Kamis, 27 Jan 2022,


mtsn-3-bantul-melatih-siswa-berwirausahaProduk olahan pelajar MTsN 3 Bantul. (istimewa)


Sariyati Wijaya
MTsN 3 Bantul Melatih Siswa Berwirausaha

SHARE

KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Madrasah tidak hanya membekali siswa dengan ilmu agama saja namun  juga enterpreneur (kewirausahaan). Salah satunya berupa keterampilan mencari sebuah sumber penghasilan dengan membuka usaha ataupun menyalurkan kreativitas.


Berdasarkan pemikiran itulah MTsN 3 Bantul yang dikenal dengan sebutan Matsaga (MAdrasah TSAnawiyah tiGA), meluncurkan produk berupa Abon Lele Matsaga (Bonlega), Crispy lele, dengan merk Crisle Matsaga dan minuman Nata de Aloevera Matsaga.

  • Pelaku UMKM Curhat ke Sandiaga Uno
  • Bantul dan Kulonprogo Siapkan Lahan untuk Pendirian Embarkasi Haji DIY

  • “Produk tersebut telah diluncurkan pada Senin (6/12/2021) lalu di halaman madrasah,” kata Lestari S Pd, Wakil Kepala Madrasah Urusan Kurikulum Puji didampingi bagian produksi Sudarmi S Pd dan Masuratin SAg kepada koranbernas.id di madrasah tersebut, Selasa (7/12/2021).

    Peluncuran produk ini tak lepas dari status Madrasah Adiwiyata Kabupaten yang disandang mulai 2021. “Peluncuran bahan baku lele untuk pembuatan abon dan crispy diperoleh dari budi daya ikan dan sayuran dalam ember di Madrasah (Budiksamber),” kata Puji yang juga manajer produksi.

  • Panen Padi Kini Cukup Duduk di Kursi
  • Dongeng Tumpeng Raksasa ala GKR Hemas

  • Menurut dia, muara dari Budiksamber adalah melatih siswa belajar berwirausaha sekaligus sebagai sumber pembelajaran IPA tentang pertumbuhan dan perkembangan tanaman dan hewan, serta pelajaran IPS ekonomi. Sayuran yang ditanam adalah kangkung sedang ikan yang dibudidayakan adalah lele. Sayuran kangkung dan ikan lele dijual di kalangan guru dan sudah beberapa kali panen.

    “Jadi kegiatan penghijauan di sekolah diselipkan dengan kegiatan kewirausahaan. Dengan kegiatan secara tidak langsung tersebut, maka siswa akan melakukan dua kegiatan secara tidak langsung pula, sehingga kegiatan pembelajaran bisa dilakukan dengan mengalir dan tidak kaku,” terang Puji.

    Budiksamber dari awal dibuat, terdiri dari sepuluh ember besar yang diisi 50 bibit lele dan 12 gelas plastik tiap ember ditanami sayuran kangkung. Dari awal dibuat panen kangkung sudah tak terhitung jumlahnya, sedang ikan lele tiga kali panen raya.

    Awalnya kangkung diikat rapi dan dijual ke guru dengan harga per ikat Rp 2 ribu. Namun saat ini hasil kangkung sudah melimpah, hampir setiap dua pecan sekali sayur kangkung bisa dipanen. Semua guru dapat memanennya dalam keadaan segar, langsung potong dari ember. Ini sangat bermanfaat bagi  semua guru, bisa mendapatkan sayuran segar secara murah bahkan kadang gratis. “Jadi program Budiksamber akan terus dilanjutkan, sekaligus mendukung program Adiwiyata,” tambahnya.

    Masuratin menambahkan proses pembuatan Bonlega cukup mudah. Pertama  lumuri daging lele dengan garam dan bawang putih, goreng sampai kekuningan. Kedua, pisahkan daging lele dari duri, lalu dihaluskan, sisihkan. Ketiga, haluskan semua bumbu, kecuali lengkuas dan daun salam. Tumis bumbu halus dan masukkan daun salam dan lengkuas.

    Keempat, masukkan daging lele halus, masak sampai tercampur rata, taburi dengan gula dan garam lalu masak sampai kering. Kelima, tiriskan abon sampai tidak ada minyak. Keenam, setelah dingin, kemas dengan plastik pengemas dan temple merek Matsaga.

    Sudarmi menambahkan, untuk pembuatan Crisle Matsaga prosesnya dengan lele di-fillet tipis-tipis. “Kemudian dimarinasi selama setengah jam ditambahi satu sendok telur yang sudah dikocok. Siapkan tepung maizena dan baking powder serta bumbu yang sudah dihaluskan, tambahkan air secukupnya dan aduk hingga merata. Celupkan flilet ikan lele ke dalam adonan, goreng sampai mengering, diamkan semalam agar bisa crispy. Lalu  goreng kembali dengan api sedang sampai lele benar-benar crispy, dikemas dan siap dijual,” urainya.

    Produk Bonlega dan Crisle Matsaga bisa bertahan dalam jangka waktu lama. Jika masih dalam kemasan bisa bertahan dua pekan.

    Adapun minuman segar Nata de Aloevera proses pembuatannya adalah kupas batang daun aluevera lalu cuci bersih lalu potong-potong dadu. Kupas buah naga potong dadu kecil-kecil, bunga telang dilarutkan dalam air (untuk pewarna ungu), rendam dengan dalam dua liter air yang sudah dicampur air kapur sirih selama 15 menit. Lalu cuci kembali dengan air bersih, tiriskan, didihkan tiga liter air lalu masukkan potongan aloevera ke dalam air mendidih, masukkan gula pasir, vanili, sitrun setelah 30 menit matikan kompor.

    Bagi menjadi tiga bagian (wadah), bagian satu diberikan pada larutan buah naga, bagian dua dicampur air perasan bunga telang, bagian tiga dicampur jeruk nipis, dikemas, diberi label dan Nata de Aloevera siap dipasarkan.

    “Minuman segar ini memiliki banyak manfaat, mengatasi panas dalam, mengatasi masalah pencernaan, mengatasi gejala Gastroseophageal reflux disease atau asam lambung, membantu regenarasi sel dan sebagainya. Sengaja kita memilih Nata de Aloevera dibuat dari aloevera/lidah buaya karena banyak ditanam di kebun madrasah,” katanya.

    Kepala Madrasah, Sugeng Muhari SPd, menyambut baik kreativitas  dari guru bersama para siswa membangun sinergi membuat produk yang sangat bermanfaat. Dia yakin apabila ditekuni tidak mustahil produk madrasah akan diterima masyarakat luas.

    “Semoga tiga produk yang diluncurkan dapat laris diterima masyarakat, sehingga secara tidak langsung turut mempromosikan madrasah,” kata Sugeng. (*)


    TAGS: Bantul  Matsaga 

    SHARE



    '

    BERITA TERKAIT


    Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

    Tulis Komentar disini