motor-masa-perang-dunia-ii-tampil-di-jecKoleksi motor antik diperlihatkan kepada awak media saat Konferensi pers Djogjantique Day (DaD) ke-6  di Jogja Expo Center (JEC). (sariyati wijaya/koranbernas.id)


Sariyati Wijaya
Motor Masa Perang Dunia II Tampil di JEC

SHARE

KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Penggemar sepeda motor antik yang ingin melihat dunia otomotif masa lampau bisa datang ke Jogja Expo Center (JEC) dalam gelaran Djogjantique Day (DaD) ke-6 yang dijadwalkan dibuka Jumat (5/8/2022) mendatang di lapangan parkir sisi barat JEC.


Rencananya, acara yang berlangsung hingga Sabtu (6/8/2022) ini dihadiri Wakil Gubernur DIY Paku Alam X yang juga penasihat Motor Antique Club (MAC) Yogyakarta selaku penyelanggara acara.


Saat konferensi pers di JEC, Jumat (29/2022) sore, Ketua MAC  Admaji Apriliyanto MKn, didampingi ketua panitia Albertus Anton Renaldi mengatakan, peserta berasal dari seluruh Indonesia serta luar negeri.

Peserta dari Malaysia, Inggris  dan Thailand sudah konfirmasi hadir. Jumlah peserta diperkirakan 1.500 hingga 2.000 orang. Motor yang mereka bawa disiplai di halaman parkir yang luas, sesuai jenisnya.


“Setelah tiarap dua tahun, maka tahun ini kita adakan lagi DaD ke-6. Kita walaupun tidak ada kegiatan, tetap melakukan bakti sosial setiap Jumat guna membantu mereka yang membutuhkan. Barulah tahun ini kita adakan DaD  lagi selama dua hari,” kata Apriliyanto.

Selain akan ditampilkan motor-motor antik yang digunakan pada masa Perang Dunia II (1939-1946), juga akan ditampikan motor tertua jenis HD-JD keluaran tahun 1926 milik kolektor Jogja. Hingga kini motor yang berusia hampir  100 tahun itu mesinnya masih hidup.

Bukan hanya motor, pada ajang DaD akan ditampilkan pula robot menggunakan material motor bekas karya Eri Sudarmono asal Bantul. Selain itu, juga ditampilkan  onderdil atau spare part hasil produksi anak Jogja yang kreatif, bazar UMKM dan aneka makanan serta pertunjukan seni berupa tarian dan jathilan.

“Kesenian tradisional sebagai bentuk menjaga tradisi kultur budaya.  Kita punya prinsip Manunggaling Karya Budhaya lan Motor Tuwa,” kata April.

Dia berharap DaD akan menjadi tempat pameran dan juga menggeliatkan ekonomi masyarakat serta lebih mengenalkan klub motor antik di DIY. Bagi yang ingin bergabung ke MAC, pintu terbuka  lebar. Disebut motor tua atau antik maksimal keluaran tahun 1966, produksi Eropa, Amerika atau skuter.

Anton menambahkan acara bertema Gumregass diambil dari kata Gumregah, kosa kata Bahasa Jawa yang berarti semangat, bangkit dan optimisme.

Dua tahun pandemi membuat Motor Antique Club (MAC) Yogyakarta tidak bisa mengadakan silahturahim sesama penggemar motor tua seluruh Indonesia melalui Djogjantique Day (DaD).

Dimulai tahun 2015 sampai 2019, DaD rutin digelar setiap tahunnya. “Semangat untuk bangkit dari masa pandemi menjadi semangat bersama untuk “gass” perhelatan DaD yang ke-6 kali ini. Motor-motor antik dari teman-teman seluruh Indonesia yang datang akan ditata sebagai edukasi dan daya tarik tersendiri bagi pengunjung,” kata Anton.

Ajang DaD tidak khusus untuk penggemar motor antik saja, tetapi lebih kepada acara liburan keluarga. Pengunjung dapat berbelanja beragam pakaian, pernak-pernik untuk semua kalangan umur di area merchandise. Masalah lapar dan haus dapat diselesaikan di area kuliner yang menyajikan beragam hidangan khas Yogyakarta.

“Kami memilih penyelenggaraan hari Jumat dan Sabtu, supaya pada hari Minggu kuturut ayah ke kota, naik delman istimewa. ya, demi mendukung semangat pariwisata Yogyakarta yang bangkit. Teman-teman motor antik yang datang dari seluruh Indonesia, ada hari Minggu dapat berwisata ke obyek-obyek wisata di sekitar Yogyakarta dan membeli oleh-oleh,” kata dia. (*)


TAGS: motor  antik 

SHARE
'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini