komas-memilih-cara-bergerilyaJajaran pengurus Komas mengadakan pertemuan dengan Darma Setiawan. (istimewa)


sholihul
Komas Memilih Cara Bergerilya

SHARE

KORANBERNAS.ID – Alumni dari pondok pesantren (ponpes) tergabung dalam wadah Komunitas Masyarakat Santri (Komas) memilih cara bergerilya untuk memenangkan pasangan calon presiden dan wakil presiden (capres dan cawapres) Prabowo-Sandiaga Uno.


Langkah itu dilakukan dengan cara merangkul kalangan santri mengingat mereka sangat potensial menjadi pemilih pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 02 itu.

  • Gambar Wajah-wajah Wartawan Dipamerkan di Tembi
  • Bupati Temanggung Ingatkan Rencana Pembangunan Harus Realistis

  • ”Komas merupakan wadah bagi para alumni pondok-pondok pesantren dan masyarakat yang berjuang mencerdaskan bangsa dan mengupayakan kesejahteraan sosial bagi umat,” ungkap Baharuddin Harahap, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Komas Pusat, Rabu (02/01/2019).

    Menurut dia, cawapres seorang kiai belum menjadi jaminan para santri memilihnya. Hal ini mengingat corak maupun tipe santri beragam dan berasal dari berbagai kalangan. “Pak Kiai Ma’ruf Amin tidak bisa mewakili semua santri dalam berpolitik,” kata dia.

  • Kades Harus Pegang Janji Tak Korupsi
  • Truk Tangki Air Pernah Tergelincir di Sini

  • Baharuddin Harahap berpendapat, kondisi bangsa pada kurun waktu tiga tahun terakhir terpuruk di berbagai bidang. Salah satunya di bidang politik, yang ditandai terjadinya kegaduhan.

    Kegaduhan itu, lanjut dia, terjadi terus menerus. Ini tidak lepas dari langkah atau kebijakan yang  salah. Hukum terkesan  dijadikan alat politik dan propaganda untuk mempertahankan dan memperpanjang kekuasaan.

    Di bidang perekonomian, lanjut dia, Indonesia juga terpuruk. Masih banyak kebijakan sektor ekonomi pemerintah saat ini yang merugikan masyarakat.

    Belum lagi di bidang sosial terasa muncul benih-benih yang mengarah perpecahan, sepertinya terkesan dibiarkan.

    Menurut Bahar, Jaringan Komas dengan motto atau semboyan hidup sekali hiduplah yang berarti didirikan untuk memenangkan pasangan nomor 02. Saat ini jaringan itu sudah tersebar luas. Setidaknya terdapat 22 kepengurusan di berbagai wilayah termasuk di luar negeri.

    Ketua Komas DIY, Pekik Tri  Purnawan, yang akrab dipanggil Ustad Pongki menambahkan, pihaknya menyasar para santri, alumni pesantren dan masyarakat untuk merajut ukhuwah membangun negeri.

    Alumnus Pondok Modern Gontor ini menyoroti banyaknya mahasiswa dan santri di DIY yang potensial menjadi pemilih. Namun demikian muncul kekhawatiran mereka bisa kehilangan hak suara.

    Ini karena saat pemilihan umum para mahasiswa mengikuti ujian akhir semester dan mayoritas mahasiswa datang dari berbagai wilayah di Indonesia.

    Mereka sepertinya enggan mengurus formulir A5 di daerah asal agar bisa mencoblos di DIY. Formulir A5 hanya bisa digunakan untuk memilih presiden/wakil presiden, tidak untuk DPRD/DPR dan DPD.

    “Mereka berpotensi kehilangan hak pilih jika sosialisasi di kampus atau di kalangan pesantren bagi pemilih pemula tidak digalakkan,” ungkapnya.

    Tempat pemungutan suara (TPS) dilebihkan 10 persen dari daftar pemilih tetap, sementara jumlah mahasiswa dan santri dari luar DIY lebih dari 500 ribu orang.

    Ketua Pemenangan pasangan Prabowo-Sandiaga Uno DIY, Darma Setiawan, mengatakan timnya menggarap kalangan santri terutama di wilayah pedesaan.

    Ini penting dilakukan untuk menambah suara karena tidak sedikit mahasiswa di DIY merupakan alumni pesantren.

    “Komunitas Masyarakat Santri ini sangat potensial untuk mengedukasi karena basis mereka adalah pesantren maka sangat mungkin menjadi ujung tombak pemenangan kami,” kata Darma kepada wartawan di DPRD DIY. (sol)



    SHARE
    '

    BERITA TERKAIT


    Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

    Tulis Komentar disini