Jumat, 03 Des 2021,


kisah-nila-rifatul-ulya-gadis-asal-ngawi-yang-nekat-demi-kuliah-gratisNila (baju hitam) dan Ega menyiapkan pesanan pembeli, Rabu (25/11/2021). Pukul 08:00 sudah habis, banyak pembeli kecelik. (arie giyarto/koranbernas.id)


Arie Giyarto
Kisah Nila Rifatul Ulya, Gadis Asal Ngawi yang Nekat Demi Kuliah Gratis

SHARE

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Banyak temannya menilai Nila Rifatul Ulya sangat nekat meski dilandasi semangat juang luar biasa. Bagaimana tidak, gadis muda remaja asal Paron Ngawi Jawa Timur ini meninggalkan kampung halamannya dengan satu tujuan, bisa kuliah gratis.


“Saya mendapat kabar Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) membuka kampus di Yogyakarta dan  gratis," kata gadis yang biasa disapa Nila, menjawab pertanyaan koranbernas.id di lapak dia membantu berjualan aneka jenang sisi barat Lapangan Sidokabul Kalurahan Sorosutan Yogyakarta bersama Fathika arau Ega, Rabu (25/11/2021) pagi.


Padahal dia belum pernah ke Yogyakarta dan tidak punya teman di Kota Gudeg ini. Berbekal restu orang tua dan uang Rp 400.000 Nila mengayunkan asa dan semangatnya yang membara.

Uang itu termasuk biaya naik bus. Bukan orang tua tidak mau membiayai, tapi kondisinya memang sedang berada pada titik terbawah. Ayahnya mencalonkan lurah untuk kedua kalinya tapi gagal. Semua hartanya habis, termasuk rumahnya.


Di Yogya dia langsung mencari kampus UNU di wilayah Sorosutan. Melewati wawancara dan kelengkapan administrasi, jadilah Nila salah seorang mahasiswi angkatan pertama tahun 2017 meski dia harus meninggalkan training kerja di sebuah pabrik sepatu yang baru dijalaninya separuh waktu.

Dia memilih Fakultas Industri Halal Prodi Agribisnis. Persoalan pertama yang muncul adalah di mana dia tinggal di Yogyakarta? Akhirnya bersama seorang mahasiswi baru lainnya, Nila diantar pihak universitas ke asrama mahasiswa UNU. Persoalan ke dua adalah bagaimana dia bisa membiayai hidup selama kuliah.

Nila yang semasa SMA belajar di pondok pesantren, yang kegiatannya mulai bangun tidur sampai tidur lagi terjadwal penuh disiplin serta mendidik para santri hidup sederhana, menggemblengnya menjadi pribadi tahan banting. Dia bekerja apa saja, yang penting halal dan barokah.

Pernah berjualan seblak, jagung susu keju yang populer di kalangan remaja, bekerja pada warung pecel lele maupun berjualan minuman keliling di Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta dan masih beberapa lagi.

"Warung pecel lelenya buka 24 jam dan saya dapat shift sore sampai menjelang tengah malam," kata dia. Pekerjaan ini lumayan berat, tetapi harus dijalani agar bisa bertahan hidup dan sebisa mungkin tidak mengganggu kuliahnya.

Alhamdulillah tetap bisa ikut kuliah meski pernah juga terlambat karena warung ramai pembeli dan pulang dinihari,” kata dia lagi.

Kontrakan dekat kampus

Di asrama Nila tidak tingggal lama. Masalahnya jauh dari kampus sehingga mobilitasnya sulit. Setelah bisa bekerja dan mendapat uang, Nila mencari kontrakan sederhana dekat kampus. Sewanya Rp 400.000 per bulan untuk dua orang, sehingga sebulan dia harus bayar Rp 200.000. Dan dari berbagai sumber penghasilan dia mampu.

Terakhir dia bekerja sama dengan Ega berjualan aneka bubur. Bubur sumsum, gempol dan biji salak dipatok harga Rp 3.000 dengan plastik, atau Rp 5.000 dengan cup.

Ega, penduduk Sudagaran ini tidak kalah uletnya. Dia yang memasak aneka jenangnya. Wanita yang semula bekerja sebagai tenaga administrasi honorer di sebuah SD, pilih mundur setelah kehamilannya dirasa memerlukan perhatian lebih.

Ega yang suka masak, kemudian berjualan bubur bayi secara online. Pernah pula jualan serabi kocor secara online tapi tidak lama. Karena prosesnya rumit menjaga adonan.  Menyusul aneka jenang, yang dijual online maupun langsung pembeli di lapangan Sidokabul.

Awalnya memang masih menunggu pembeli. Tetapi hari kelima, Rabu itu cukup laris manis. Lebih dari tujuh calon pembeli kecewa karena bubur habis. Padahal baru pukul 08:00. Berarti pasar sudah mulai terbuka.

Nila Rifatul Ulya melayani pembeli. (arie giyarto/koranbernas.id)

Bangun pukul 02:00

Kerja kuliner memang perlu banyak waktu dan tenaga. Untuk bisa menggelar dagangan pukul 05:30, Ega harus mulai kerja pukul 02:00 dinihari. Itu pun sebagian sudah dipersiapkan. Bulatan-bulatan gempol dan biji salak disiapkan sore atau malam, dimasukkan kulkas sehingga dinihari sudah bisa dimasak.

Pada hari pertama, Ega membawa dagangannya dengan keronjot di sepedanya. Tanpa pelindung, sehingga saat Yogyakarta diguyur hujan sepanjang malam hingga pagi Ega  tidak bisa jualan. Baru kemudian ada temannya yang menawarkan meja dan payung besarnya yang tidak terpakai. Jadilah dia aman dan berharap saat hujan pun, asal tidak deras tetap bisa berjualan.

Dari kerja kerasnya sambil momong anak semata wayangnya ini, berapa keuntungan yang bisa masuk kantongnya?

"Tidak mesti lah. Tergantung berapa bubur yang laku," kata Ega sambil tersenyum. Yang jelas bisa membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga dan jajan anaknya. Dari margin yang didapat, Ega bisa "menggaji" Nila Rp 350.000 per bulan.

Sebuah perjuangan hebat dari dua wanita. Nila sebagai anak pertama dari empat bersaudara ingin menjadi teladan bagi adik-adiknya. Dia ingin membuktikan bisa mandiri tanpa merepotkan orang tuanya. Nila kini sudah skripsi sehingga tidak lama lagi akan menjadi kebanggaan keluarga sederhana. Ayahnya kerja di bangunan dan ibunya di sawah. Selain itu, juga bisa memotivasi anak-anak muda untuk tidak malu berusaha mandiri meskipun dimulai dari paling bawah.

Ke depan zaman akan semakin sulit. Berbagai jenis pekerjaan akan hilang dilindas oleh teknologi. Dari berbagai mata kuliah yang memberikan pembelajaran bagaimana mengelola agribisnis dari hilir ke hulu ini bisa dipakai senjata menghadapi lapangan kerja yang diprediksikan akan semakin sulit.  Syukur bisa mandiri,  menciptakan kerja sendiri.

Sedang Ega juga merasa bangga bisa membantu suami yang bekerja sebagai satpam sebuah SD di kawasan Kemantren Kraton. Termasuk menjadi teladan bagi anaknya, betapa hidup adalah sebuah perjuangan. (*)


TAGS: Ngawi  UNU 

SHARE



'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini