Kamis, 05 Agu 2021,


diduga-libatkan-isteri-anggota-dewan-peserta-arisan-hoki-datangi-kantor-partai-gerindraPeserta arisan Hoki mendatangi Kantor DPD Partai Gerindra DIY di Jalan Perintis Kemerdekaan, Jumat (11/6/2021). (sariyati wijaya/koranbernas.id)


Sariyati Wijaya
Diduga Libatkan Isteri Anggota Dewan, Peserta Arisan Hoki Datangi Kantor Partai Gerindra

SHARE

KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Belasan anggota peserta arisan Hoki yang didampingi kuasa hukumnya, Marhendra Handoko SH, mendatangi Kantor DPD Gerindra DIY di Jalan Perintis Kemerdekaan, Jumat (11/6/2021). Kedatangan mereka diterima Wakil Sekretaris DPD Gerindra DIY, Guntur P, dan Sekretaris DPC Gerindra Bantul, Darwinto.


Aksi ini merupakan lanjutan dari aksi sehari sebelumnya di PN Bantul setelah sidang mediasi gagal. Karena tergugat 1 yakni GP dan tergugat 2, Datin Wisnu Pranyoto (suami GP), tidak hadir di persidangan. Datin merupakan anggota DPRD Bantul dari Partai Gerindra, maka para peserta arisan ini mengadu ke kantor partai tersebut.


"Ibaratnya kami melempar ke semak-semak, jadi kami datang ke kantor Gerindra tempat dimana suami GP ini menjadi anggotanya. Harapanya, kami bisa dimediasi agar bisa bertemu dengan pihak GP dan suami untuk menyelesaikan kewajiban, mengingat para peserta sudah berusaha melakukan komunikasi mendatangi kediamannya namun tidak mendapat apa yang diharapkan," kata Marhendra.

Pihaknya hingga saat ini masih membuka kesempatan untuk menyelesaikan masalah arisan Hoki secara kekeluargaan. Artinya, kendati sudah ada gugatan yang dimasukkan ke Pengadilan Negeri Bantul akhir Mei lalu, gugatan tersebut bisa dicabut ketika tuntutan mereka dipenuhi.


Pada kesempatan tersebut, Putra menyampaikan aspirasi yang dibawa akan disampaikan kepada pimpinan di partai Gerindra. "Kami menampung aspirasi dari ibu-ibu sekalian peserta arisan dan kami akan siap untuk memfasilitasi pertemuan," katanya.

Juru bicara peserta arisan, Maria Yosefa Ayu, berharap agar uang arisan milik ibu-ibu yang nilainya total Rp 1,01 miliar tersebut bisa dibayarkan. Mengingat banyak di antara mereka memang ikut arisan karena ingin menabung dan ingin memperbaiki hidupnya.

“Ada juga yang ikut arisan agar punya uang untuk membayar kontrakan yang lebih layak dari sebelumya," katanya.

Demikian juga dikatakan Lumintu, pedagang sayuran asal Nitipuran, Ngestiharjo, Kasihan yang ikut arisan agar bisa menambah modal usaha dan memenuhi keperluan hidup keluarganya.

"Saya cari uangnya ya cuma dari dagang sayuran di pinggir jalan. Saya ikut arisan juga karena kenal bu GP ini karena satu kalurahan. Rumahnya tidak jauh dari saya. Mohon bayarkan uang kami," katanya.

Pembunuhan karakter

Sementara dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Datin Wisnu Pranyoto mengatakan jika terkait laporan ke Gerindra menurutnya salah. "Kalau mencari saya, itu salah. Karena saya bukan peserta," kata Datin.

Menurut Datin, yang menjadi peserta adalah isterinya, sehingga tidak ada kaitan dengan dirinya.

"Kenapa sudah ada upaya hukum di PN Bantul, kok tidak percaya akan dimediasi di situ? Kok malah ke kantor Gerindra. Itu pertanyaan buat saya. Dan saya menilai ini ada pembunuhan karakter buat saya," tegas Datin.

Dalam hal ini pun dia berhak membela diri. Terkait mediasi, dia akan hadir tanggal 22 juni nanti. Pada mediasi pertama tanggal 10 Juni lalu, dirinya memang ada kegiatan yang tidak bisa ditinggalkan. "Kalau tanggal 22 (Juni), saya siap," katanya.

Terkait kasus arisan Hoki, dirinya siap akan mengikuti proses hukum yang berlaku. "Isteri saya ini peserta arisan yang juga menjadi korban. Yang harusnya dilaporkan itu yang lari ada 8 orang," katanya.

Mengenai informasi isterinya mendapat keuntungan Rp 600 juta lebih, Datin menepisnya. "Itu dari mana uang segitu? Besok pada saatnya kita buktikan di pengadilan," tambahnya.

Soal arisan Hoki, Datin mengaku memang sudah menerima saat datang ke rumahnya. Dan menyampaikan persoalan member arisan itu akan akan disampaikan ke isterinya.

Seperti diberitakan sebelumnya, arisan Hoki dimulai April 2020. Teknis penawaran arisan dilakukan GP kepada peserta, di mana awalnya antar-peserta tidak saling mengenal. GP menawarkan baik secara langsung ke personal yang dia kenal maupun melalui media sosial. Sehingga peserta arisan bukan hanya di DIY, namun juga Jateng, Jakarta bahkan ada yang dari Sumatera.

Setelah mendapat member, GP kemudian membuat banyak room (grup) dengan nilai berbeda, di mana dalam arisan Hoki dikenal dengan nama Get, yakni uang yang harus diserahkan kepada peserta arisan oleh GP (putus arisan, red).

Nilai Get bervariasi, mulai Rp 1 juta hingga Rp 50 juta. Maka setoranya juga berbeda-beda. Begitu pula jangka waktu setoran, ada yang per tiga hari, mingguan, dua mingguan dan bulanan.

Saat masuk room, tiap peserta dikenakan biaya admin mulai Rp 400.000 hingga Rp 750.000 yang semua disetor ke rekening GP.

Pembayaran Get lancar dari April hingga September 2020. Setelah itu, tidak ada pembayaran lagi. Bahkan mulai Januari 2021, GP menghentikan arisan secara sepihak, padahal uang member sudah banyak yang disetor.

"Kami hitung keuntungan yang diraup GP dari uang admin dan selisih setoran arisan Rp 602,8 juta. Sebab, satu orang bisa ikut beberapa room," kata Maria Yosefa Ayu. (*)



SHARE



'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini