Minggu, 17 Okt 2021,


pil-pahit-sekolah-onlineSiswa SD di Ngawen Gunungkidul naik bukit untuk mencari sinyal. (sutaryono/koranbernas.id)


St Aryono
Pil Pahit Sekolah Online

SHARE

KORANBERNAS.ID, GUNUNGKIDUL – Gadis desa ini tampak murung. Beberapa hari terakhir wajahnya pucat. Padahal biasanya, Tri Novi Rahmadani atau sering dipanggil Novi ini, selalu ceria. Pelajar umur 16 tahun itu pada beberapa pekan terakhir sulit tidur. Setiap malam, matanya sulit terpejam. Pandangannya kosong. Pikirannya menerawang seperti tidak punya arah.


Siswa kelas 8 SMPN 2 Panggang Gunungkidul ini bingung. Masalah yang dihadapi diupayakan dipecahkan sendiri. Namun selalu kandas. Akhirnya, dengan hati berdebar disertai tekat yang kuat, warga Padukuhan Prahu Kalurahan Girimulyo Kepanewonan Panggang Gunungkidul ini memberanikan diri menghadap ibunya.

  • Sekolah Online Tidak Berlaku di Wilayah Ini
  • Beri Insentif Petani agar Tidak Menjual Lahannya

  • Mbok aku tak metu seka sekolah wae ya (Ibu saya keluar dari sekolah saja ya - Red),” kata gadis kelahiran 9 Oktober 2005 ini dengan mimik bergetar.

    Bagai disambar petir siang bolong. Wakiyem (54), terlihat kaget ketika mendengar suara anaknya itu. “Kowe kuwi omong apa (Kamu itu bicara apa - Red),” jawab wanita ini sambil menatap tajam putrinya. Tidak ada jawaban. Novi hanya menangis tersedu. Buruh tani ini semakin penasaran. Beberapa saat tidak ada jawaban.

  • Warga Wonosari Meninggal Positif Covid-19
  • Pemuda Pancasila Sleman Bakti Sosial Bersihkan Selokan Mataram

  • Dengan usapan tangan lembut Wakiyem di wajah anaknya, akhirnya hati Novi luluh. Anak ini berceritera tentang kebijakan sekolahnya yang mengharuskan semua siswa mempunyai handhpne (HP). Novi tahu bagaimana kondisi ekonomi keluarganya, yang tidak mungkin bisa membelinya.

    Padahal alat ini menjadi satu-satunya syarat agar para siswa bisa belajar di rumah secara daring, sebagai dampak pandemi Covid-19. Namun ibunya yang mengandalkan buruh tani, untuk bisa makan setiap hari, harus bersusah payah.

    Anak ini mengaku, kondisi ekonomi yang sulit mengakibatkan dirinya tidak mungkin meminta uang pada ibunya untuk membeli smartphone untuk sekedar mengerjakan tugas sekolah.

    Niatnya itu belum terlaksana menyusul anggota Polisi Wanita (Polwan) dalam rangkaian peringatan ulang tahun ke-75 Kemerdekaan RI, menyerahkan bingkisan HP merk Oppo A37 kepada Tri Novi Rahmadani yang merupakan salah seorang siswa berprestasi di sekolahnya.

    Diakui, sebelum menerima bantuan HP dari Polwan ini, dia berceritera tentang perjuangannya mengikuti kegiatan sekolah online, meski dirinya tidak punya HP. Secara kebetulan ada pemilik  konter handphone di wilayah Kalurahan Girimulyo berbaik hati. Pemilik konter handphone itu bersedia meminjamkan HP-nya setiap pagi kepada Novi agar ia bisa mengerjakan tugas dari para guru. Namun Novi harus mengerjakannya di konter tersebut.

    Setiap pagi Novi harus berjalan kaki sejauh 3 kilometer dari rumahnya ke konter handphone itu. "Biasanya saya berangkat pukul 06:00 dan sampai di konter pukul 07:30," ungkapnya.

    Untuk kuota, Novi sangat terbantu karena pemilik konter tak membebaninya sama sekali. Sudah empat bulan ini dia bolak-balik ke konter handphone untuk dapat mengerjakan tugas dari sekolahnya. Dia merasa bersyukur dapat terus sekolah meskipun dalam hatinya tidak enak selalu membebani orang lain.

    Tetapi semuanya itu sudah berlalu. Novi tidak lagi merepotkan orang lain. Sebuah HP, bingkisan Polwan kini sudah ada di tangannya. Gadis ini terlihat girang ketika HP sudah bisa menemani untuk sekolah dan melakukan daring dengan lancar.

    Tri Novi Rahmadani pelajar kelas 8 SMPN 2 Panggang Gunungkidul menunjukkan HP baru bantuan Polres Gunungkidul. (sutaryono/koranbernas.id)

    Naik Bukit Cari Sinyal

    Tidak hanya Novi yang harus menelan pil pahit kebijakan pemerintah yang cenderung dipaksakan ini. Lebih pedih dialami Nabila Aszahra Sujatmo, siswa kelas 5 SDN Gunung Gambar Kapanewon Ngawen Gunungkidul. Pelajar ini harus menempuh perjalanan sekitar 2 km hanya untuk bisa mendapatkan sinyal. Mereka harus melewati medan sulit. Mulai ladang pertanian tandus, jalan rusak bahkan tanjakan yang menguras tenaga.

    Perjalanan sekitar 30 menit harus selalu ditempuh bersama teman-temannya agar tetap dapat mengikuti kegiatan belajar dan mengetahui tugas sekolah.

    “Dalam seminggu paling tidak dua kali naik bukit untuk mencari sinyal. Terkadang sendiri, tetapi sering sering dengan teman-teman lain,” katanya.

    Meskipun harus naik bukit berjalan beberapa kilometer, namun anak-anak ini seakan tidak pernah mengeluh. Kalaupun mengeluh hanyalah sia-sia belaka.

    Datangi rumah siswa

    Kondisi sinyal sulit, tentu tidak hanya menjadi masalah anak-anak sekolah. Guru juga dituntut kreatif. Berbagai upaya dilakukan guru untuk bisa mendidik para siswa siswinya yang notabene kesulitan mengakses internet ataupun ketidakmampuan membeli HP.

    Sebut saja Anika Kurniawati (35), seorang guru SDN Slametan Kalurahan Kelor Kapanewon Karangmojo. PNS yang sudah 17 tahun mengajar di sekolah ini harus rela meninggalkan keluarganya untuk mendatangi rumah-rumah siswanya, belajar bersama dengan tatap muka.

    “Karena anak SD itu kalau belajar dengan HP, banyak hambatan. Selain sinyal susah juga banyak anak-anak yang tidak punya HP, sehingga saya harus mengalah,” katanya. Tiap hari Sabtu, anak-anak yang bertempat tinggal terdekat dikumpulkan pada salah satu rumah warga.

    Dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan, maka guru ini datang dan memberikan tambahan materi pelajaran, utamanya tugas sekolah yang dinilai sulit dikerjakan secara daring. Dengan cara ini Anika bisa dengan jelas melihat progres masing-masing siswa baik sisi kemampuan menulis, membaca maupun berhitung.

    Salah seorang orang tua siswa, Supatmi, mengapresiasi cara yang dilakukan Anika. Sebagai petani, Supatmi mengaku tidak sabar mengajari putranya khususnya dalam belajar membaca menulis maupun berhitung.

    Guru SDN Karangmojo Gunungkidul mendatangi rumah siswa untuk membantu proses belajar mengajar, karena siswa tidak punya HP dan sulitnya sinyal. (sutaryono/koranbernas.id)

    Bukit Karst

    Kondisi lebih parah terjadi pada wilayah pinggiran Gunungkidul.  Para pelajar yang tinggal di kawasan ini harus berusaha ekstra untuk bisa melaksanakan pembelajaran online.

    Tak jarang mereka harus berpindah tempat maupun naik ke bukit karst untuk bisa mengakses jaringan internet yang saat ini menjadi peranti pokok kegiatan belajar mereka. Seperti yang dilakukan sejumlah pelajar di Padukuhan Petir B Kalurahan Petir Kapanewon Rongkop.

    Kepala Desa Petir, Sarju, menuturkan Padukuhan Petir B merupakan kawasan blank spot. “Padahal, di wilayah ini ada puluhan siswa yang selama pandemi Corona ini menempuh pembelajaran online. Selama ini, lantaran jaringan internet menjadi sangat penting, para pelajar itu harus menyusuri bukit yang cukup tinggi, hanya untuk mendapatkan sinyal internet,” kata Sarju, Kamis (20/8/2020).

    Diakui, wilayahnya sebagian besar belum bisa terjangkau internet karena tidak ada sinyal. Ini karena faktor banyaknya perbukitan karst menjadi penyebab blank spot di sejumlah titik.

    Dukuh Petir B, Warsina, menambahkan di wilayahnya terdapat 21 siswa tingkat SD hingga SMA yang harus berjuang ekstra agar bisa mendapatkan sinyal internet. Biasanya, para pelajar ini mendaki bukit Gunung Temulawak untuk mendapatkan sinyal.

    Salah seorang pelajar SMP  kelas 8, Alodia Daffa Sinanta, mengaku harus berjalan kaki sekitar 500 meter untuk sampai di atas bukit. Kondisi ini dilakukannya lebih tiga bulan terakhir.

    Lebih parah lagi terjadi di Kalurahan Karangasem Kapanewon Ponjong. Menurut Lurah Karangasem Ponjong, Maryanto, kalurahan dengan sembilan padukuhan ini terseok-seok ketika berniat muntuk berselancar di dunia maya.

    Ketiadaan sinyal di desa tersebut sangat menyulitkan warga mengikuti perkembangan informasi terkini. Hal semacam ini menyebabkan smartphone seakan tak berguna bagi masyarakat. “Jangankan browsing internet, di wilayah ini untuk menelepon saja sulit,” katanya.

    Pihaknya tidak tahu apa penyebabnya, perusahaan menara seluler tidak melirik mendirikan tower di wilayah Kalurahan Karangasem. Padahal jika dilihat dari letak geografis, Karangasem memiliki wilayah cukup luas bergandengan dekat dengan kalurahan lainnya, seperti Kenteng dan Kalurahan Bedoyo yang memiliki 2.771 penduduk.

    Diakui wilayah Karangasem sebagian besar perbukitan. Namun demikian sebagian besar masyarakatnya merupakan pelaku usaha yang tidak bisa dibilang remeh.

    Sinyal kuat sangat ditungu-tunggu sebagai jembatan penunjang kelancaran bisnis masyarakat yang kebanyakan bergerak di bidang ternak dan tambang. “Sampai sekarang kami menunggu bantuan pemerintah. Kalau tidak, kemungkinan ada investor yang mau memasang tower,” ucapnya.

    70 persen siswa tak punya HP

    Pembelajaran di rumah dengan daring dalam beberapa bulan ini harus dilaksanakan. Namun faktanya di Gunungkidul, sekitar 70 persen siswa SD tidak mempunyai HP ataupun laptop. Hal ini diakui Kepala Dinas Pendidikan Gunungkidul, Bahron Rosyid, ketika dihubungi Rabu (19/8/2020). Dia menyebut inilah hambatan yang membuat tersendat-sendatnya program pemerintah menerapkan pembelajaran daring.

    Padahal alat berupa HP atau laptop merupakan hal yang baku untuk melaksanakan pembelajaran di rumah. Masalah ini terjadi karena kondisi ekonomi warga belum mampu membelikan HP atau laptop bagi putra-putrinya yang sekolah di jenjang SD.

    Dengan berbagai masalah tersebut, pihaknya mengambil kebijakan guru diperbolehkan mendatangi siswa atau mengundang siswa datang ke sekolah secara berkala. Pihaknya berharap dengan metode ini para siswa tetap bisa memperoleh pelajaran di masa pandemi.

    “Tetapi tetap menjaga protokol kesehatan, sekolah tertentu boleh mendatangkan siswa tetapi dibagi jumlahnya dan tidak bergerombol," tambah Bahron.

    Tambah Jaringan

    Wakil Bupati Gunungkidul Immawan Wahyudi ketika dihubungi mengaku, dalam upaya mendukung keterbukaan informasi publik dan pelayanan masyarakat, Pemkab Gunungkidul pada 2020 membangun 1.000 titik jaringan internet wifi yang bisa dinikmati masyarakat secara gratis.

    “Hingga kini sudah terpasang 810 titik wifi, dan hingga akhir tahun ini akan terpasang 1.000 jaringan internet gratis,” kata Immawan Wahyudi.

    Internet gratis ini terpasang di berbagai lembaga di antaranya sekolah, kantor kalurahan, kantor pelayanan publik hingga lokasi wisata. "Pemasangan jaringan internet ini membantu mengurangi blank spot yang ada di sini, sehingga memudahkan siswa yang akan belajar daring. Mereka bisa datang ke lokasi yang sudah ada wifinya," tambahnya.

    Immawan berharap dengan kemudahan internet yang bisa diakses, masyarakat bisa meningkatkan perekonomian dan paling utama bisa memudahkan belajar siswa yang tidak bisa mengakses internet ataupun kesulitan membeli pulsa.

    Kabid Layanan Informatika Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Gunungkidul, Setiyo Hartanto, menambahkan akhir tahun ini ada 1.000 titik yang terpasang jaringan internet. Saat ini 55 desa proses lelang, 210 sekolah SD dan SMP proses penyusunan skema dan kebijakan agar secepatnya dapat di eksekusi di anggaran perubahan.

    Menurut dia, kendala saat ini adalah kapasitas kecepatan internetnya atau bandwidth. Saat ini untuk wilayah tertentu kecepatan internetnya masih rendah sehingga agak lama untuk melakukan penelusuran situs internet. "Tahun ini semoga kecepatannya bisa ditambah dan semuanya lancar," ucap Setiyo.

    Kepala Diskominfo Gunungkidul, Kelik Yuliantoro, menyatakan capaian layanan koneksi internet 1.000 titik menjadi aset Kabupaten Gunungkidul dalam melanjutkan pembangunan dan mencapai kesejahteraan masyarakat yang jauh lebih baik dan mengantisipasi permasalahan global, termasuk pandemi Covid-19.

    Untuk mengantisipasi wilayah blank spot bisa dilakukan tiga cara yakni kalurahan menggunakan dana desa untuk membuat jaringan yang disediakan Diskominfo. Hal ini sudah dilakukan dua kalurahan yakni Kalurahan Jetis di Kapanewon Saptosari yang bisa menyalurkan ke dua dusun serta Kalurahan Giritirto Kapanewon Purwosari baru ada satu dusun.

    Perlu Dievaluasi

    Wakil Ketua DPRD Gunungkidul, Heri Nugroho, berharap agar pembelajaran secara daring perlu segera dievaluasi. Dia melihat metode belajar di rumah secara terus menerus dengan daring, dikhawatirkan berbahaya untuk pendidikan karakter.

    Meski pemerintah telah mengeluarkan surat edaran berkaitan dengan diperbolehkannya sekolah untuk menyelenggarakan skema pembelajaran tatap muka,  namun menurutnya sampai sekarang belum ada sekolah melaporkan telah menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar secara tatap muka.

    Heri Nugroho mengaku prihatin dengan kegiatan belajar menggunakan sistem online seperti sekarang ini. Menurut dia, dalam skema ini, tidak ada interaksi dan komunikasi yang terjalin antara pelajar dengan guru. Dengan begitu, anak justru seolah terbentuk menjadi makhluk individual.

    “Meski ada media untuk berkomunikasi tapi tidak ada interaksi langsung. Kedekatan guru dengan anak tentu berkurang. Misal ada tugas yang sekiranya tidak bisa, mereka mengandalkan google, berbeda dengan tatap muka mereka diajar dan diberi penjelasan oleh guru,” kata Heri Nugroho.

    Di sisi lain, dengan diterapkannya sistem pembelajaran secara online, justru membuat anak-anak kembali kecanduan atau ketergantungan dengan gadget. Ini justru bertentangan dengan upaya-upaya mengurangi anak menggunakan gadget.

    “Ketergantungan tentunya kembali meningkat. Padahal kita sedang berupaya mengurangi penggunakan gadget bagi anak-anak. Jika berlangsung terus menerus seperti ini juga bahaya bagi pendidikan karakter anak,” tambah dia.

    Dampak lain yang timbul yakni pada ekonomi keluarga. Dengan pembelajaran secara online ini, biaya yang dikeluarkan oleh masyarakat semakin bertambah. Contohnya, dia sering kali mendapat keluh kesah dari orang tua, beban pembelian kuota meningkat.

    “Kesulitan mendapatkan sinyal juga sering dikeluhkan orang tua. Bahkan yang anaknya lebih dari satu harus membeli HP baru untuk menunjang proses belajar. Ini jelas memberatkan masyarakat,” tandasnya. (ryo)



    SHARE



    '

    BERITA TERKAIT


    Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

    Tulis Komentar disini