giat-berliterasi-hindari-keterpurukanFL Agung Hartono (istimewa).


---
Giat Berliterasi Hindari Keterpurukan

Oleh: FL. Agung Hartono
SHARE

BELAKANGAN ini atmosfer kehidupan kita riuh oleh berita-berita tentang masyarakat yang tertipu oleh investasi bodong. Agaknya motif ekonomi dalam rupa ingin hidup kaya mendadak menjadi “magnet”,  mengapa masyarakat berbondong-bondong rela menanamkan uangnya di tempat investasi yang keberadaannya atau legalitasnya dalam  tanda kutip “diragukan”.


Mendengar kabar tentang maraknya masyarakat yang menjadi korban penipuan, selain mengundang rasa prihatin beberapa kalangan mengaku speechless--meminjam istilah dalam bahasa gaul artinya bungkam atau tidak bisa bicara. Sebuah ungkapan seseorang akan rasa kaget terhadap sesuatu, sampai tidak bisa berkata-kata.


Agaknya logis jika speechless, mengingat korban penipuan itu selain berduit tentu tidak sedikit dari mereka berasal dari kalangan terdidik. Beberapa di antaranya akrab dengan pendidikan tinggi. Pertanyaan mengapa sampai jadi korban penipuan?

Menurut penulis, selain dipengaruhi hasrat besar berupa motif ekonomi, terbatasnya akses informasi perihal cara berinvestasi yang aman memberi pengaruh minimnya pengetahuan masyarakat akan informasi yang valid atau akurat tentang konten yang menyangkut tata cara berinvestasi. Pendek kata, kemampuan literasi-dalam hal mengakses bacaan (informasi) yang mengangkat topik atau isu tertentu, masih sangat minim. Masyarakat kita masih terbiasa menggantungkan informasi dari platform-platform digital di telepon pintarnya ketimbang misalnya mencari sumber referensi yang jelas dan terpercaya lewat media buku atau e-book.


Pada sisi lain, informasi saat ini kian tumpah ruah dan masyarakat kesulitan membedakan mana informasi berkuaitas dan mana informasi yang cenderung hoaks atau kabar bohong. Pada aspek ini, kemampuan masyarakat untuk berliterasi menjadi penting agar cerdas dan cermat memilih dan memilah informasi.

Banyak definisi tentang literasi. Pun dalam literasi sendiri dikenal beragam jenis setidaknya ada enam jenis, yakni literasi baca dan tulis, numerasi, sains, digital, budaya dan finansial. Dari ragam pengertian literasi itu, substansinya menyebutkan literasi sebagai kemampuan dalam diri seseorang untuk menulis dan membaca. Dalam konteks yang lebih luas, keaktifan membaca dan menulis itu akan menambah pengetahuan dan ketrampilan, berpikir kritis dalam memecahkan masalah, serta kemampuan berkomunikasi secara efektif yang dapat mengembangkan potensi dan berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat.

Hulu sampai Hilir

Dalam literasi dikenal 4 (empat) tingkatan literasi. Yakni mengumpulkan bahan bacaan, memahami, mengemukakan ide atau gagasan baru teori baru, dan kreativitas serta inovasi baru serta kemampuan menciptakan barang atau jasa yang bermutu.

Literasi yang berkaitan dengan aktivtas membaca dan menulis sampai kini masih dihadapkan pada dua sisi permasalahan. Pertama dalam sisi hulu, yaitu penulisan, penerbitan, distribusi, dan regulasi. Kedua dari sisi hilir, yakni rendahnya kegemaran membaca, rendahnya indeks literasi, ketimpangan rasio buku dan jumlah penduduk, anggaran terbatas, dan kurangnya pustakawan.

Peran Pustakawan

Pustakawan sebagai tenaga yang profesional sangat dibutuhkan perannya untuk mengurai satu persatu permasalahan di atas. Salah satu kegiatan yang dapat dilakukan yakni dengan cara ceramah, konseling, penyebaran buku panduan, pamflet, brosur maupun cara promosi. Pustakawan memiliki peran strategis di tengah masyarakat untuk ‘membumikan’ kegiatan berliterasi, mengingat tingkat literasi memiliki hubungan vertikal akan kualitas suatu bangsa.

Masih dalam suasana pandemi, pustakawan harus melakukan inovasi layanan. Salah satunya dengan mengoptimalkan pelayanan jasa virtual perpustakaan, mengingat saat ini banyak berita palsu yang beredar membuat masyarakat membutuhkan sumber informasi yang terpercaya lewat jasa layanan perpustakaan. Pustakawan juga memiliki fungsi penting lain, yakni sebagai sebagai agen literasi penyedia informasi. Misalnya kaitannya dengan isu korban penipuan yang berkedok investasi tersebut, pustakawan harus proaktif menghadirkan konten informasi dari sumber terpercaya dan konten informasi itu disertai  pendapat para pakar di bidang investasi, sehingga masyarakat mendapatkan informasi yang komprehensif tentang masalah investasi.

Inovasi layanan yang demikian merupakan salah satu wujud pustakawan berkontribusi menghadirkan transformasi perpustakaan. Kini perpustakaan tidak sekadar tempat menyimpan dan mengelola koleksi bahan pustaka saja, melainkan sesuai perkembangan zaman, perpustakaan hadir sebagai penyedia informasi digital yang terpercaya dan dapat mencerdaskan dan mencerahkan masyarakat.

Kegemaran berliterasi berpengaruh kepada cara berfikir, bertindak dan berperilaku seseorang. Orang yang memiliki referensi yang cukup tentu tidak akan mudah menerima informasi atau ajakan yang menjerumuskan atau malah membuat jadi terpuruk kehidupannya. Jadi mari giat berliterasi! *

FL. Agung Hartono, S.Sos

Pustakawan Ahli Muda ISI Yogyakarta



SHARE
'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini