersebut adalah kisah nyata yang dialaminya.

Daliyo (36) sejak lahir memiliki dua kaki kecil dan tidak lurus serta jari-jari tangan kaku. Kesehariannya dia memakai kursi roda. Bicaranya tidak jelas.

"Setiap saya melamar pekerjaan selalu ditolak. Saya selalu direndahkan dan dianggap remeh. Padahal saya ingin sekali bisa bekerja," ujarnya kecewa.

Tak hanya kesulitan mendapatkan pekerjaan, dia juga kesulitan saat ingin terlibat aktif dalam pesta demokrasi Indonesia. Meskipun penyandang disabilitas dirinya ingin turut serta berpartisipasi dalam pemilihan umum (pemilu).

"Saya ingin dilibatkan dalam pesta demokrasi baik itu Pemilihan Legislatif, Pemilihan Gubernur maupun Pemilihan Presiden, tetapi tidak ada kesempatan. Tahun 2018 saat Pemilihan Gubernur Jawa Tengah, saya mendaftarkan sebagai panitia pemungutan suara di desa saya, tetapi tidak diterima, saya dianggap kurang cakap," sebut Daliyo.

Sebagai penyandang disabilitas dirinya masih merasa mendapatkan diskriminasi. "Saya masih merasa lingkungan belum ramah terhadap penyandang disabilitas," ucapnya prihatin.

Untuk menyambung hidup, Daliyo berjualan cemilan (makanan ringan) olahan penyandang disabilitas Kecamatan Purwodadi.

"Pada hari Minggu saya menjajakan produk-produk UMKM difabel Kecamatan Purwodadi di Pantai Jatimalang. Kadang jika ada event tertentu saya juga berusaha menjualkan produk temen-temen sesama difabel," terang lulusan SMP Yayasan Penyandang Anak Cacat (YPAC) Solo itu.

Dia mengaku hanya bisa berjualan pada waktu tertentu karena saat ini merawat orang tua (bapaknya) berumur 83 tahun.

Sebagai bungsu dari delapan bersaudara, Daliyo harus mengurus sang ayah sendiri karena saudara kandungnya berada jauh dari Purworejo. Dia mengucap syukur bisa bersekolah di YPAC Solo karena bisa mengusir rasa minder.

"Dulu saya selalu merasa minder, bisa teratasi setelah sekolah di YPAC Solo. Saya mengajak temen-temen sesama penyandang disabilitas jangan minder, semangat dan mandiri," ujar pria asal Desa Sidorejo Kecamatan Purwodadi tersebut.

Anggota Ikatan Disabilitas Kecamatan Purwodadi berfoto bersama Wabup Purworejo Yuli Hastuti, beserta jajarannya dan tamu undangan. (wahyu nur asmani ew/koranbernas.id)

Pada peringatan Hari Disabilitas Internasional tingkat Kecamatan Purwodadi bertema Kolaborasi Multi Stakeholder Menuju Pembangunan Inklusif Berkelanjutan, hadir Wakil Bupati (Wabup) Purworejo, Yuli Hastuti, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PPPAPMD) Laksamana Sakti, Dinas Sosial dan Forkompimca setempat.

Wabup mengatakan pihaknya memberikan dukungan terhadap kegiatan penyandang disabilitas.

"Pemerintah Kabupaten (Pemkab) dari awal harus komitmen, terutama anggaran Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan. Kegiatan apapun ditopang,” jelasnya.

Contoh, penyandang difabel Kecamatan Bagelen memproduksi roti, alat dibantu dari pemda dan Yakum.

"Untuk pelatihan difabel, pemerintah memberikan semangat dan difabelnya sendiri harus ada kemauan. Pemerintah akan memberikan pelatihan sampai final agar penyandang disabilitas mandiri," jelas wabup.

Camat Kecamatan Purwodadi Kabupaten Purworejo, Dwi Agung Nugraheni, juga mendukung kegiatan penyandang disabilitas yang beranggotakan sekitar 60 orang.

Di wilayah yang dipimpinnya terdapat tiga desa inklusi yaitu Desa Bragolan, Desa Kebonsari dan Desa Purwodadi.

"Berbagai kegiatan terkait dengan isu disabilitas sudah kami selenggarakan dengan dukungan dari berbagai pihak,” tambahnya.

Kegiatan peringatan Hari Disabilitas Internasional, lanjut dia, diharapkan dapat mendorong semua desa untuk bersama sama mendorong perwujudan desa inklusi sebagai salah satu program dalam Tujuan Pembangunan yang Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).

“Kami sangat berharap akan ada berbagai penguatan dari pihak desa untuk mengikutsertakan teman-teman disabilitas, memastikan adanya fasilitas dan alokasi anggaran yang ramah disabilitas,” terang Dwi.

M Aditya Setiawan selaku Kepala Bagian Program Rehabilitasi Holistik Pusat Rehabilitasi YAKKUM mengatakan telah bekerja sama dengan Pemkab Purworejo untuk penanganan disabilitas.

“Pusat Rehabilitasi YAKKUM telah lama bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Purworejo. Saat ini merupakan tahun kelima kami untuk melaksanakan program desa inklusif disabilitas di 25 desa untuk menjadi desa inklusif,” ujarnya.

Disertai dukungan dari berbagai pihak diharapkan peringatan HDI tahun ini menjadi langkah awal menjadikan Purworejo menjadi kabupaten yang lebih inklusif dan dapat menjadi contoh bagi kabupaten yang lain.

Pada kesempatan tersebut secara simbolis wabup menyerahkan bantuan kaki palsu kepada Ribut, seorang dari 60 penyandang disabilitas di Kabupaten Purworejo yang membutuhkan bantuan kaki palsu. (*)



SHARE
'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini