industri-percetakan-menggeliat-tiga-juta-buku-dikirim-ke-daerah-3tPelepasan tiga juta buku untuk daeran 3T dalam rangkan Gerakan Literasi Nasional di PT Macananjaya, Klaten, Jawa Tengah.


Muhammad Zukhronnee Muslim
Industri Percetakan Menggeliat, Tiga Juta Buku Dikirim ke Daerah 3T

SHARE

KORANBERNAS.ID,KLATEN - Pandemi Covid-19 merubah ruang belajar ke teknologi virtual. Pembelajaran yang sebelumnya bertatap muka berubah dengan pertemuan dalam aplikasi zoom, google meet dan sebagainya. Kondisi ini membuat menurunnya penjualan buku pelajaran yang akhirnya berimbas kepada industri penerbitan dan percetakan.


Melonggarnya kebijakan PPKM seiring menurunnya kasus positif Covid-19 membuat sekolah tatap muka kini bisa dilaksanakan. Kebijakan ini memberi angin segar bagi industri termasuk pariwisata dan industri pendukung sekolah baik penjualan seragam hingga buku pelajaran.


"Dengan kondisi sekarang yang mulai membaik ini, usaha kami naik 40 hingga 50 persen dibanding tahun sebelumnya," kata Andika Tri Anggono Yakti, Direktur utama PT Macananjaya saat ditemui di tempat usahanya.

Momentum kebangkitan ini pula disertai dengan memberikan dukungan penuh kepada rogram Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) untuk Gerakan Literasi Nasional (GLN) yaitu mengirim tiga juta buku perdananya ke Kabupaten Lombok Utara pada Selasa (12/7/2022).


Buku-buku yang dicetak PT Macananjaya Cemerlang ini diperuntukkan  jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di wilayah NTT dan NTB tersebut akan dikirimkan ke 2.757 sekolah sebagai pengayaan pendukung Gerakan Literasi Nasional (GLN) Tahun Ajaran 2022.

"Buku-buku ini adalah buku pilihan yang sudah tepat dengan kebutuhan anak  sesuai dengan usia mereka. Baik dari pemilihan materi hingga kualitas kertas yang terbaik," imbuhnya.

GLN ini merupakan upaya untuk memperkuat sinergi antar unit utama pelaku gerakan literasi dengan menghimpun semua potensi dan memperluas keterlibatan publik dalam menumbuhkembangkan dan membudayakan literasi di Indonesia.

“Gerakan ini akan dilaksanakan secara menyeluruh dan serentak, mulai dari ranah keluarga sampai ke sekolah dan masyarakat di seluruh wilayah Indonesia. Meningkatkan literasi bangsa perlu dibingkai dalam sebuah gerakan nasional yang terintegrasi, tidak parsial, sendiri-sendiri, atau ditentukan oleh kelompok tertentu," lanjutnya.

Turut hadir dalam pelepasan kiriman buku untuk daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) tersebut antara lain Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra, Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi  Imam Budi Utomo,  Ir. Mohamat Basori selaku Vice President Project, Bidding and Collection Management.

Sementara Humas PT Macananjaya Aditya menambahkan, gerakan literasi tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga tanggung jawab semua pemangku kepentingan termasuk dunia usaha, perguruan tinggi, organisasi sosial, pegiat literasi, orang tua, dan masyarakat.

“Oleh karena itu, pelibatan publik dalam setiap kegiatan literasi menjadi sangat penting un memastikan dampak positif dari gerakan peningkatan daya saing bangsa,” ujarnya.

Perlu diketahui, sejak tahun 2016 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menggiatkan Gerak: Literasi Nasional (GLN) sebagai bagian dari implementasi dari Peraturan Menteri Pendidikan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti.

Menurut Andika, Gerakan Literasi Masyarakat, sudah lama dikembangkan Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (Ditjen PAUD Dikmas) sebagai tindak lanjut dari program pemberantasan buta aksara yang mendapatkan penghargaan UNESCO pada tahun 2012.

"Angka melek aksara sebesar 96,51 persen. Sejak tahun 2015 Ditien PAUD Dikmas juga menggerakkan literasi keluarga dalam rangka pemberdayaan keluarga meningkatkan minat baca anak," jelasnya.

Bersamaan dengan itu, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah juga mengembangkan Gerakan Literasi Sekolah untuk meningkatkan daya baca siswa dan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menggerakkan literasi bangsa dengan menerbitkan buku-buku pendukung bagi siswa yang berbasis pada kearifan lokal.

Pada tahun 2017 lalu, Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) menggagas Gerakan Satu Guru Satu Buku untuk meningkatkan kompetensi dan kinerja guru dalam pembelajaran baca dan tulis.(*)



SHARE
'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini