Minggu, 17 Okt 2021,


sekolah-online-tidak-berlaku-di-wilayah-iniZeo, siswa SDN 1 Terong Dlingo Bantul belajar di rumahnya usai mendapatkan tugas dari sekolah. (istimewa)


Sari Wijaya
Sekolah Online Tidak Berlaku di Wilayah Ini

SHARE

KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Zelgai Dhayulhaq Ainun (9) siswa kelas 3 SDN 1 Terong Dlingo Bantul terlihat tekun mengerjakan tugas sekolah di rumahnya belakang Balai Desa Terong. Ketika ada soal yang tidak paham, dia bertanya ke ayahnya, Ainun Najib, yang memang bergantian dengan istri mendampingi Zeo, panggilan akrabnya, belajar  di rumah.


Sejumlah sekolah di Kecamatan Dlingo yang berbatasan dengan Gunungkidul itu, sejak awal masa pandemi Covid-19 memang tidak menerapkan sekolah online. Dengan kata lain, model sekolah tersebut tidak berlaku di wilayah ini.

  • Dapur Bude, Penolong di Saat Pandemi
  • Beri Insentif Petani agar Tidak Menjual Lahannya

  • “Di sini sejak awal pandemi tidak ada pembelajaran secara daring atau online. Siswa beberapa hari sekali mengambil tugas ke sekolah, nanti  dikumpulkan lagi di sekolah ketika pekerjaan selesai untuk dikoreksi gurunya,” kata Ainun kepada koranbernas.id, Senin (24/8/2020).

    Tentu saja siswa maupun orang tua tidak paham materi yang diajarkan. Beruntung pihak sekolah memberikan kesempatan untuk bertanya langsung kepada guru di sekolah, sehingga saat mengerjakan  tugas tidak mengalami kendala berarti.

  • Warga Wonosari Meninggal Positif Covid-19
  • Pemuda Pancasila Sleman Bakti Sosial Bersihkan Selokan Mataram

  • Sebagai orang tua, Ainun sangat mendukung proses pembelajaran seperti itu mengingat wilayah Dlingo yang geografinya adalah perbukitan dan banyak pepohonan besar. Tidak jarang tiba-tiba terjadi blank spot alias hilang  sinyal. Belum lagi, tidak semua orang tua memiliki dana cukup membali hape berbasis android untuk keperluan pembelajaran online.

    “Kalau harus beli paketan, tidak semua orang tua memiliki uang. Jadi saya mendukung seolah cara belajar seperti ini di saat pandemi,” katanya.

    Zeo mengaku senang  dengan cara belajar seperti yang dilakukan sekolahnya. “Senang karena dijelaskan juga pas ambil buku soal ke sekolah,” katanya.

    Kondisi wilayah perbukitan berbeda dengan kondisi di Bantul kota yang relatif sinyal lancar dan tidak ada kendala blank spot. Inova (11), siswa kelas 5 SD Unggulan Aisyiyah Bantul ini mengaku kangen masuk sekolah bertemu teman-temannya. Selama ini dirinya belajar secara online cukup di rumah saja.

    Iya kangen pengin sekolah,” katanya. Sang bunda, Widiya (51) mengatakan pembelajaran di sekolah anaknya dilakukan secara online sejak virus Corona ditetapkan sebagai pandemi di seluruh belahan dunia termasuk Indonesia.

    “Anak tentu sudah kangen suasana sekolah. Cara kita mengajar di rumah dengan guru di sekolah pasti berbeda. Semoga pandemi ini segera berakhir,” harapnya.

    Dengan begitu siswa bisa belajar lagi secara normal di sekolah dan bisa bertemu teman serta guru-gurunya, sehingga kehidupan sosial sebagai anak-anak  bisa berjalan normal kembali.

    Seorang guru SMPN 2 Bantul Umi Kulsum SPd mengatakan di sekolahnya  sejak awal pandemi dilakukan pembelajaran secara daring. “Hingga kini kami belum melakukan pembelajaran tatap muka, guna menghindari hal yang tidak diinginkan terkait virus Corona yang  sampai sekarang bertambah kasusnya di Bantul,” kata Umi.

    Sejauh ini, lanjut dia, siswa tidak mengalami kendala sinyal. “Belum ada keluhan sinyal, semua berjalan lancar. Kami memberikan soal secara daring, siswa mengerjakan dari tempat mereka masing-masing,” katanya.

    Internet gratis

    Mengingat pentingnya jaringan internat bagi kepentingan belajar siswa, Pemerintah Desa Singosaren Kecamatan Banguntapan Bantul tergerak untuk menyediakan tiga titik wifi gratis  bagi warga ataupun pelajar di desa tersebut.

    Peresmian  wifi gratis dilakukan Camat Banguntapan Drs Fauzan Mu’arifin Minggu (16/8/2020) malam dengan disaksikan anggota Komisi C DPRD DIY, Amir Syarifudin dan warga setempat termasuk dari pedukuhan dan RT.

    “Kita mengajukan permohonan ke provider untuk pemasangan wifi ini. Dari tiga titik, sudah dua terpasang di Pedukuhan 2 Singosaren yakni RT 05 dan RT 04,” kata Lurah Joko Prayitno.

    Kecepatan internet masing-masing titik 10 MBPS dengan biaya bulanan Rp 100.000. Pemasangan dilakukan di pendapa RT. “Biaya bulanan ini dibayar desa. Warga di sini benar-benar gratis menikmati internet,” katanya.

    Diharapkan wifi gratis tersebut mampu meningkatkan akses informasi dan pengetahuan warga. Selain itu juga membantu pelaksanaan sekolah online atau daring. Tidak jarang pembelian kuota menjadi permasalahan tersendiri terutama bagi warga kurang mampu.

    Ketua TP PKK Desa Singosaren Ny Siti Asfiyah Joko Prayitno mengatakan, penyediaan sarana wifi gratis sangat membantu masyarakat dan dunia pendidikan di tengah pandemi Covid-19.

    “Ketika sekolah dilakukan secara online, semua tugas siswa termasuk video dikirim ke pihak sekolah. Semua butuh kuota. Maka dengan wifi gratis, saya menilai ini sangat membantu  sekali,” katanya.

    Camat Fauzan Mu’arifin memberikan apresiasi terobosan Pemerintah Desa Singosaren. Hal ini sangat bermanfaat bagi warga di tengah  situasi pandemi di mana kegiatan pembelajaran dan banyak hal  termasuk berjualan dilakukan  secara online.

    “Saya mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Desa Singosaren atas fasilitas  wifi gratis,” katanya. Hingga saat ini, lanjut Camat Fauzan,  virus corona masih terus menyebar maka semua harus mematuhi protokol kesehatan, menggunakan masker, menjaga jarak, mencuci tangan menggunakan sabun dan menghindari kerumunan.

    “Jangan pernah berpikir Corona itu konspirasi namun ini nyata adanya. Termasuk kecamatan kita cukup banyak yang terpapar virus tersebut. Jadi mari kita bersama-sama melakukan pencegahan,” katanya.

    Kepala Dinas Pendidikan  Bantul, Isdarmoko M Mpar, saat dikonfirmasi secara terpisah mengatakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di Bantul dilaksanakan secara fleksibel.

    Artinya, tidak hanya satu model online atau daring namun juga dilakukan  offline (luring) serta  semi-online (kombinasi). “Ketiga-tiganya digunakan di Bantul untuk saling melengkapi kekurangan model yang satu dan lainnya,” kata Isdarmoko.

    Misal  saja  apabila ada siswa yang terkendala daring karena tidak ada fasilitas hape android maupun sinyal maka akan teratasi dengan offline dengan modul, LKS, Penugasan Guru  dan metode lain.

    Bahkan bisa dengan konsultasi pelajaran kepada guru di sekolah. “Jadi intinya pembelajaran tetap bisa berjalan disesuaikan dengan kondisi masing-masing sekolah,” katanya. (sra)



    SHARE



    '

    BERITA TERKAIT


    Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

    Tulis Komentar disini