Rabu, 02 Des 2020,


selama-pandemi-butet-kartaredjasa-tanam-singkong-dan-lemonButet Kartaredjasa. (muhammad zukhronnee muslim/koranbernas.id)


Muhammad Zukhronnee Muslim

Selama Pandemi Butet Kartaredjasa Tanam Singkong dan Lemon

Terbiasa Ditekan dan Tertekan Seniman Harus Kreatif
SHARE

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA – Masa pandemi Corona Virus Disease (Covid-19) menjadi era baru bagi seniman. Seniman serba bisa Butet Kartaredjasa mengakui, pelaku seni sudah terbiasa hidup dalam tekanan.

Butet mencontohkan 32 tahun seniman hidup dalam ketertindasan politik dan ekonomi ketika Orde Baru sehingga terbiasa dalam situasi yang mengancam kebebasan berekspresi.


Baca Lainnya :

“Wabah pandemi ini saya sikapi sebagai orang ataupun seniman yang sudah teruji mengatasi situasi-situasi darurat. Kalau kedhungsang-dhungsang seperti begini ini aku sudah terlatih," ujarnya saat ditemui di rumahnya, Minggu (20/9/2020), di kawasan Padepokan Bagong Kussudiarja.

Sejak awal pandemi, Kakak dari mendiang Djaduk Ferianto itu meyakini pandemi tidak akan selesai dalam waktu singkat. Dia langsung mendesain kegiatan-kegiatan jangka pendek. Menyadari kesenian bukan produk primer atau sekunder tapi menjadi prioritas ketujuh atau yang kedelapan.


Baca Lainnya :

Jika dikolerasikan dengan represi selama 32 tahun itu, maka seniman harus memutar otak ketika susahnya mendapatkan izin di era Orde baru.

"Saya berpikir untuk mengerjakan sesuatu di sektor riil, dalam situasi darurat di tengah pandemi begini mana ada orang akan belanja lukisan? Mana ada orang akan nanggap teater atau menanggap saya untuk bermain monolog? Saya juga tidak bisa mengelola satu pertunjukan teater Gandrik atau program Indonesia Kaya seperti biasanya,” ungkapnya.

Jika pun mungkin, gedung akan dibatasi. Penonton juga berjarak dan jika penonton berjarak maka penontonnya juga sedikit, dengan penonton sedikit maka tiketnya akan menjadi mahal. “Udah mahal belum tentu orang akan datang untuk menonton karena berisiko,” lanjutnya.

Pertimbangan itu membuat Butet melakukan kegiatan yang menurutnya akan menyelamatkan sebuah kehidupan. Maka sejak bulan Maret bapak tiga orang anak itu bercocok tanam. Butet memutuskan untuk menanam singkong dan lemon di kebun untuk kebutuhan personal.

Kebun yang terletak di dekat kawasan Gunung Api Purba Nglanggeran Gunungkidul milik Butet, dikerjakan bukan dengan perspektif bisnis, namun lebih merupakan sebuah laboratorium baginya. Butet pun tak sabar menunggu masa panen pada Desember atau Januari mendatang.

“Setelah itu baru bisa mengetahui hasil dan metodologi yang saya lakukan dalam bertanam ini akan berhasil atau tidak," kata seniman yang pandai menirukan beragam karakter suara tokoh nasional itu.

Kreativitas tak berhenti

Bersamaan dengan aktivitas barunya, Butet tetap melakukan kegiatan lama, salah satunya melukis di atas keramik yang digeluti sejak 2015. Melukis walaupun tanpa ada target dijual, Butet mengaku lebih untuk menabung karya dengan melukis sebanyak-banyaknya. Siapa sangka, pada masa pandemi sepeti ini ada juga orang yang berminat membeli karyanya.

“Rezeki itu datang dengan penuh keajaiban. Saya juga tidak kenal pembelinya, tiba-tiba berkirim pesan dan membeli tiga karya lukisan keramik tersebut,” sambung pria kelahiran 21 November 1961 ini.

Butet dan sastrawan Agus Noor kini juga sibuk menginisiasi program film pembelajaran seni yang diperuntukkan anak usia sekolah. Film berdurasi sekitar 24 menit yang disokong Direktorat Jenderal Kebudayaan itu secara elementer berisi teknik dan kiat membuat karya seni.

Mulai dari perupa Putu Sutawijaya, aktor kawakan sekelas Slamet Rahadjo dan artis sekaligus pegiat teater Ratna Riantiarno serta banyak seniman lainnya turut ambil bagian.

Program yang sudah berhasil diselesaikan sebanyak 54 episode itu merupakan lompatan signifikan bagi pendidikan di Indonesia. Jika sebelumnya siswa sekolah hanya mendengar dari guru sebagai penyampai ilmu, namun belum tentu menguasai bidangnya, kini siswa dapat mendengar langsung dari praktisi bahkan seniman-seniman ternama secara daring.

“Target program ini sebanyak 200 episode, dengan melibatkan seniman sebagai nara sumber dan puluhan pekerja film, juga merupakan salah satu upaya untuk memberikan penghasilan bagi pekerja seni yang terdampak pandemi," tandas Butet. (*)



SHARE
'

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini