Rabu, 19 Jan 2022,


puluhan-perancang-busana-unjuk-karya-di-aira-fashion-on-the-spot-2021Beberapa desainer dan perancang busana yang ikut dalam perhelatan AIRA Fashion on The Spot 2021 di Atrium Hartono Mall Yogyakarta. (muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)


Muhammad Zukhronnee Muslim
Puluhan Perancang Busana Unjuk Karya di AIRA Fashion on The Spot 2021

SHARE

KORANBERNAS ID, YOGYAKARTA--Pagebluk Covid-19 yang berangsur-angsur membaik, membuat pelaku industri kreatif mulai bergeliat. Kebijakan pemerintah melonggarkan izin untuk membuka mall dan menghelat pertunjukan secara terbatas dengan protokol kesehatan, tidak disia-siakan oleh pegiat seni fashion di Yogyakarta.


Tepat di penghujung 2021, sebuah event peragaan busana besar digelar selama empat hari berturut-turut dari 2 Desember hingga 5 Desember 2021 di Atrium Hartono Mall Yogyakarta.


Bertajuk AIRA Fashion on The Spot 2021, sebanyak 40 perancang busana dari berbagai kota di Jawa ikut berpartisipasi. Para desainer tersebut berasal dari Yogyakarta, Surakarta, Klaten, Salatiga, Grobogan, Semarang, Tulungagung, Sukoharjo, Cilacap, Bekasi, terlibat di acara ini.

Acara ini diselenggarakan Aira Mitra Media yang digarap Rumah Pentas Yogyakarta. AIRA Fashion on The Spot 2021 merupakan rangkaian acara Pameran dan Temu Bisnis Seni Kriya 2021, yang berlangsung di tempat yang sama.


Pada hari pertama, Kamis (2/12/2021), perancang busana yang tampil antara lain Aluna by Putri Shabrina x Essy Masita (Yogya), Bemberg TM Textiles by Fitriani Kuroda x Essy Masita (Yogya), Hardware, Shafna by Shafira Hasna (Yogya), Margaria Batik by Devie Fransisca (Yogyakarta), Batik Enom by Devie Fransisca (Yogya), Kenes Batik (Yogya), Cicik Mulyaningtyas (Yogya).

Di hari pertama ini, Essy Masita akan berkolaborasi dengan putrinya, Putri Shabrinna, mengusung label Aluna. Aluna merupakan produk berbasis mass product siap pakai. Melayani segmen berbagai usia, dari 15-60 tahun.

“Dengan semangat ikut melestarikan budaya warisan leluhur, kami selalu mengangkat kain wastra serta kebudayaan nusantara dalam setiap koleksi kami. “Romansa Nusantara” pun diangkat aluna, detail hand made sulam sashiko,” terang Essy saat ditemui sebelum pelaksanaan fashion show berlangsung.

Budaya nusantara yang kaya ini diangkat Aluna menjadi motif-motif yang yang harmonis ke dalam karya fashion. Ada landmark dan kekhasan budaya yang dengan berani dituangkannya ke kain wastra.

“Desain yang kita ambil dari ikon-ikon seluruh nusantara. Ada Borobudur ada Papua, Kalimantan, Padang dan sebagainya. Warna-warna khas Aluna mengarah ke tren-tren warna 2022, warna anak-anak muda gitu,” lanjutnya.

“Kali ini kita akan bermain dengan warna hijau, pink dan marun, tiga bulan ke depan akan kita angkat warna yang berbeda,” lanjutnya.

Beberapa desainer lain seperti perancang busana pemilik Batik Nakula Sadewa Sleman, Cicik Mulyaningtyas, menampilkan karya terbaru dengan batik khasnya. Bertema “Timeless Javanese Heritage”.

Margaria Batik mengedepankan tema “Regalia” yang diangkat dari sosok kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono. Sementara Batik Enom mengusung tema “Kembang Gula”. Kemudian brand Hardware yang ikut dalam perhelatan ini lebih memilih tema “The Urban” untuk memperkenalkan wearable fashion bagi anak muda.

“Selain itu kita juga memperluas segmen hardware untuk teman-teman yang berhijab,” papar Anggit Anggitorini, Visual Merchandise dan Tim Kreatif Hardware.

“Walaupun konsepnya urban tetapi tetap bisa digunakan untuk berhijab. Karena sekarang pasar fashion juga banyak teman-teman muda yang berhijab tapi tetap modis,” tutupnya. (*)

 

 

 



SHARE



'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini