Jumat, 17 Sep 2021,


kementan-dorong-perwujudan-25-juta-petani-milenialProgram perwujudkan petani milenial yang digagas Kementan RI. (istimewa)


Yvesta Putu Ayu Palupi
Kementan Dorong Perwujudan 2,5 juta Petani Milenial

SHARE

KORANBERNAS.ID,YOGYAKARTA -- Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong percepatan 2,5 juta petani milenial di Indonesia. Saat ini salah satu kendala utama sumber daya manusia (SDM) sektor pertanian adalah rendahnya produktivitas tenaga kerja.


Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) diketahui pada Kuartal III tahun 2019 produktivitas tenaga kerja sektor pertanian merupakan yang terendah dibandingkan sektor lainnya, yaitu hanya sebesar Rp10,7 juta per orang, nilai yang masih di bawah rata-rata produktivitas tenaga kerja nasional sebesar Rp 21,3 juta per orang.


Rendahnya produktivitas tenaga kerja sektor pertanian mencerminkan resultan antara tingkat output dan jumlah tenaga kerja di sektor ini. Artinya, tingkat output di sektor pertanian tidak terlalu besar disbanding sektor lain.

“Namun jumlah tenaga kerjanya merupakan yang terbanyak dibandingkan sektor lainnya. Dominannya sektor pertanian pada struktur tenaga kerja tidak diimbangi kualitas SDM di dalamnya,” ujar Dedi Nursyamsi, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), dalam jumpa pers virtual, Rabu (4/8/2021).


Kegiatan ini sebagai rangkaian persiapan pengukuhan 2.000 Duta Petani Milenial (DPM) dan Duta Petani Andalan (DPA) Pembangunan Pertanian yang tersebar di seluruh provinsi di Indonesiaa pada Jumat (6/8/2021) di Pusat Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian Ciawi Jawa Barat.

Menurut Dedi, sektor pertanian didominasi golongan tua dengan tingkat pendidikan yang rendah. Lebih dari 65 persen kepala keluarga rumah tangga usaha pertanian (KK RTUP) berusia lebih dari 45 tahun. Di sisi lain, regenerasi petani terus didorong percepatannya  oleh Kementan.

Persoalan ini membutuhkan kebijakan yang kuat untuk mendorong generasi milenial terlibat dalam sektor pertanian. Peluang keterlibatan generasi muda sebenarnya cukup besar mengingat Indonesia mengalami bonus demografi sejak tahun 2015.

“Bonus demografi dicirikan dengan dominannya jumlah penduduk usia produktif dibandingkan penduduk usia nonproduktif. Lebih dari itu, penduduk usia produktif juga didominasi oleh generasi milenial yang mulai banyak terlibat dalam pemasaran produk pertanian,” tandasnya.

Generasi milenial tumbuh bersamaan dengan perkembangan teknologi informasi. Pada saat generasi milenial berada pada usia remaja, teknologi informasi berkembang sangat pesat. Dengan latar situasi teknologi seperti itu, generasi milenial memiliki ciri kreatif, inovatif, memiliki passion dan produktif.

Generasi ini melibatkan teknologi dalam segala aspek kehidupan sehingga mereka sangat dinamis dan ingin serba cepat dalam merealisasikan sesuatu. Pada sisi lain, generasi ini juga terbuka terhadap pemikiran baru, kritis, dan berani.

Oleh karena itu, generasi milenial dapat menciptakan peluang baru bisnis pertanian seiring dengan kebutuhan di masyarakat dan perkembangan teknologi yang semakin mutakhir.

Untuk menggaet bonus demografi generasi milenial, Kementan akan mengukuhkan 2.000 DPM dan DPA. Duta Petani Milenial dan Duta Petani Andalan dibentuk oleh Kementerian Pertanian dengan tujuan meningkatkan peran generasi muda dalam mengembangkan dan memajukan sektor pertanian.

Mereka memiliki bidang usaha yang sangat bervariasi seperti budidaya hortikultura, budidaya tanaman pangan, budidaya ternak, pengolahan hasil pertanian/ peternakan/perkebunan, jasa alat mesin pertanian hingga agroeduwisata.

Keberhasilan usaha dari DPM dan DPA diharapkan dapat memberikan motivasi kepada generasi milenial untuk terjun berusaha di bidang pertanian dan berkontribusi nyata dalam pembangunan pertanian.

Kiprah Duta Petani Milenial dan Duta Petani Andalan diyakini dapat menjadi pengungkit  regenerasi petani yang adaptif teknologi serta mewujudkan target 2,5 juta pengusaha pertanian mendukung ketahanan pangan nasional.

“Program ini beriringan dengan program Penumbuhan Wirausaha Muda Pertanian (PWMP), Pelatihan Kewirausahaan bagi Petani, Pendidikan Vokasi, Kostratani, Program IPDMIP dan Program YESS,” jelasnya. (*)



SHARE



'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini