memperingati-satu-dasawarsa-uuk-sri-sultan-sampaikan-sapa-aruhGubernur DIY, Sri Sultan HB X menyampaikan Sapa Aruh Satu Dasawarsa UUK DIY di Bangsal Kepatihan Yogyakarta, Rabu (31/8/2022). (muhammad zukhronnee/koranbernas.id)


Iklan
Memperingati Satu Dasawarsa UUK, Sri Sultan Sampaikan Sapa Aruh

SHARE

KORANBERNAS.ID,YOGYAKARTA -- Dalam rangka memperingati satu dasawarsa Undang-undang Keistimewaan (UUK) Nomor 13 Tahun 2012, Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X menyampaikan Sapa Aruh di Bangsal Kepatihan Yogyakarta, Rabu (31/8/2022). Sapa Aruh Keistimewaan ini digelar untuk kedua kalinya setelah pada 31 Agustus 2020 lalu, Sultan menyampaikan Sapa Aruh dalam rangka peringatan Sewindu UU Keistimewaan DIY di Pagelaran Keraton Yogyakarta.


Dalam Sapa Aruh bertajuk “Memoderasi Budaya, Menjadikan Kalurahan Sebagai Muka Depan Kesejahteraan” kali ini, Sultan menyampaikan tiga hal penting. Yang pertama penerapan Pancamulia yang merupakan visi Gubernur dan Wakil Gubernur DIY periode 2022-2027. Sesuai Pancamulia, Pemda DIY melakukan reformasi Kalurahan, Pemberdayaan Kawasan Selatan, serta Pengembangan Budaya Inovasi dan Pemanfaatan Teknologi Informasi.


"Bagi saya dengan kalurahan jadi pusat pertumbuhan dan reformasi, jadi sesuatu yang sangat penting karena di kabupaten/kota relatif reformasi birokrasinya sudah berjalan jauh lebih baik sehingga di kelurahan ini perlu dilakukan hal yang sama," paparnya.

Selain reformasi kalurahan, dalam kesempatan kali ini Sultan juga menyampaikan tentang penyebarluasan budaya keistimewaan yang harus melalui proses pendidikan sebagai media transformasi. Keistimewaan yang dimiliki DIY dapat berperan sebagai moderator antara nilai-nilai budaya yang telah tersemai di masyarakat, untuk kemudian dipertemukan dengan nilai-nilai baru melalui pembelajaran.


Budaya digunakan sebagai solusi masalah-masalah sosial dan ekonomi. Selain itu sebagai sarana pengentasan kemiskinan, kesenjangan sosial, dan permasalahan yang ada di tingkat kalurahan. 

"Idealnya, kemiskinan janganlah dilihat dari sudut pandang ekonomi belaka. Tetapi harus dimoderasi melalui pendidikan karakter, dengan meng-update nilai-nilai gemi, nastiti, ngati-ngati selaras dengan konteks kekinian, melalui intervensi literasi keuangan. Inilah yang dimaksud dengan konsep transformasi dari nilai filosofis ke nilai praksis, yang seharusnya disuntikkan dalam setiap sendi pelaksanaan Keistimewaan," ungkapnya.

Pada Sapa Aruh ini, Sultan mengingatkan kepada masyarakat dalam mewujudkan kalurahan sebagai patrap Trimuka, yaitu menjadikan kalurahan sebagai arena demokrasi politik lokal yang merupakan wujud kedaulatan politik. Kalurahan juga menjadi arena demokratisasi ekonomi lokal sebagai wujud kedaulatan ekonomi. Selain itu pemberdayaan melalui aktualisasi pengetahuan kolektif warga kalurahan sebagai wujud kedaulatan budaya. 

"Saya meyakini, jika potensi keunggulan dilancarkan dari kalurahan, niscaya kalurahan akan menjadi sentra pertumbuhan sekaligus menjadi ujung depan pemberantasan kemiskinan. Konsep ini relevan untuk mengakselerasi pembangunan kalurahan, dalam mengejar kemajuan perkotaan, karena sumber potensinya itu toh berada di kalurahan," paparnya.

Sultan menambahkan,kegemilangan predikat istimewa akan semakin bermakna, seiring keragaman yang tercipta dalam kreativitas, adat istiadat, serta living tradition masyarakat Yogyakarta, serta sumbangsih seluruh masyarakatnya. Sebab untuk memberi sumbangsih dan menjadi warga Yogyakarta tidaklah harus lahir di Jogja dan atau memiliki darah keturunan Jawa.

"Sudah semestinya, keistimewaan Jogja adalah untuk Indonesia. Bahwa Menjadi Jogja, adalah Menjadi Indonesia," tandasnya.

Rasa memiliki Yogyakarta, lanjut Sultan sangat penting mengingat beberapa waktu terakhir muncul kekerasan di kota ini. Karenanya  Sultan berharap agar masyarakat senantiasa menjaga kerukunan.

"Masyarakat sejatinya menghindari kekerasan fisik. Bangunlah orang-orang Jogja yang beradab, bisa memberikan maaf jika hal itu bisa dilakukan. Saya selalu mengatakan pendekatan budaya, itu bukan tidak bisa tumbuh, tapi juga aspek rasa harus dilakukan," paparnya.

UUK Berjalan Efektif

Ketua Parampara Praja sekaligus Menko Polhukam, Prof Dr Mahfud MD menyatakan,‎ satu dasawarsa UUK DIY sudah berjalan cukup efektif. Meski begitu keistimewaan yang dimiliki oleh DIY harus selalu dijaga dan dipelihara dengan sebaik-baiknya. 

Dengan demikian keberadaan Danais yang nominalnya cukup besar bisa dirasakan oleh semua lapisan masyarakat, termasuk yang ada di level bawah seperti kalurahan. ‎Termasuk untuk mengembangkan budaya-budaya yang ada di desa (Kalurahan).‎ Apalagi dengan adanya BKK, program pemberdayaan diharapkan bisa dilakukan secara lebih optimal. 

"Tentunya semua itu harus diimbangi dengan pelaporan administrasi yang baik," ujarnya.

Sementara Paniradya Pati Kaistimewan DIY Aris Eko Nugroho mengaku banyak capaian yang berhasil dilaksanakan sesuai dengan target yang ditetapkan selama satu dasawarsa UUK ini. Keistimewaan telah dapat dirasakan oleh seluruh lapisan terbawah masyarakat hingga tingkat Kalurahan. Untuk itu, Paniradya Keistimewan berharap  bisa segera muncul  terkait dengan pemberdayaan masyarakat, penanggulangan kemiskinan, mengatasi pengangguran dan agar investasi berada di Kalurahan.

"Program-program danais sudah difokuskan penyaluran dan pemanfaatannya hingga tingkat Kalurahan sejak 2021 lalu sudah sebesar Rp 50 miliar dan tahun inl sudah Rp  104 miliar, artinya naik sudah 100 persen. Hal tersebut sejalan dengan salah satu dari Visi Misi Gubernur DIY terbaru berupa adanya spirit pembangunan DIY yang dimulai dari Kalurahan," paparnya. (adv)



SHARE
'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini