dinas-kebudayaan-diy-menyediakan-konverter-aksara-jawaSosialisasi perkembangan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 2 Tahun 2021 tentang Pemeliharaan dan Pengembangan Bahasa, Sastra, dan Aksara Jawa di Balai Desa Potorono, Kapanewon Banguntapan, Bantul. (muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)


Muhammad Zukhronnee Muslim
Dinas Kebudayaan DIY Menyediakan Konverter Aksara Jawa

SHARE

KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Sebagian masyarakat mungkin masih menganggap bahasa, sastra dan aksara Jawa sebagai pelengkap budaya, terlebih kalangan muda. Belum tampak ada rasa untuk memiliki, bahkan menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa, sastra, dan aksara Jawa sejauh ini masih dikenal secara terbatas oleh kalangan tertentu.


Yogyakarta sebagai daerah istimewa yang memiliki kebudayaan Jawa kental, bahasa, sastra, dan aksara Jawa sangat penting untuk terus dilestarikan. Demi membumikan itu semua di masyarakat, Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta mengadakan Sosialisasi perkembangan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 2 Tahun 2021 tentang Pemeliharaan dan Pengembangan Bahasa, Sastra, dan Aksara Jawa.


Kepala Seksi Bahasa dan Sastra Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta, Setya Amrih Prasaja menegaskan, bahwa aksara Jawa tak pernah mati, masih eksis digunakan dan dapat bersinergi dengan perkembangan teknologi terkini.

"Secara umum, kegiatan ini bertujuan untuk mendorong masyarakat dalam penggunaan bahasa, sastra, dan aksara Jawa dalam berkomunikasi, baik dalam bidang sosial, ekonomi, maupun budaya," terangnya dalam keterangan tertulis Senin (13/6/2022).


"Selain itu, tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mensosialisasikan penggunaan bahasa, sastra, dan aksara Jawa bagi seluruh elemen masyarakat di lintas generasi," lanjutnya.

Sosialisasi Perda yang diadakan di Balai Desa Potorono, Kapanewon Banguntapan, Bantul ini dihadiri anggota Komisi C Bidang Pembangunan DPRD DIY Ispriyatun Katir Triatmojo, Kepala Desa Potorono Prawata dan Titah Wulan Safitri selaku Praktisi Bahasa Jawa Dinas Kebudayaan DIY.

"Seturut berkembangnya teknologi, kini aksara Jawa mulai digunakan di ranah teknolohi. Salah satunya, memasukkan aksara Jawa dikonversi secara digital, sehingga dapat digunakan tidak hanya secara konvensional," papar Titah Wulan Safitri saat ditemui di lokasi sosialisasi.

"Pendekatan ini telah dilakukan oleh Dinas Kebuyaan DIY, karena anak-anak sekarang sangat erat dengan teknologi, gadget dan sosial media gitu. Ya kita harus masuk ke sana. Bahwa aksara Jawa juga bisa digunakan di platform media sosial, bisa juga digunakan untuk HP," lanjutnya.

"Kalau sudah seperti itu, diperkuat menjadi Perda, bahwa aksara Jawa itu harus ada di ranah sosial, bukan hanya ada di pelajaran bahasa Jawa di sekolah saja. Sudah terlihat di plakat-plakat pemerintah itu sudah menggunakan aksara Jawa, kop surat itu sudah menggunakan aksara Jawa," paparnya.

"Kalau tidak menggunakan digital itu dia nanti anak-anak sekarang kurang tertarik, apalagi kalau hanya cara mengajarkan aksara Jawa secara konvensional," imbuhnya.

Titah melanjutkan, apa yang sudah dilakukan Dinas sebenarnya sangat banyak, antara lain sudah tersedia inovasi konverter dari tulisan biasa menjadi aksara Jawa. Dengan konverter yang tersedia di laman Dinas Kebudayaan DIY atau di https://kongresaksarajawa.id/salinsaja/ melalui tautan tersebut pengunjung tidak lagi harus menulis aksara Jawa secara manual.

"Walaupun idealnya memang harus bisa menulis manual dan membaca aksara jawa, tapi dengan inovasi ini diharapkan mampu merangsang generasi sekarang untuk lebih mendalaminya," lanjutnya.

Kegiatan untuk melestarikan aksara Jawa pada era digital ini tidak meninggalkan yang konvensional. Pihaknya juga terus mengadakan pelatihan atau kompetisi penulisan aksara Jawa di kertas serta menghiasnya dengan kecakapan tangan.

Penting diketahui masyarakat luas, bahwa bahasa, sastra, dan aksara Jawa merupakan warisan budaya. Oleh sebab itu, ini menjadi hal yang penting diketahui dan dikuasai oleh masyarakat Jawa khususnya Yogyakarta.

Kegiatan ini mempunyai sasaran pada 60 (enam puluh) tempat di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Pelaksanaan kegiatan ini dimulai pada bulan Mei 2022 hingga berakhir pada Oktober 2022 dengan lokasi di Kabupaten Sleman, Kabupaten Bantul, Kabupaten Kulonprogo, Kabupaten Gunungkidul, dan Kota Yogyakarta.

"Dengan ini diharapkan seluruh elemen masyarakat dapat mengikuti kegiatan ini dan kegiatan ini mampu memberikan dampak positif bagi semua pihak," tutupnya. (*)



SHARE
'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini