Jumat, 23 Okt 2020,


kendala-dan-solusi-belajar-pada-masa-covid19Yudi Heriana Tantri (Foto: Koleksi Pribadi/Koran Bernas).


Yudi Heriana Tantri, M.Pd

Kendala dan Solusi Belajar pada Masa Covid-19


SHARE

DAMPAK penyebaran virus Corona kian pesat dengan terus bertambahnya kasus positif di masyarakat. Hingga saat ini di Indonesia sudah lebih dari 100.000 (seratus ribu) orang terkena virus Covid-19 dan di DIY sendiri saat ini sudah lebih dari 800 (delapan ratus) orang yang terkena wabah Covid-19 terhitung per Sabtu (15/08/ 2020), yang telah dikonfirmasi oleh pemerintah pusat. Hal itu sangat berdampak pada berbagai aspek kehidupan masyarakat, salah satunya adalah berkurangnya kegiatan di luar ruangan. Pemberlakuan new normal justru menambah banyaknya yang terkena virus Covid-19.

Terhitung Maret 2020, organisasi kesehatan dunia (WHO) menetapkan Corona Virus Disease (Covid-19) sebagai  pandemi (Sohrabi, et, al 2020) yang telah melanda lebih dari 200 negara di dunia. Sebagai langkah antisipasi penyebaran Covid-19, pemerintah Indonesia melakukan beberapa tindakan, mulai dari kampanya di rumah saja, social and physical distancing, pembatasan sosial berskala besar (PSBB), hingga pembelajaran mulai dari tingkat TK sampai dengan Peruruan Tinggi melalui pembelajaran Daring (online). Kebijakan-kebijakan tersebut, dengan tujuan agar masyarakat tetap berada di rumah, bekerja, belajar dan beribadah di rumah.


Baca Lainnya :

Kondisi ini memberi dampak secara langsung pada dunia pendidikan. Lembaga pendidikan formal, informal dan nonformal menutup pembelajaran tatap muka dan beralih dengan pembelajaran daring (online). Peralihan pembelajaran, dari yang semula tatap muka menjadi pembelajaran daring memunculkan banyak hambatan bagi guru, mengingat hal ini terjadi secara mendadak tanpa adanya persiapan sebelumnya.

Pembelajaran secara daring merupakan cara baru dalam proses belajar mengajar yang memanfaatkan perangkat elektronik, khususnya internet dalam penyampaian belajar. Pembelajaran daring, sepenuhnya bergantung pada akses jaringan internet. Menurut Imania (2019) pembelajaran daring merupakan bentuk penyampaian pembelajaran konvensional yang dituangkan pada format digital melalui internet. Pembelajaran daring, dianggap menjadi satu-satunya media penyampai materi antara guru dan siswa, dalam masa darurat pandemi.


Baca Lainnya :

Bagi guru sekolah dasar yang terbiasa melakukan pembelajaran secara tatap muka, kondisi ini memunculkan ketidaksiapan persiapan pembelajaran. Perubahan yang terjadi secara cepat dan mendadak sebagai akibat penyebaran Covid-19 membuat semua orang dipaksa untuk melek teknologi. Melalui teknologi inilah satu-satunya jembatan yang dapat menghubungkan guru dan siswa dalam pembelajaran tanpa harus tatap muka.

Pada kegiatan pembelajaran tatap muka, media pembelajaran dapat berupa orang, benda-benda sekitar, lingkungan dan segala sesuatu yang dapat digunakan guru sebagai perantara menyampaikan materi pelajaran. Hal tersebut akan menjadi berbeda ketika pembelajaran dilaksanakan secara daring. Semua media atau alat yang dapat guru hadirkan secara nyata, berubah menjadi media visual karena keterbatasan jarak. Pembelajaran daring dapat dilakukan dengan menggabungkan beberapa jenis sumber belajar seperti dokumen, gambar,  video, audio dalam pembelajaran. Materi belajar tersebut dapat dimanfaatkan siswa dengan melihat atau membaca. Sumber belajar seperti inilah yang menjadi modal utama dalam mengembangkan pembelajaran daring. Karena, jika guru mengemas pembelajaran semenarik mungkin dan sesuai dengan karakteristik siswa, maka tujuan pembelajaran dapat tercapai meskipun dalam kegiatan daring.

Pembelajaran secara daring, menimbulkan beberapa hambatan yang harus dikaji guna kelancaran pembelajaran daring. Menurut Syah (2013) faktor psikologis yang berasal dari luar siswa berpengaruh pada kegiatan belajar siswa. Oleh karena itu, maka perlu dilakukan penelitian mengenai kendala pembelajaran daring bagi guru sekolah dasar. Proses belajar mengajar di sekolah dasar yang terjadi secara daring pada masa pademi Covid-19 menjadi hal yang baru dan menantang bagi kalangan guru. Jika dilihat secara sekilas, pembelajaran secara daring nampak begitu mudah. Ketika siswa dan guru memiliki HP atau laptop serta jaringan internet, maka pembelajaran dapat dilaksanakan. Namun, faktanya ketika pembelajaran dengan model daring dilaksanakan, mulai muncul masalah-masalah dan kendala-kendala baru terkait pelaksanaan pembelajaran secara daring baik oleh guru, orang tua wali dan siswa itu sendiri.

Pelaksanaan pembelajaran daring yang dinilai mendadak akibat pandemi yang melanda hampir di lebih dari 200 negara, mau tidak mau memaksa guru untuk beralih menggunakan internet sebagai satu-satunya sarana yang memungkinkan untuk penyampaian materi pembelajaran. Hal inilah yang menjadi kendala bagi guru sekolah dasar, karena guru belum memiliki kesiapan dari pembelajaran tatap muka ke pembelajaran daring. Baik dari sekolah atau dinas pendidikan belum memberikan pelatihan tentang penggunaan aplikasi pendukung pembelajaran daring. Sebelum menentukan aplikasi yang digunakan, guru berdiskusi dengan wali murid untuk menentukan aplikasi yang akan digunakan, dengan memperhatikan kemudahan penggunaan.

Dalam pembelajaran daring, guru lebih memilih aplikasi Whatsapp sebagai sarana pembelajaran daring. Guna memantau perkembangan belajar siswa, setiap guru memiliki grup kelas yang digunakan untuk melaksanakan dan memantau pembelajaran daring. Melalui penggunaan aplikasi Whatsapp guru dapat mengirimkan berbagai macam tugas, dengan berbagai format dokumen, mulai dari Ms. Word, Ms. Power Point, link video, pesan suara, dan lain sebagainya. Selain melakukan pembelajaran daring menggunakan Whatsapp, guru juga meminta siswa untuk senantiasa memanfaatkan portal rumah belajar yang disediakan oleh Kemendikbud melalui siaran televisi sebagai sarana pembelajaran daring.

Dalam pembelajaran daring juga kebutuhan koneksi internet menjadi hal yang sangat penting dalam pelaksanaan pembelajaran daring. Namun kenyataan di lapangan membuktikan bahwa banyak masyarakat yang mengeluhkan jaringan internet. Minimnya akses jaringan internet tidak hanya dialami oleh masyarakat yang tinggal di daerah tertinggal, terdepan dan sosial media Whatsapp Google Classroom Email lainnya berdasarkan  kegiatan pembelajaran daring tidak sedikit baik guru maupun siswa mengalami kendala baik jaringan maupun kendala perekonomian bagi masyarakat yang kurang mampu.  Kemudahan penggunaan aplikasi Whatsapp bagi kalangan guru dan walimurid, akan terhambat jika jaringan di sekitar rumah siswa dan guru mengalami gangguan. Akibatnya materi pembelajaran yang diberikan oleh guru juga menjadi terhambat dan terlambat. Beberapa guru berpendapat, jika hanya mengirim pesan berupa teks, lebih mudah dibandingkan dengan mengirim pesan berupa gambar atau video. Begitu juga dengan walimurid, mereka mengeluhkan hal yang sama. Selain itu, beberapa siswa di daerah pedesaan yang kondisi keluarganya pas-pasan, tidak memiliki akses untuk pembelajaran daring, juga menjadi kendala yang sering ditemui guru.

Guna menyiasati kendala jaringan tersebut, guru juga memanfaatkan portal kegiatan belajar yang disediakan Kemendikbud melalui siaran televisi.

Pengelolaan pembelajaran berdasarkan UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menjelaskan, bahwa salah satu kemampuan yang harus dikuasai bagi guru yaitu kemampuan pedagogik. Kemampuan ini memungkinkan guru untuk mengelola, mengorganisasi pembelajaran. Kemampuan peng-organisasian mempersyaratkan seorang guru agar dapat mengurutkan materi yang disampaikan secara logis, sehingga keterkaitan antara topik satu dengan yang lain jelas.

Ketika pembelajaran berlangsung secara tatap muka, guru sudah terbiasa untuk melakukan pengorganisasian pembelajaran. Namun, hal yang menjadi kendala, ketika pembelajaran berlangsung secara daring, guru harus memilih materi pembelajaran dengan ekstra, agar tidak terjadi miskonsepsi antara guru dan walimurid atau siswa ketika mempelajari materi. Di sisi lain, guru juga harus melihat ketercapaian kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa. Sehingga pembuatanmateri ketika pembelajaran dilakukan secara daring harus dilakukan dengan maksimal.

Selain itu kegiatan pembelajaran daring yang secara mendadak mengubah teknik penilaian yang dilakukan guru. Berdasarkan kurikulum 2013, penilaian kegiatan pembelajaran meliputi aspek afektif, kognitif dan psikomotor. Menurut Anderson (2003) terdapat tiga prinsip dalam penilaian pembelajaran, yaitu bermakna, transparansi dan adil. Ketiga prinsip tersebut tidak dapat dipenuhi secara maksimal oleh guru. Terutama prinsip adil. Adil dalam penilaian mempunyai makna bahwa setiap siswa mempunyai kesempatan yang sama dalam sistem penilaian., bukan berarti bahwa setiap siswa mendapatkan nilai yang sama, tetapi mendapatkan nilai yang sesuai dengan kemampuan belajar masing-masing. Fakta di lapangan menunjukkan, bahwa semua siswa memperoleh nilai maksimal ketika diberi soal. Hal tersebut menjadi pertanyaan bagi guru, apakah siswa benar-benar memahami materi atau siswa mendapatkan bantuan dari orang dewasa ketika mengerjakan tugas. Sehingga yang terjadi adalah guru tidak dapat menilai ketercapaian pembelajaran secara obyektif sesuai dengan kemampuan siswa. Dari sisi afektif, guru juga mengalami kesulitan dalam penilaian. Biasanya, penilaian afektif terjadi secara alamiah ketika siswa berinteraksi, berkomunikasi, dan bersosialisasi dengan teman. Adanya pembelajaran daring, menghilangkan sosialisasi siswa dengan siswa yang lain secara langsung. Sehingga menjadi kendala bagi guru dalam melakukan penilaian afektif.

Kegiatan pembelajaran daring akan  berjalan dengan lancar, jika siswa senantiasa mendapat pengawasan, baik dari guru maupun orangtua. Pengawasan orang tua fakta di lapangan menunjukkan, bahwa kegiatan pembelajaran daring, orangtua memberikan perhatian penuh terhadap anaknya. Namun seterusnya, pengawasan dari orang tua mulai berkurang. hal ini terjadi karena pada saat yang sama, orang tua siswa juga harus membagi waktu antara bekerja, mengurus rumah dan mengawasi belajar anak.  Sehingga yang terjadi adalah guru mengirimkan tugas dan orang tua mengirimkan hasil pekerjaan anak. Tanpa adanya pengawasan dalam belajarnya. Para orang tua berpendapat jika tugas sudah dikirmkan kepada guru, maka  selesai kegiatan belajar pada hari itu. Hal ini mengakibatkan terjadinya komunikasi searah, tanpa adanya pengawasan dalam belajar. Perubahan pebelajaran dari tatap muka menjadi daring yang terjadi secara mendadak, memunculkan berbagai macam respon dan kendala bagi dunia pendidikan di Indonesia, tak terkecuali guru yang merupakan ujung tombak pendidikan yang langsung berhadapan dengan siswa. Sejumlah guru mengalami kendala ketika melaksanakan pembelajaran daring di antaranya aplikasi pembelajaran,  pengelolaan pembelajaran, penilaian, dan pengawasan.

Berdasar pada kendala yang dialami tersebut, sebagai seorang guru, saya berharap semoga Virus Covid-19 ini segera berlalu dan dapat membangun fokus kegiatan belajar seperti sedia kala agar tidak menjadi beban bagi siswa, orang tua siswa dan guru. Semoga. **

Yudi Heriana Tantri, M.Pd

Guru SD N Puluhan Sedayau, Bantul


TAGS:

SHARE
'

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini