kisah-anak-tukang-becak-awalnya-ditertawakan-kini-keliling-ke-berbagai-negaraBudi Sarwono saat mengikuti pameran dagang di luar negeri. (istimewa)


Arie Giyarto
Kisah Anak Tukang Becak Awalnya Ditertawakan Kini Keliling ke Berbagai Negara

SHARE

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Cita-citanya bisa keliling berbagai negara, dulu ditertawakan banyak orang. Waktu itu, Budi Sarwono kecil dianggap wong edan atau gila. Wajar mereka tidak percaya. Karena ayahnya (maaf) tukang becak dan ibunya buruh nyuci. Tapi kalau Allah menghendaki, kun fayakun semua tidak ada yang tidak mungkin.


"Ternyata cita-cita saya terkabul. Saya sudah mendatangi berbagai negara untuk bisnis," kata pria kelahiran Yogyakarta 16 November 1969 yang kini tinggal di Bumen KG III/597 A, Kotagede Yogyakarta kepada koranbernas.id, Rabu (12/1/2022). Kini dia sudah mapan dengan konsepnya jualan sambil jalan-jalan.


Mengenakan kemeja putih dengan tutup kepala  blangkon khas Yogyakarta dengan mondholan-nya, Budi mengisahkan perjalanan "edan"nya itu.

Bukan jalan mulus tapi melalui  perjuangan sangat berat. Budi sangat bersemangat menuntut ilmu sebagaimana didorong ayahnya. Dia juga mencontoh mbah-nya yang sangat rajin mencatat semuanya dengan rapi setiap belanja, meski usianya sudah 80 tahun.


Kerasnya kehidupan membawa Budi saat kelas 3 SD tanpa rasa malu jualan es keliling di terminal Umbulharjo. Dagangannya diambil dari tetangga yang membuat es mambo. Ketika SMP dia diajak parkir juga di terminal.

Nah, siapa yang meliriknya? Tetapi anak muda itu menerimanya sebagai sebuah tantangan hidup yang harus dijalani dengan menjauhkan diri dari keluhan.  Waktu di STM Pembangunan dia aktif di organisasi pelajar.

Setelah terjun di masyarakat Budi aktif  di UKM (Usaha Kecil Menengah) dan koperasi. Di sinilah Budi banyak belajar tentang bisnis. Sampai terbuka kesempatan dia ikut bermain.

Awalnya karena Kotagede merupakan sentra berbagai kerajinan, mulai lah kaki melangkah. Awalnya pula dia ikut pameran di Suriname. Lalu melebar regional, kemudian melebar ke berbagai negara Eropa.

Budi Sarwono ketika berada di London. Siapa sangka? (istimewa)

Paling menarik  ke Suriname. Kenapa? "Tidak ada kendala bahasa karena di sana komunikasi dengan bahasa Indonesia maupun Jawa," kata Budi lagi.

Pasar pun makin terbuka ke Belanda, Prancis, Amerika Serikat dan berbagai negara Eropa sehingga mau tidak mau dia harus belajar bahasa  terutama bahasa Inggris.

Otodidak

Uniknya, dia belajar secara otodidak. Setiap kali memutar film, sepuluh kali dilakukannya.  Budi mencermati dan  menghafalkan dialognya hingga dia hafal secara perlahan. Di Prancis pun dia menggunakan bahasa Inggris meski masih tarzanan plus bahasa tubuh.

"Orang asing ke Indonesia banyak juga yang tidak faham bahasa Indonesia kan? Saya belajar dari sana," kata Budi.

Selain kerajinan, alat-alat rumah tangga sederhana ternyata banyak diminati. Seperti wajan aluminium produk UKM Sorosutan. Dalam lima hari pameran bisa laku Rp 30 juta. Juga cobek dan munthu banyak peminatnya.

Budi pernah mengirim pesanan empat kontainer gazebo. Dia ambil di Klaten Rp 3 juta, Budi menjual Rp 6 juta dan pemesan di Suriname menjual Rp 30 juta per unit. "Tapi mereka kan menanggung shipping, pajak, mencari buyer dan lain-lain," ujarnya.

Masih tentang selisih harga yang sangat banyak itu, pasar tampaknya lebih berminat gazebo dari bambu dibanding kayu karena di sana tidak ada bambu.

Dalam bisnis, komunikasi memegang peran penting. Jadi harus belajar speaking. Selain itu, juga jangan takut mencoba, jangan takut gagal pada awalnya. Baginya, memanfaatkan teknologi informasi  seperti Youtube sangat perlu.

Dia juga bergabung dalam Diaspora Jawa, orang-orang Jawa yang tinggal di luar negeri.

Dulu sebelum pandemi, omzetnya berkisar Rp 1,3 miliar sampai Rp 1,6 miliar per tahun. Sesudah pandemi ekspor dalam jumlah banyak belum dilakukan. Karena pada masa normal sewa kontainer antara 1,2 - 1,6  ribu US Dollar. Kini jauh berlipat ganda.

Barang yang sekarang diproduksi antara lain kerajinan kecil-kecil. Di antaranya aksesori keris terbuat dari aneka logam serta kayu rimo yang terkenal, banyak diminta oleh warga Malaysia dan Singapura.

Mengenakan blangkon strategi Budi Sarwono memunculkan kesan dan empati saat di luar negeri. (istimewa)

Dari kesempatan ikut pameran dan berjualan barang ke luar negeri, di antaranya negara-negara Asia. Lalu ke Suriname, Amsterdam, London,  New York dan lain-lain, tak hanya keuntungan materi yang dia dapat tetapi membuka jaringan bisnis menjadi sesuatu yang tak ternilai harganya. Sesudah zaman normal kembali, dia yakin bisnis yang digelutinya akan ramai lagi. Itu merupakan harapan ke depannya.

Memang tak cukup hanya berusaha ulet dan keras berbekal strategi yang dipelajari dari banyak pengalaman. Tapi juga berdoa kepada Allah. Dia sangat yakin, apa yang dia terima saat ini adalah karena rahmat dan hidayah Allah SWT tempat dia memohon.

Ingin mencoba? Harus ulet, tidak boleh putus asa. Boleh saja meniru jalan panjang yang telah dijalani Budi Sarwono dari nol. Penuh liku tetapi pada saatnya akan terasa manis. (*)



SHARE
'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini