Jumat, 03 Des 2021,


jogja-cross-culture-2021-tampilkan-tonggaktonggak-peradaban-yogyakartaPoster publikasi Jogja Cross Culture. (istimewa)


Muhammad Zukhronnee Muslim
Jogja Cross Culture 2021 Tampilkan Tonggak-tonggak Peradaban Yogyakarta

SHARE

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Berbicara tentang Yogyakarta semestinya tidak lagi satu untai budaya tetapi sebuah taman, tempat bertebaran ragam aktivitas budaya yang mekar warna warni.


Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta mewakili Pemerintahan Kota Yogyakarta sebagai penggerak memulai langkah dengan membuka ruang diskusi dengan para seniman dan mengetuk jajaran stakeholder pemerintah kota ini.

  • Ari Lasso Bius Ribuan Penggemarnya
  • Menjadi Guru Milenial

  • “Dinas kebudayaan kota juga menggapit komunitas seniman-seniman Kota Yogyakarta untuk menyusun program Jogja Cross Culture (JCC)," kata Yetti Martanti, Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta, Selasa (9/11/2021).

    Kegiatan berbasis budaya ini mengusung pula semangat Gandeng Gendong yang diluncurkan oleh Pemerintah Kota Yogyakarta. Gandeng Gendong adalah perwujudan filosofi gotong royong berbagai elemen masyarakat yang terbagi menjadi 5K yaitu Kota, Kampung, Kampus, Komunitas dan Korporat.

  • Ribuan Orang Serbu Kawasan Tugu
  • Ribuan Tokoh Wayang Kumpul di Tugu Jogja

  • “Satu lagi elemen pembeda yang menuju keunikan Kota Yogyakarta adalah keberadaan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Pura Pakualaman. Titik tekan program ini adalah bagaimana kebudayaan ini hidup dan menghidupi,” sebutnya.

    Gerakan pembinaan dan penguatan budaya di kelompok-kelompok inilah yang sebenarnya menjadi vocal point. Istimewanya, di Kota Yogyakarta terjadi saling silang budaya dan semuanya mampu berkembang dan bersanding.

    “Inilah kemudian menciptakan sebuah melting pot budaya dalam satu kota. Tepat kiranya Kota Yogyakarta menjadi rumah budaya dan menuju kota budaya dunia," kata dia.

    JCC, lanjut Yetti, sejak awal dikonsep menjadi gerakan budaya di seluruh elemen masyarakat. Dalam membidani program ini, terbentuk kesadaran bahwa budaya bukanlah sebuah komoditas. Budaya adalah sebuah cara hidup yang tumbuh dan berkembang pada sebuah kelompok dan di wariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

    Inisiasi ini pun telah melalui proses inkubasi di dapur Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta yang jalin-menjalin dengan kelompok seniman yang bergabung dengan nama Hamongdaya. Konsep jalinan ini menyepakati sebuah partnership sebagai perwujudan semangat Gandeng Gendong dalam menjalani misi kota Jogja sebagai Kota Budaya Dunia.

    Dalam segala keterbatasannya JCC 2021 dihadirkan dalam kemasan indoor performance dan ditayangkan secara daring di kanal youtube Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayaan) Kota Yogyakarta dan Jogja Cross Culture pada 10 November 2021 pukul 19:45.

    Keterlibatan potensi seni budaya wilayah yang dikolaborasikan bersama koreografer muda Kota Yogyakarta menjadi highlight program JCC 2021 ini. Hasil kolaborasi ini dikemas dalam bentuk sajian indoor carnival yang mengangkat cerita Story of Jogja.

    Yetti menjelaskan Story of Jogja merupakan rangkaian penggambaran tonggak-tonggak peristiwa yang menjadi sejarah peradaban di Yogyakarta sejak jaman prasejarah hingga tumbuhnya peradaban luhur nenek moyang, berdirinya peradaban Mataram hingga Ngayogyakarta, sampai dengan revolusi, reformasi dan tantangan pandemi global.

    Sajian ini terbagi tiga segmen pertunjukan yang menghadirkan penampil dari potensi seni 14 Kemantren se-Kota Yogyakarta yang berkolaborasi dengan 14 koreografer muda kota ini.

    Adapun pembagian adegan:

    Segmen 1 dengan judul Jawa Semesta.

    Kemantren Keraton dengan judul scene Jogja Purwa.

    Kemantren Mantrijeron dengan judul scene Arca Dwipa.

    Kemantren Umbulharjo dengan judul scene Pralaya.

    Kemantren Kotagede dengan judul scene Tanah Air.

    Kemantren Ngampilan dengan judul scene Jaya Raya.

    Segman 2 dengan judul Kertaning Yogya:

    Kemantren Gondokusuman dengan judul scene Boyongan Nagari.

    Kemantren Mergangsan dengan judul scene Sangkan Paraning Dumadi,

    Kemantren Tegalrejo dengan judul scene Baluwarti Tanjung Anom,

    Kemantren Wirobrajan dengan judul scene Sedumuk Bathuk Senyari Bumi,

    Kemantren Gedongtengen dengan judul scene Kerta Raharjaning Praja

    Segmen 3 dengan judul Yogya Tumuwuh:

    Kemantren Pakualaman dengan judul scene Yogyakarta Handayani.

    Kemantren Jetis dengan judul scene Jiwa Jawi Mardika.

    Kemantren Danurejan dengan judul scene Owah Gingsir.

    Kemantren Gondomanan dengan judul scene Yogya Tanggap Tanggon.

    Selain menyajikan Story of Jogja, JCC 2021 juga menampilkan sebuah karya video kompilasi tari dari para partisipan yang berada di luar negeri. Di antaranya dari Malaysia, Thailand, Hong Kong, Turki, Australia, New Caledonia, Canada dan Rusia.

    Partisipan ini juga merupakan kolaborasi antara seniman tari asing dan juga seniman tari Kota Yogyakarta yang sedang berada di luar negeri. Sajian kompilasi video tari ini juga melibatkan kolaborasi dengan musisi dan videografer yang berada di Jogja.

    Karya kolaborasi ini bertajuk Jogja Journey.

    JCC 2021 juga menjadi ajang berkarya seniman lintas komunitas dan disiplin ilmu seni, lewat 4 karya commission work masing-masing bertajuk Bang Bintulu, Binar, Oasis dan Alive. (adv)



    SHARE



    '

    BERITA TERKAIT


    Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

    Tulis Komentar disini