ingin-hidup-bahagia-hindari-overekspose-di-sosial-mediaWebinar Ngobrol Bareng Legislator yang diselenggarakan Ditjen Aptika Kominfo bekerja sama dengan anggota Komisi DPR RI Fraksi PKS, Sukamta. (istimewa)


Siaran Pers
Ingin Hidup Bahagia? Hindari Over-Ekspose di Sosial Media

SHARE

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA – Anggota Komisi I DPR RI Fraksi PKS, Sukamta, menegaskan pada zaman digital sekarang ini perkembangan internet dan sosial media (sosmed) perlu disikapi secara bijak, supaya tidak berdampak serius bagi keluarga. Kata kuncinya, jika keluarga ingin hidup bahagia, sedapat mungkin hindari over-ekspose di sosmed.


“Manusia itu bukan mesin, jangan sampai diperbudak oleh mesin. Keluarga kita keluarga manusia, bukan keluarga mesin. Jangan sampai mesin merusak keluarga,” ucapnya saat menjadi narasumber  Webinar Ngobrol Bareng Legislator yang diselenggarakan Direktorat Jenderal (Ditjen) Aplikasi Informatika (Aptika) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) RI bekerja sama Anggota Komisi DPR RI Fraksi PKS, Sukamta, Kamis (4/8/2022).

  • Pemimpin yang Berkelahi Contoh Buruk bagi Generasi Milenial
  • Revolusi Digital Berlangsung Kejam

  • Menurut Sukamta, over-ekspose kadang-kadang tidak membuat terlalu nyaman bahkan menjadikan orang tidak bisa happy atau bahagia.

    “Kadang-kadang, kita tidak tahu masalah itu lebih bahagia. Itulah salah satu hikmah Allah SWT membatasi pendengaran manusia. Coba bayangkan kalau kita bisa melihat dan mendengar semua kejadian dan memori kita tidak lupa, pasti stres. Kita ndak perlu informasi, dikasih informasi. Kita nggak perlu cerita dikasih cerita. Memori yang sudah lupa justru diingatkan,” kata Sukamta.

  • Generasi Milenial Lari Kencang, Pemerintah Ketinggalan
  • Yogyakarta Uji Coba Tanam Kopi di Lahan Perkotaan

  • Alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM) peraih gelar doktor Teknik Kimia dari universitas terkenal di Inggris itu mengingatkan, terlalu banyak membagikan informasi ke grup keluarga  bisa menjadikan anggota keluarga rentan stres.

    Dia mengakui, mayoritas keluarga di Indonesia terkoneksi internet dan menjadi pengguna sosial media. “Keluarga Indonesia gemar sosmed dan chatting. Mudah-mudahan, saya berharap sosmed dan chatting untuk kegiatan produktif, tetapi kadang-kadang tidak produktif,” kata dia.

    Berdasarkan survei, hampir 80 persen orang ketika memperoleh berita di sosmed dibagikan lagi ke orang orang yang dikenalnya, biasanya anngota keluarga dan saudara, karena merasa dirinya penting memperoleh informasi tersebut dan menganggap yang lain perlu mendapatkan yang serupa.

    “Terjadi perubahan fundamental tata cara kehidupan sosial. Keluarga juga mengalami perubahan fundamental. Gadget sudah seperti menggantikan peran jin, tak kelihatan tetapi dalam keyakinan Islam berinteraksi kuat dan berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari. Kira-kira begitulah, barangnya tidak kelihatan ternyata berpengaruh pada cara kita berinteraksi dan berkomunikasi sosial dalam sistem tatanan sosial,” paparnya.

    Dampak lainnya, anak-anak semakin intens berinteraksi dengan alat digital. Perilakunya berubah. Ini tantangan tersendiri. Di negara maju, banyak anak muda dari keluarga sukses ada satu-dua yang mengalami persoalan serius, penyendiri dan butuh bantuan.

    Webinar bertema Keluarga di Era Digital ini juga dihadiri narasumber Ustad Cahyadi Takariawan selaku Konselor Keluarga dan Penulis Buku, serta Dirjen Aptika Kominfo, Samuel A Pangerapan.

    Samuel menyampaikan, kegiatan ini untuk mewujudkan Indonesia semakin cakap digital. “Penggunaan teknologi perlu diimbangi literasi yang mumpuni. Tugas kita bersama adalah membekali masyarakat dengan kemampuan literasi digital untuk percepatan transformasi digital,” ujarnya.

    Disebutkan, peningkatan literasi digital masyarakat merupakan pekerjaan besar, karena itu, perlu kolaborasi agar tidak ada masyarakat yang tertinggal.

    Sedangkan Ustad Cahyadi Takariawan memaparkan pentingnya menjaga ketahanan keluarga pada era digital sekarang ini, jaga dirimu dan keluargamu dari api neraka.

    Poin utamanya adalah menjaga adab. Jangan sampai terjadi orang mengerti banyak tentang ilmu agama tetapi tidak memiliki adab. “Banyak orang pintar tetapi adabnya tak ada. Ajarkan adab pada anakmu,” ujarnya mengutip nasihat Ali bin Abi Thalib.

    Ustad Cahyadi sepakat, keluarga harus mampu menjadi benteng paling utama untuk menjaga dari keburukan-keburukan teknologi digital. Dalam kesempatan itu, peserta antara lain menanyakan bagaimana cara mengatasi anak-anak kecanduan gadget, bagaimana cara mengendalikannya. (*)


    TAGS: DPR  Kominfo 

    SHARE
    '

    BERITA TERKAIT


    Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

    Tulis Komentar disini