Sabtu, 08 Mei 2021,


pgn-siapkan-infrastruktur-gas-bumi-di-jatengGubernur Jateng, Ganjar Pranowo memberi sambutan saat MoU PGN dengan JPEN. (istimewa)


Sariyati Wijaya
PGN Siapkan Infrastruktur Gas Bumi di Jateng

SHARE

KORANBERNAS.ID, JAKARTA -- PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk akan meningkatkan pasokan dan infrastruktur gas bumi di Jawa Tengah. Hal itu menyusul ditandatanganinya Memorandum of Understanding (MoU)  dengan  PT Jateng Petro Energi (Perseroda) (JPEN)  terkait dengan Penyediaan Pasokan dan Infrastruktur Gas Bumi di Provinsi Jawa Tengah.


JPEN  adalah perusahaan perseroan daerah milik Provinsi Jawa Tengah yang bergerak di bidang Hulu dan Hilir Migas, Energi Baru Terbarukan (EBT) dan Jasa Penunjang.


Direktur Strategi dan Pengembangan Bisnis PT Perusahaan Gas Negara Tbk, Syahrial Mukhtar, dalam rilis yang diterima koranbernas.id, Jumat (16/4/2021) malam, menjelaskan MoU dilakukan secara virtual dalam acara Jateng Gas Business Gathering 2021, Kamis (15/4/2021).

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menjadi saksi penandatanganan MoU. Pihak JPEN diwakili Direktur Utama Muhammad Iqbal. “MoU ini bertujuan untuk mengkaji potensi kerja sama terkait rencana penyediaan pasokan gas bumi dalam bentuk Compressed Natural Gas (CNG) beserta infrastruktur pendukungnya, untuk memenuhi kebutuhan energi di Jawa Tengah,” katanya.


Di seluruh wilayah Jateng, Syahrial melihat potensi pasarnya masih terbuka  lebar dan berkembang. Mengingat  saat ini permintaan  banyak dari  kawasan industri eksisting. Adapun untuk strategi penyaluran yang digunakan  ada beberapa cara yakni  gas pipa, CNG, maupun LNG menyesuaikan dengan kebutuhan. “MoU dengan JPEN yang sudah kami lakukan dalam rangka mendukung penyediaan infrastruktur CNG,” tambahnya.


Untuk memasok gas ke Jateng, PGN saat ini memiliki beberapa opsi sumber seperti Saka Muriah, Jimbaran Tiung Biru (JTB) dan LNG teluk Lamong.


PGN, lanjut Syahrial, memiliki infrastruktur Pipa Transmisi Gresik-Semarang (Gresem) serta alokasi pasokan gas yang dapat disalurkan untuk industri di Jawa Tengah. Penyaluran gas bumi bagi industri yang yang belum terjangkau  jaringan pipa gas bumi dapat menggunakan moda CNG maupun Liquefield Natural Gas (LNG).

Saat ini PGN menyalurkan gas bumi ke 13 pelanggan industri komesial di Kawasan Industri Tambah Aji dan meluas ke Wijaya Kusuma melalui gas pipa  dan CNG, menyalurkan gas bumi ke Pembangkit Tambak Lorok, serta melayani 7.093 rumah tangga. Secara keseluruhan, volume penyerapan gasnya mencapai  23,85 Billion British Thernal Unit per Day (BBTUD).

“Kami  melihat  pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah yang terus tumbuh seiring dan makin banyak kawasan industri baru. Ada beberapa kawasan industri seperti Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) dan Kawasan Industri Kendal (KIK) sebagai pasar potensial gas Bumi,” katanya.

Dengan segala kapabilitas yang dimiliki, maka PGN berupaya agar pemenuhan kebutuhan gas bumi di Jawa Tengah dapat terealisasi. Pipa Transmisi Gresik-Semarang (Gresen) diestimasikan mampu menyalurkan gas bumi sekitar 400 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD).

PGN juga tengah menyelesaikan interkoneksi Pipa Gresem dengan Pipa Kalimantan Jawa (Kalija) untuk optimalisasi distribusi gas bumi khususnya sektor industri area Semarang dan Kendal.

Selain itu, PGN mengupayakan penyelesaian Pipa Jumper dari Tambak Lorok ke Tambak Rejo. Pipa ini diestimasikan selesai pada Triwulan II 2021. Apabila sudah terhubung, gas bumi dari Lapangan Kepodang akan didistribusikan ke pelanggan-pelanggan potensial di Jawa Tengah.

“Gas dari Lapangan Kepodang diharapkan dapat diutilisasi untuk membangkitkan SPBG Kaligawe, sehingga akan membuat penyaluran CNG di Jawa Tengah menjadi lebih efektif dan efisien. Selama ini kebutuhan CNG Jawa Tengah dipasok dari Jawa Timur,” kata Syahrial.

Ganjar Parnowo mengatakan kebutuhan gas bumi di Jawa Tengah saat ini cukup mendesak. Jawa Tengah  sendiri memiliki potensi geografis yang menguntungkan, diapit oleh dua provinsi besar yang kaya akan pasokan dan pasar gas. Selain itu, Jawa Tengah juga merupakan tujuan dari dua pipa transmisi.

“Dari sisi  konsumen, di Jawa Tengah banyak industri yang potensial menyerap gas bumi sebagai energi untuk produksi,” katanya. Namun adanya  kendala infrastruktur atau pipanisasi menyebabkan suplai gas bumi menjadi tidak optimal. (*)



SHARE


'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini