koin-seribu-meningkatkan-implementasi-kurikulum-merdekaSuharja, S.Pd., M.Si. (istimewa)


---
Koin Seribu Meningkatkan Implementasi Kurikulum Merdeka

Oleh: Suharja
SHARE

DALAM ekosistem pendidikan di sekolah, kepala sekolah memiliki kedudukan yang strategis dalam pengembangan dan penerapan peran profesional  guru dalam pembelajaran. Terdapat hubungan causal causative  lahirnya sekolah hebat, karena hadirnya kepala sekolah  hebat. Kompetensi kepemimpinan kepala sekolah dalam pembelajaran menjadi kunci keberhasilan pendidikan di sekolah. Kompetensi dalam memimpin pengembangan lingkungan belajar, perencanaan dan pelaksanaan  proses belajar, refleksi dan perbaikan kualitas belajar yang berpihak pada murid serta melibatkan orang tua /wali murid sebagai pendamping dan sumber belajar, menjadi indikator-indikator keberhasilan pembelajaran  bagi tumbuh kembang murid sesuai dengan  kodrat alam, kodrat zaman dan kodrat keadaan.


Hadirnya  Kurikulum Merdeka dengan pembelajaran yang memerdekakan, pembelajaran berdefferensiasi dan  pembelajaran yang sesuai tingkat kebutuhan murid, menjadi akselerasi upaya pendidikan untuk mewujudkan Indonesia  maju, berdaulat, mandiri, dan berkepribadian pelajar Pancasila. Dalam makna yang lebih sempit,  pendidikan di  kelas, peran penting guru tak dapat disangkal. Ketika pintu-pintu kelas ditutup, pembelajaran klasikal terjadi, maka semua tergantung pada guru. Feedback to pupils, meta cognitive strategies, peer tutoring dan collaborative goup learning terbukti  bermakna positif bagi peran profesional guru berbiaya murah, yang terbukti keefektifannya.


Pembelajaran Berdiferensiasi

Pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran yang mengakomodir kebutuhan belajar murid. Guru memfasilitasi murid sesuai dengan kebutuhannya, karena setiap murid mempunyai karakteristik yang berbeda-beda, sehingga tidak bisa diberi perlakuan yang sama. Untuk dapat menerapkan pembelajaran berdiferensiasi di kelas, hal yang harus dilakukan oleh guru antara lain: (1) Melakukan pemetaan kebutuhan belajar berdasarkan tiga aspek, yaitu: kesiapan belajar, minat belajar, dan profil belajar murid (bisa dilakukan melalui wawancara, observasi, atau survey menggunakan angket) (2) Merencanakan pembelajaran berdiferensiasi berdasarkan hasil pemetaan (memberikan berbagai pilihan baik dari strategi, materi, maupun cara belajar) (3) Mengevaluasi dan  refleksi pembelajaran yang sudah berlangsung.


Menyadari pentingnya keefektifan pembelajaran  di kelas menjadi indikator jangka pendek suksesnya pendidikan di sekolah, maka kepala sekolah perlu melaksanakan inovasi kepemimpinan sekolah, dengan optimalisasi  berbagai asset/sumber daya yang ada di sekolah, sesuai dengan kebijakan pendidikan di daerah. Salah  satu inovasi yang dilakukan oleh Kepala SMA Negeri 2 Klaten dalam kepemimpinan sekolah adalah “Koin seribu untuk meningkatkan Kualitas Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) di SMA Negeri 2 Klaten”.

Penerapan Koin Seribu

Koin seribu adalah  kependekan dari Kolaborasi Internal, Satukan visi, misi, tujuan, Elaborasi pemahaman, Refleksi terbimbing, Inovasi, Berintegritas, Unggul dalam kompetensi dan karakter. Koin: Kolaborasi internal dilakukan dalam komunitas belajar kurikulum  merdeka dan komunitas belajar TIK pendukung IKM bagi guru  SMA Negeri 2 Klaten. Kolaborasi adalah proses bekerja sama untuk menelurkan gagasan atau ide dan menyelesaikan masalah secara bersama-sama menuju visi bersama  (www.catalystindonesia.id). Kolaborasi memiliki prinsip (1) keserasian dan keterpaduan (2) pemberdayaan (Subarsono, (2016). Ditambahkannya, ada 3 komponen dinamika collaborasi yaitu (1) Principle engagement (2) shared motivation dan (3) capacity for join action.

Kolaborasi internal sekolah merupakan penerapan merdeka belajar yang melayani pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan siswa sesuai dengan konteks keunggulan local (local wisdom) (Setiawan dkk, 2020). Kolaborasi internal sekolah adalah kolaborasi yang terjadi dalam masyarakat sekolah (kepala sekolah, Komite sekolah, guru, tenaga kependidikan, pelatih/pembimbing, dan Siswa).

Dalam hal ini kolaborasi internal, bukanlah sekadar saling berhubungan di antara warga sekolah semata, melainkan lebih dari itu memiliki makna yang lebih terarah pada optimalisasi proses pendidikan. Sekolah yang beroperasi secara kolaboratif melibatkan seluruh komponen profesional yang bersatu padu untuk belajar dalam komunitas mandiri dan saling mendukung  (self create community).

Penguatan dan peningkatan kompetensi  kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, pelatih/pembimbing dan siswa berjalan sepanjang waktu secara bergotong royong di sekolah. Setiap persoalan yang muncul di sekolah menjadi bahan belajar bersama, sehingga diselesaikan secara bersama pula. Dalam setiap proses  belajar yang dilakukan bermuara pada penyelesaian masalah pendidikan yang dihadapi sekolah. Ketika guru bekerja bersama, mereka berbagi keahlian, sehingga kapabilitasnya akan meningkat. Para guru  berubah ketika mereka memiliki kesempatan untuk berkolaborasi. Budaya sekolah  juga akan berubah seiring dengan perubahan kebiasaan yang terjadi pada guru. Budaya sekolah yang  positif  adalah kontributor utama  keberhasilan akademik siswa yang mengarah pada peningkatan efektifitas dan produktifitas sekolah (Setiawan dkk, 2020: 40)

Seribu; S, satukan visi, misi dan tujuan, dipimpin oleh oleh kepala sekolah dengan berbagai cara antara lain melalui (a) pembinaan, (b) diklat (IHT), (c) tutor sebaya guru terpilih (Toya Gurih) (d) pendampingan oleh tim guru pendamping, (e) monitoring dan evaluasi (Monev), Collegial Supervision (dengan coaching clinis tim dilakukan sebelum kegiatan) dan (f) tindak lanjut kegiatan  monev dan  supervisi. Kegiatan dilaksanakan secara luring dan daring dengan media WA, Zoom Meet, G-Meet, you tube dan media lain yang memungkinkan.

E, elaborasi pemahaman dilakukan dengan belajar mandiri, pemberian contoh, mentoring, FGD, IHT, serap aspirasi, pendampingan secara langsung dan tidak langsung.

R, refleksi terbimbing, dilaksanakan melalui pembinaan, diklat, pendampingan, FGD (Focus Group Discussion), mentoring, bimbingan langsung baik secara individu maupun kelompok oleh kepala sekolah,  wakil kepala sekolah, guru terpilih, komite pembelajaran;

I, Inovasi, penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya (gagasan, metode, atau alat). Dalam hal ini inovasi menggunakan prinsip amati, tiru dan modifikasi (ATM). Kepala sekolah mendukung untuk terjadinya inovasi melalui konsep DARE to be Defferent (berani tampil beda). DARE: Dream, Attitude, Relationship, Excellent. Inovasi diawali dari mimpi, memiliki sikap untuk mewujudkan mimpi,kita bina hubungan untuk mewujudkan mimpi untuk menjadi luar biasa, sehingga akhirnya bisa tampil beda.

Kegiatan ini dilakukan dengan pemberdayaan komunitas belajar melalui tutor sebaya guru terpilih dan pendampingan dengan pola dasar (1) Analisis kebutuhan (2) Fasilitasi kebutuhan belajar (3) Mencari narasumber (komite pembelajaran, toya gurih) (4) Menyelenggarakan kegiatan (5) Dokumentasi dan publikasi kegiatan (6) Pendampingan rekan sejawat dalam praktik baik di komunitas (7) monev, refleksi dan tindaklanjut.

B, Berintegritas, bertindak secara konsisten antara apa yang dikatakan dengan tingkah lakunya sesuai nilai-nilai unggul yang dianut oleh seorang guru yang inovatif dalam pembelajaran.

U, Unggul dalam kompetensi dan karakter. Diharapkan hasil akhir kegiatan ini adalah siswa yang unggul dalam kompetensi dan karakter pelajar Pancasila sesuai dengan tujuan pembelajaran yang disusun oleh guru.

Implementasi Koin seribu, dalam pengelolaan  SMA Negeri 2 Klaten dilakukan melalui tahapan (1) perencanaan (a) identifikasi (b) serap aspirasi (c) pembentukan tim (d) sosialisasi dan koordinasi. (2) Pelaksanaan (implementasi). (3) Evaluasi dan refleksi (didasarkan analisis proses dan hasil). (4). Perbaikan berkelanjutan yang didasari sikap teladan, komitment terhadap tugas, mencintai nilai kebenaran. Pembinaan, pendampingan, evaluasi dan refleksi dilakukan pada setiap tahapan tata kelola kegiatan, sesuai dengan bidang tugas,  dengan koordinator wakil kepala sekolah sesuai bidang tugas. Peran kepala sekolah dalam koin seribu ini sesuai dengan Peraturan Direktur Jenderal Guru Dan Tenaga Kependidikan Nomor 6565/B/Gt/2020 tentang Model Kompetensi Dalam Pengembangan Profesi Guru,  yaitu Model kompetensi kepemimpinan sekolah yang meliputi kategori: (a.) pengembangan diri dan orang lain; (b.) kepemimpinan pembelajaran; (c.) kepemimpinan manajemen sekolah; dan (d.) kepemimpinan pengembangan sekolah.       

Hasil dan Dampak Koin Seribu

Hasil implementasi koin seribu dapat meningkatkan kualitas implementasi kurikulum merdeka, ditandai  antara lain: (1) Terlaksananya tata kelola  pendidikan di SMA Negeri 2 Klaten  dengan  mengimplementasikan Relaksasi Perut dengan Teko Mas,  dengan hasil penilaian prestasi dan kinerja Kepala SMA Negeri 2 Klaten, dua tahun terakhir amat baik. (2) Terselenggaranya gelar best practice, apresiasi dan penghargaan GTK dedikatif, inovatif dan inspiratif SMA Negeri 2 Klaten Tahun 2021, dengan mengundang Kepala SMA/SMK dan perwakilan guru SMA Kabupaten Klaten, dengan tindak lanjut 6 publikasi ilmiah kepala sekolah dan guru dimuat di jurnal ilmiah terakreditasi. (3) Terlaksananya berbagai IHT untuk peningkatan dokumen dan kualitas kinerja Guru, serta akselerasi pemanfaatan  akun belajar ID, Google Workspace (google doc., google form, google classroom) dan PMM (Platform Merdeka Mengajar) bagi guru SMA Negeri 2 Klaten tahun 2022. (4) Peningkatan pengetahuan, sikap, dan keterampilan guru, dalam IKM dan IT pendukung IKM, baik menyangkut  assesmen dan pembelajaran berdiferensiasi, projek penguatan profil pelajar Pancasila, Google Workspace, perencanaan berbasis data dan Platform Merdeka mengajar (PMM), yang berdampak pada peningkatan kualitas dan dokumen kinerja guru dan tenaga kependidikan SMA Negeri 2 Klaten. (5) UPGRIS award kepala sekolah dedikatif, inovatif dan inspiratif Jateng dari Universitas PGRI Semarang. (6) SMA Negeri 2 Klaten menjadi rujukan PSP Provinsi Jawa Tengah, Sumatera Selatan dan MKKS SMA Kalimantan Selatan tahun 2022. (7) Peningkatan kinerja, prestasi dan karakter  siswa  dalam event local, regional dan nasional tahun 2022. Sejumlah siswa terseleksi dalam Tanos, Juara I  KIR  Cagar Budaya Kabupaten Klaten, Juara II dan III Profil Pelajar Pancasila Kabupaten Klaten, berproses mengikuti Finalis Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Kemendikbudristek tahun 2022. Hasil LTMPT SMA Negeri 2 Klaten tahun  2022 meningkat lebih baik 7 level di tingkat nasional dari tahun sebelumnya. 

Berdasarkan  uraian diatas  dapat disampaikan bahwa Koin seribu dapat meningkatkan kualitas implementasi kurikulum merdeka di SMA Negeri 2 Klaten. *

Suharja, S.Pd., M.Si.

Kepala SMA N 2 Klaten



SHARE
'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini