meski-pandemi-jamasan-tosan-aji-kabupaten-purworejo-tetap-digelarJuru jamas jamasan pusaka tosan aji, Teguh Tri Kuncoro, saat melakukan prosesi jamasan dengan mematuhi prokes. (istimewa)


Wahyu Nur Asmani EW
Meski Pandemi, Jamasan Tosan Aji Kabupaten Purworejo Tetap Digelar

SHARE

KORANBERNAS.ID, PURWOREJO -- Jamasan pusaka milik Tosan Aji Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah dilakukan terbatas dan tanpa penonton. Kali ini tahun kedua jamasan Tosan Aji dilakukan dalam masa pandemi.

Jamasan pusaka saat sebelum pandemi Covid-19 dilakukan secara meriah dengan gelaran budaya meriah. Masyarakat pun antusias menyaksikan jamasan yang merupakan bentuk pelestarian budaya.



Jamasan tosan aji pada bulan Muharram atau Asyura (bulan Suro - Jawa) biasanya dilakukan di depan Pendopo Agung Kabupaten Purworejo atau di sisi utara alun-alun Purworejo. Biasanya ribuan masyarakat memadati alun-alun untuk menyaksikan secara langsung prosesi jamasan tersebut.

Bertindak sebagai juru jamas adalah Teguh Tri Kuncoro dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Dinparbud) Kabupaten Purworejo. Saat menjalankan tugas, juru jamas menggunakan masker.

Semua personel yang terlibat dalam prosesi jamasan terlihat mematuhi protokol kesehatan (prokes) secara ketat. Pasukan Bregodo, penari Cing Poling serta barisan perempuan pembawa uba rampe jamasan dalam jumlah terbatas. Semua memakai masker dan menjaga jarak aman dalam barisan.

Kemasan jamasan pusaka Tosan Aji dilakukan secara sakral sesuai dengan prokes dalam pandemi Covid-19. Sedangkan jamasan pusaka tosan aji merupakan acara rutin di Museum Tosan Aji Kabupaten Purworejo.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, museum tersebut menggelar jamasan terhadap pusaka koleksinya. Meski tidak disaksikan masyarakat luas akibat masih pandemi, prosesi jamasan tetap digelar di Pendopo Kabupaten dan halaman depan Museum Tosan Aji.


Para sesepuh memilihkan hari Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon untuk jamasan pusaka. Berhubung Selasa Kliwon jatuh tanggal 17 Agustus, maka dipilihlah Jumat Kliwon (27/8/2021) untuk jamasan pusaka Tosan Aji.

Ada empat pusaka yang dijamas secara simbolis. Pusaka pertama merupakan pusaka milik Bupati Agus Bastian yakni Keris Jangkung. Keris ini memiliki pengharapan jangkauan kedepan Purworejo akan lebih maju, lebih baik dan mulyo.

Pusaka kedua adalah Keris Pasopati, yakni keris lurus dengan sifat ksatria yang memiliki pamor untuk membunuh angkara murka. Pusaka ketiga adalah Keris Panji Sekar Luk 9 dengan pamor Bonang Rinenten. Keduanya merupakan peninggalan Mataram Kuno.


Sedangkan pusaka keempat adalah Tombak Cacing Kanil dengan pamor Singkir. Pusaka ini memiliki pengharapan dapat menyingkirkan permasalahan semua penyakit yang ada di Kabupaten Purworejo. Termasuk harapannya mampu menyingkirkan pandemi Covid-19.


Sebelum dijamas, secara simbolis keempat pusaka diserahkan oleh Bupati Purworejo, RH Agus Bastian SE MM, kepada juru jamas. Pusaka kemudian diarak dari Pendopo Rumah Dinas Bupati menuju halaman Museum Tosan Aji, diiringi kesenian Cing Poling dan para pengawal yang berpakaian ala prajurit Keraton.

“Tiap tahun kita melakukan jamasan tosan aji pada bulan Muharam atau bulan Suro, dan kita ambil hari Jum’at Kliwonnya. Secara umum pelaksanaan jamasan pusaka yang dimiliki sudah kita laksanakan setiap hari, namun kita tambah intensitasnya pada bulan Muharram ini,” ungkap Agung Wibowo AP MM, Kepala Dinparbud,  yang ditemui usai acara.

Agung mengatakan, koleksi pusaka yang dimiliki Museum Tosan Aji saat ini berjumlah 1.159. Setiap tahun pihaknya selalu mendapat tambahan pusaka dari masyarakat, tidak hanya dari Purworejo tetapi juga dari luar kota. Kali ini ada 8 orang yang telah menghibahkan pusaka koleksi pribadi kepada Museum Tosan Aji.

“Pasca jamasan, telah dilakukan pemberian piagam penghargaan bagi penghibah tosan aji ke museum,” terangnya, kepada koranbernas.id, Jumat Kliwon (27/8/2021).

Agung menjelaskan, jamasan yang digelar ini bertujuan untuk nguri-uri (melestarikan) tradisi nenek moyang. Selain itu, kegiatan ini merupakan simbolisasi pembersihan diri atau membersihkan sukerta (kotoran) yang ada di Purworejo.
“Harapannya di era pandemi ini juga bisa sebagai perlambang perwujudan doa kita agar Covid-19 bisa segera berakhir,” imbuhnya.

Dia juga menambahkan, berbeda dengan tahun lalu, jamasan tosan aji tahun ini tidak dilakukan siaran langsung. "Kami akan menayangkan prosesi jamasan tosan aji kali di channel YouTube, dua hari setelah ini," ujarnya. (*)



SHARE
'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini