minyak-bumi-dan-batu-bara-masih-mendominasi-konsumsi-energiPeserta SNAST IX 2022 secara daring. (istimewa)


Yvesta Putu Ayu Palupi
Minyak Bumi dan Batu Bara Masih Mendominasi Konsumsi Energi

SHARE

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Konsumsi energi di Indonesia masih didominasi oleh energi fosil seperti minyak bumi, gas bumi, dan batu bara. Sedangkan energi baru dan terbarukan (EBT) masih bersifat alternatif.


Bahkan penggunaan bahan bakar minyak bumi dan batu bara masih mendominasi bauran energi primer nasional. Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Republik Indonesia untuk terus berupaya mentransisikan sumber energi nasional kepada sumber EBT, seperti dari panas bumi, tenaga surya, angin dan lainnya.


Saat ini mayoritas EBT masih dikelola oleh pemerintah. Padahal potensi penggunaan EBT, sejalan dengan kebutuhan investasi di bidang EBT, sangat tinggi.

"Karenanya kontribusi swasta dalam pengembangan EBT sangatlah diharapkan," ujar Edhy Susanta, Rektor IST Akprind, saat Seminar Nasional (SNAST) IX 2022 secara daring bertema Peran Perguruan Tinggi untuk Mendukung Grand Strategi Energi Nasional.


Menurut Edhy, Perguruan Tinggi (PT) sebagai lembaga yang berfungsi menyelenggarakan Tri Dharma Pendidikan tinggi berperan dalam pengembangan energi terbarukan.

Sebab, mereka merupakan lembaga yang memiliki posisi strategis untuk mendukung Pemerintah Republik Indonesia dalam transisi kepada sumber EBT.

PT diharapkan dapat meningkatkan perannya dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang inovatif. Hal ini sesuai dengan kebijakan Pemerintah Indonesia dalam upaya meningkatkan mentransisikan sumber energi nasional kepada sumber EBT tersebut.

"Perguruan tinggi bisa berbagi ilmu pengetahuan dan memberikan pencerahan dalam pengembangan EBT," jelasnya, Kamis (17/11/2022).

Ketua SNAST IX 2022, Subhan Arif, menjelaskan SNAST IX 2022 kali ini dihadiri sejumlah pakar. Di antaranya Anggota Dewan Energi Nasional, Musri Mawaleda dan  President of Indonesian Society of Petroleum Geologist (ISPG), Julianta Parlindungan Panjaitan.

Seminar melibatkan sebelas reviewer naskah dari empat perguruan tinggi, yakni sembilan reviewer dari IST AKPRIND, satu dari Universitas Trisakti, satu dari Universitas Tadulako, dan satu dari Universitas Indo Global Mandiri.

"Peserta berasal dari 13 provinsi di Indonesia, 80 judul makalah dan 25 instansi berbeda. 31 dari 80 judul makalah ditulis dan dipresentasikan oleh mahasiswa," jelasnya. (*)



SHARE
'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini