Kamis, 27 Jan 2022,


jogja-tempat-paling-ideal-dirikan-startupHari Santosa Sungkari (dua dari kanan) menyampaikan keterangan pers di sela-sela gelaran Bekraf Developer Day 2018, Sabtu (03/11/2018). (sholihul hadi/koranbernas.id)


sholihul
Jogja Tempat Paling Ideal Dirikan Startup

SHARE

KORANBERNAS.ID – Ballroom Hotel Sheraton Mustika Yogyakarta Resort & Spa, Sabtu (03/11/2018) siang, dipenuhi 1.200-an anak-anak muda. Dengan smartphone di tangannya masing-masing, mereka begitu antusias mengikuti gelaran Bekraf Developer Day (BDD) 2018.


Peserta dari Yogyakarta, Solo, Semarang ini tampak bersemangat mengikuti talkshow dan sharing session dengan para pakar maupun pelaku industri kreatif digital.

  • Sendratari Ramayana Candi Prambanan Tampil di Desa
  • Penampilan Ki Seno Nugroho Puncaki Dies Natalis ke-17 Stipram Yogyakarta

  • Sebagai kota ke-enam penyelenggaraan BDD setelah Batam, Jayapura, Surabaya, Makassar dan Balikpapan, posisi Yogyakarta semakin kuat sebagai tempat berkumpulnya anak-anak muda yang memiliki keahlian teknologi digital.

    Tak hanya berjejuluk Kota Budaya, Kota Pariwisata, Kota Pendidikan, Yogyakarta juga dinilai sebagai kota yang paling ideal untuk mendirikan startup atau perusahaan rintisan.

  • Giliran Perum Taman Cemara Disasar
  • Sedekah Oksigen di Antara Bangunan Beton

  • Deputi Infrastruktur Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Hari Santosa Sungkari, juga mengakui Yogyakarta banyak menyimpan anak-anak muda yang memiliki talenta di bidang kreatif digital.

    Hal ini tidak terlepas dari tersedianya ekosistem pendukung yang memadai bagi tumbuhnya startup digital seperti pusat kreatif, coworking space serta inkubator dan akselerator.

    Anak-anak muda peserta BDD 2018 memenuhi Ballroom Hotel Sheraton Mustika Yogyakarta Resort & Spa. (sholihul hadi/koranbernas.id)

    Bekraf pun terus  berupaya mempertemukan para developer dengan startup dengan platform teknologi digital seperti Dicoding, Google, Samsung, IBM, Microsoft, Alcatel, LINE, Lintasarta, Tokopedia dan Go-jek.

    “Salah satu hasil Bekraf Developer Day ini adalah lahirnya para talenta berbakat dari Local Challenge,” kata Hari Santosa Sungkari.

    Di kota ini pula, banyak terdapat komunitas developer dan pelaku bisnis digital. Ada nama seperti GameLan, Creacle Studio, Qajoo Studio, Hicca Studio, Kulina dan Niji. Semua itu sudah berkontribusi positif bagi masyarakat lokal.

    Faktor lainnya, kata Hari, tersedianya fasilitas seperti Jogja Digital Valley (JDV) dan Digital Innovation Longue (DILo) Jogja.

    Inilah yang memunculkan bibit-bibit baru para developer di bidang aplikasi dan game. “Ekosistem digital inilah yang perlu didukung secara konsisten dan berkesinambungan,” ungkapnya.

    Dari rangkaian BDD, lebih jauh Hari menjelaskan, kesuksesan para pemenang Local Challenge yang diadakan Dicoding pada 2018 sudah melahirkan talenta-talenta baru developer bidang aplikasi mobile/PC dan games.

    Dari Local Challenge tersebut, Aming Anjas Asmara Pamungkas berhasil menciptakan antivirus lokal menggunakan visual basic dan menjadi pemenang Made in Papua.

    Kemudian, Zulqifli Hedrianto Tahir  mengembangkan Foodme sebuah aplikasi pesan antar makanan yang memudahkan pemilik gerai memasarkan makanan, sekaligus sebagai pemenang Made in Celebes.

    Ada lagi sosok Habib Abdullah Wahyudi yang menciptakan game PC offline bergenre FPS Survival Horror Zombie yaitu Our Last Stand: The Arena yang menjadi pemenang Made in Kalimantan. “Semangat dari Indonesia timur harus diikuti oleh developer di barat Indonesia,” ungkap dia.

    Bagi Bekraf, gelaran Bekraf Developer Day merupakan  komitmen lembaga itu dalam upaya pengembangan ekonomi kreatif berbasis digital.

    Talkshow dan sharing session dengan para pakar serta pelaku industri kreatif digital. (sholihul hadi/koranbernas.id)

    Menurut Hari, Bekraf Developer Day diadakan untuk menjembatani para developer dengan platform teknologi mutakhir untuk mengembangkan produk digital khususnya di bidang subsektor aplikasi, game dan web serta internet of things (IoT).

    Hal ini sejalan dengan tumbuh dan berkembangnya banyak startup yang berkualitas di Yogyakarta, Solo dan Semarang.

    Pada penyelenggaraan BDD 2018 ini hadir sejumlah pelaku, praktisi dan ahli industri kreatif digital tanah air. Terdapat nama-nama yang sudah tidak asing lagi di kalangan anak muda.

    Sebut saja Deny Prasetyo. Dia adalah Senior Software Engineer-Go-jek Indonesia (Go-Pau Division). Atau Android Developer at LOKET – Go-jek Group Danviero Yuzwan, CEO Educa Studio Najib Abdilah, CEO Wisageni Studio Rudu Sumarso maupun Educa Studio & GameLab Indonesia Andi Taru.

    Kemudian, Cloud and Enterprise Business Group Lead – Microsoft Yos Vincenzo, CEO Arsanesia Intel Game Innovator AGI, Ihwan Adam Ardisasmita, CEO Game Designer at Creacle Studio Gathot Fajar, Managing Director – Radya Labs Teknologi Puja Pramudya, Programmer Universitas Negeri Yogyakarta Soesapto Joeni Hantoro, Co-Founder CTO at Qiscus Evan Purnama serta COO Skyshi Digital Indonesia Rizqinova Putra Muliawan.

    Seperti halnya BDD sebelumnya di lima kota, pada BDD Jogja kali ini Bekraf juga menggandeng Dicoding Indonesia. Event ini pun memperoleh dukungan dari Asosiasi Game Indonesia, Dicoding Elite, Google Developer Expert, Intel Innovator, Komunitas ID-Android, Samsung Developer Warrior dan perusahaan-perusahaan teknologi lainnya di Indonesia.

    Bekraf merupakan lembaga pemerintah nonkementerian yang bertanggung jawab di bidang ekonomi kreatif. Lembaga ini dipimpin oleh Triawan Munaf.

    Kepala Biro Hukum dan Komunikasi Publik Bekraf, Mariaman Purba, menambahkan ekonomi kreatif memiliki peran penting bagi perekonomian nasional karena mampu menyumbang Pendapatan Domestik Bruto (PDB) hingga Rp 922,5 triliun pada 2016.

    Angka ini diprediksi terus naik setiap tahunnya sekitar 10 persen dan pada 2017 mencapai lebih dari Rp 1.000 triliun. (sol)



    SHARE



    '

    BERITA TERKAIT


    Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

    Tulis Komentar disini