panen-padi-kini-cukup-duduk-di-kursiUji coba mesin pemanen padi buatan Korea, Rabu (28/11/2018) di Dusun Nglaren Banguntapan Bantul. (sholihul hadi/koranbernas.id)


sholihul
Panen Padi Kini Cukup Duduk di Kursi

SHARE

KORANBERNAS.ID – Deru mesin pemanen padi Combine Harvester Kioti DSF75 buatan Korea, Rabu (28/11/2018) pagi, menarik perhatian warga dan para petani Dusun Nglaren Potorono Banguntapan Bantul.


Tak berselang lama begitu mesin tersebut turun ke sawah, hanya sekitar 15-an menit kemudian tanaman padi siap panen itu langsung berpindah masuk karung-karung yang sudah dipersiapkan.

  • Dagadu pun Lakukan Perubahan Visual
  • Beban Mengajar Terlalu Besar, Dosen Kesulitan Riset

  • Wah, ra butuh tenaga,” celetuk seorang warga di sela-sela menyaksikan Sosialisasi dan Demo Alat Mesin Pertanian Produk Korea.

    Nganti tak tingggal ora neng pasar,” timpal seorang ibu-ibu seraya mencari tempat terpisah supaya pandangannya tidak terhalang kerumunan.

  • Pelanggan Baru Wajib Tanam Pohon
  • PBVSI Temanggung Gelar Kejuaraan Bola Voli Senior

  • Dengan mesin tersebut, kini para petani tidak lagi bersusah payah memanen padi di sawah. Cukup duduk di atas kursi, sang operator tinggal mengoperasikan dan mengarahkan mesin bertenaga besar itu “melibas” tanaman padi.

    “Mesin ini mudah. Semua serba hidrolik. Saya tidak memerlukan banyak tenaga untuk mengoperasikan. Ringan,” ungkap Sumadi, operator mesin tersebut, kepada wartawan.

    Meski lahan sawah dalam kondisi berlumpur usai hujan deras sore hingga malam, ketangguhan mesin mesin pemanen padi kombinasi bertipe full feeding berdaya 73HP tersebut terbukti teruji di lapangan.

    Bahkan padi-padi yang roboh bisa dipanen secara otomatis tanpa memerlukan tenaga manusia untuk menegakkan batangnya terlebih dulu.

    Ketua Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem (TPB) Fakultas Pertanian UGM Prof Dr Ir Bambang Purwantana M Agr, menyampaikan sosialisasi yang digelar UGM ini merupakan hasil kerja sama antara Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Banguntapan Bantul, AGM S&E Seoul National University dan Deadong Co.

    “Kami prediksi lima tahun ke depan traktor dan  mesin pemanen padi menjadi kebutuhan utama. Mesin ini menggantikan sabit, termasuk jenis pemanen, pemotong, perontok serta pembersih. Hasil panen bisa langsung dimasukkan karung,” kata Bambang Purwantana.

    Berapa harganya? Dia menjelaskan, bagi petani ada beberapa kelas. Mungkin untuk petani kecil tersedia mesin berukuran mini seharga Rp 60 juta sampai Rp 70 juta. Kelas medium sampai Rp 200 juta sedangkan ukuran besar kisaran Rp 500 juta.

    Dari hasil penelitian selama ini sekaligus pengamatan langsung di lapangan, mesin panen ini jadi tren di kalangan anak-anak muda terutama di Sumatra dan Sulawesi.

    Mesin itu dibisniskan sehingga mereka memperoleh keuntungan. “Nilai baliknya cepat. Sekarang sudah jadi bisnis Karang Taruna dan Bumdes karena keuntungannya menjanjikan,” ungkap Bambang kepada wartawan.

    Prof Bambang Purwantana mengatakan mekanisasi pertanian sekarang ini jadi pilihan masa depan. Apalagi para pemilik lahan kadang-kadang susah mencari tenaga tandur dan panen.

    Pimpinan tim dari Korea berbicara di hadapan para petani saat uji coba mesin pemanen padi di Dusun Nglaren Bantul. (sholihul hadi/koranbernas.id)

    Seperti halnya awal-awal kemunculkan traktor tangan atau hand tracktor, penggunaan mesin pemanen juga dirasakan memang agak asing.

    Namun nyatanya sekarang ini anak-anak muda yang terjun di pertanian enggan menggunakan traktor tangan. “Mereka menghendaki mesin yang lebih bagus. Tidak kepleter,” paparnya.

    Kades Potorono, Prawoto Wiharjo, menyambut baik pengenalan mesin tersebut kepada para petani di wilayahnya.

    Dia sepakat, pertanian harus berkembang terutama terkait dengan peralatan, mutu dan juga kualitas hasil pertanian. Sudah saatnya kadang tani mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan.

    Karyati SP dari Dinas Pertanian, Kelautan dan Perikanan Bantul juga mengapresiasi langkah UGM yang terjun langsung membantu para petani.

    “Ini kesempatan yang mungkin tidak berulang, bisa bertemu para pakar dan belajar bersama. Kita harus bersemangat belajar,” kata dia.

    Sementara itu Prof Kyeong dari Korea menyampaikan pihaknya sudah melakukan uji peralatan tersebut di beberapa tempat. Kerja sama dan uji coba dengan UGM kali ini merupakan pertama kali di Indonesia.

    “Hasil uji coba kami evaluasi. Kami temukan bagian-bagian mesin yang harus dimodifikasi disesuaikan dengan kondisi lokal, sehingga membantu kami membuat mesin yang lebih baik lagi,” kata dia.

    Ini merupakan wujud komitmen negara itu membantu para petani di Indonesia untuk meningkatkan produksi serta teknologi pertanian di Indonesia.

    Prof Dr Lilik Sutiarso M Eng selaku Ketua Komite Kerjasama Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem UGM berharap, sosialisasi dan demo alat pesin pertanian ini mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani.

    Dia yakin, penerapan mekanisasi pertanian akan mampu menarik minat generasi muda untuk terjun dan aktif mengembangkan pertanian Indonesia di masa yang akan datang. (sol)


    Video Terkait:



    SHARE
    '

    BERITA TERKAIT


    Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

    Tulis Komentar disini