Jumat, 03 Des 2021,


rinonce-sekar-melati-karya-sutanto-segera-terbitPak Tanto


Sariyati Wijaya
Rinonce Sekar Melati Karya Sutanto Segera Terbit

SHARE

KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Guru Seni Budaya MTsN 3 Bantul, Sutanto tak mau berhenti menuangkan idenya melalui tulisan. Setelah berhasil menerbitkan beberapa buku melalui Komunitas Yuk Menulis (KYM) pimpinan Vitriya Mardiyati, guru yang menjadi pengurus catur DIY tersebut akan segera menerbitkan buku berjudul “Rinonce Sekar Melati”.


Dalam rilis yang dikirim ke redaksi koranbernas.id, Sabtu (20/11/2021), Sutanto menjelaskan jika buku yang ditulis dalam waktu tiga pekan tersebut merupakan bukunya yang ke-10.


“Buku ini berisi kumpulan 100 geguritan (puisi berbahasa Jawa, red) sebagai upaya turut melestarikan budaya Jawa khususnya sastra tulis,” kata pria yang tinggal di Celep, Srigading, Sanden, Bantul tersebut.

Adapun untuk buku “Rinonce Sekar Melati” diambil dari salah satu judul geguritan yang ada dalam buku tersebut.


“Dan secara khusus saya mengucapkan terima kasih kepada Pak Ratun Untoro dan Pak Akhir Lusono yang telah berkenan memberi sambutan dalam buku ini. Perhatian beliau berdua terhadap karya sastra sangat luar biasa,“ ujarnya.

Pengkaji Bahasa dan Sastra serta Koordinator Bidang Pembinaan Sastrawan Balai
Bahasa Yogyakarta, Dr Ratun Untoro, menyampaikan rasa puas dan bangga atas terbitnya buku tersebut. Menurutnya bukan sekadar buku sebagai artefak, tetapi bagaimana proses di baliknya.


“Kemauan, keuletan, dan kecerdasan Pak Sutanto merupakan hal yang tidak biasa. Sebagai guru, ia tidak sekadar mengajar, tetapi turut bergerak dan berproses kreatif. Ia menulis berbagai jenis teks di berbagai media, bahkan telah menerbitkan beberapa buku. Salah satunya adalah buku kumpulan geguritan Rinonce Sekar Melati ini,” puji Ratun.

Geguritan atau gurit,lanjut Ratun Untoro awalnya merupakan tembang yang berupa purwakanthi. Misalnya Rujak nanas kemplung-kemplung aneng gelas, tuwas tiwas nglabuhi wong ora waras (Baoesastra Djawa, Poerwadarminta, 1939).

Macapat

Namun, sebenarnya majalah Kejawen pada tahun 1929 telah memuat geguritan yang bukan berupa purwakanthi. Geguritan yang dimuat itu menjadi semacam puisi bebas berbahasa Jawa modern yang tidak terikat persamaan bunyi.

“Sekilas, penciptaan geguritan tampak lebih mudah dibanding macapat. Pencipta tidak perlu berpikir tentang metrum. Bayangkan, pada proses penciptaan macapat, pencipta harus mampu mengganti kata “Mataram” menjadi “Ngeksiganda”, misalnya. Hal itu dilakukan untuk memenuhi metrum akhiran bunyi a dan jumlah suku kata yang tepat. Beda halnya dengan mencipta geguritan. Pencipta bisa langsung saja menulis kata “mataram”. Namun, apakah semudah itu menulis geguritan?” katanya.

“Geguritan yang mirip puisi bebas itu tentu bukan sekadar rangkaian kata yang disusun dengan tipografi yang berbeda dengan prosa. Bukan pula sekadar, tulisan yang dihilangkan tanda bacanya. Namun, geguritan adalah kristalisasi pemikiran. Geguritan merupakan bentuk kecerdasan pencipta dalam mengolah pengalaman panjang menjadi satu dua kata. Oleh karena itu, kata wuyung dan tresna, adhem dan atis, misalnya, menjadi sangat berbeda makna. Dalam bahasa Indonesia, kita mengenal kata “sepi” dan “sunyi” yang penggunaannya harus tepat sesuai dengan pengalaman penulis atau pembacanya,” urai Ratun Untoro.

Ungkapan atau kata yang termuat dalam geguritan karya Sutanto ini merupakan endapan pengalaman batin penciptanya. Misal kata “lana” pada baris sembilan gurit nomor 31 bukan sekadar bermakna lestari. Namun, ia memuat rasa makna “ora owah” atau tidak bisa bergeser digantikan dengan yang lain.

Kata “lestari” tidak digunakan oleh Sutanto karena dianggap tidak mewakili makna pengalaman batinnya. Contoh tersebut membuktikan bahwa setiap kata yang ada dalam sebuah geguritan bukan sekadar ucapan, tetapi memuat konsep dan menjadi simbol (bukan sekadar tanda) gumpalan pemikiran. Burung beo (gracula atau hill myna) bisa saja dilatih untuk mengucapkan kata “lana” atau “lestari”. Namun, beo hanya sekadar mengucapkan. Ia tidak pernah mengerti konsep dan makna di balik kata itu.

“Oleh karena itu, membaca geguritan sebenarnya bukan sekadar menyuarakan,” tandasnya. (*)

 

 


TAGS: #geguritan 

SHARE



'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini