Rabu, 19 Jan 2022,


sepakbola-moralitas-dan-sportivitasSudjito Atmoredjo (istimewa)


---
Sepakbola, Moralitas dan Sportivitas

Oleh: Sudjito Atmoredjo
SHARE

LEG pertama final AFF 2020 telah berlangsung. Al-hasil, Timnas Indonesia dikalahkan Timnas Thailand dengan skor 0-4. Siapapun menyaksikan pertandingan itu, patut kagum akan kehebatan dua kesebelasan. Daya juangnya tinggi. Pantang menyerah. Ingin berbuat terbaik. Agar kemenangan diperoleh. Segalanya dilakukan dalam bingkai moralitas dan sportivitas tinggi.


Dilaporkan oleh Abdul Rohman (BolaSport, Rabu, 29 Desember 2021) bahwa usai kekalahan itu, Shin Tae-yong (pelatih Timnas Indonesia) secara ksatria mengakui hasil pahit yang diraih skuad Garuda. Eloknya, pujian pun dilayangkan kepada Tim besutan Alexandre Polking. Dikatakannya, kemenangan atas Timnas Indonesia itu terbilang sempurna. "Thailand sempurna. Kami memang ada kekurangan," ucap pelatih berusia 51 tahun itu. Meski begitu, Timnas Indonesia akan mempersiapkan diri dalam menghadapi leg kedua final kontra Thailand yang digelar pada 1 Januari 2022.

  • Ada yang Diam, Sibuk Ganggu Temannya
  • Mau Beli Bubur, Sinar Dihajar Rombongan Suporter

  • Sungguh menarik disimak, evaluasi atas kekalahan itu (Bola.net, 29 Desember 2021). Dinyatakannya bahwa paling tidak, ada tiga alasan sebagai faktor penyebab kekalahan, yakni: pertama, Indonesia kalah pengalaman dibanding Thailand. Indonesia dihuni banyak pemain muda. Mayoritas pemain belum pernah merasakan laga final dengan tekanan setinggi Piala AFF 2020. "Kami menyiapkan tim dengan baik hingga ke final. Tapi, bagaimana pun ada banyak pemain yang memainkan final pertamanya pada laga ini," kata Shin Tae-yong.

    Alasan kedua, Indonesia kebobolan gol cepat dari aksi Chanathip. Pemain berusia 28 tahun itu mencetak gol pada menit ke-2. Situasi itu membuat Indonesia kesulitan untuk bangkit dari tekanan. "Kami kebobolan gol yang sangat cepat. Begitu babak pertama dimulai, langsung gol. Situasi itulah yang lantas mempersulit kami," ucapnya.


    Selanjutnya, alasan ketiga, karena pemain Indonesia gagal memanfaatkan momen yang didapat. Pada menit ke-41. Ada peluang emas yang didapat Alfeandra Dewangga. Tapi, momen ini gagal dimodifikasi menjadi gol. "Peluang Dewangga tidak bisa cetak gol dari momen itu, menjadikan kami sulit untuk bangkit," tegasnya. Selain peluang yang didapat Dewangga, praktis Indonesia lebih banyak berada dalam tekanan Thailand pada babak pertama. Lalu, pada babak kedua, saat tekanan Thailand mengendur, Indonesia sudah kehilangan ritme dan fokus permainan.

    Sebagai pengamat sepakbola, saya,  sependapat dengan tiga alasan di atas. Sebagai respons atas maraknya komentar dari teman-teman di media sosial, saya katakan, “Timnas Indonesia hebat, dan Timnas Thailand huebat buanget”. Kehebatan Timnas Thailand antara lain, cepatnya dibangun strategi menyerang, sejak awal kick off. Gerak cepat diperlihatkan. Ketika operan pemain Indonesia mampu dipotong, bola dikuasai penuh,  selanjutnya digiring melalui sayap kiri. Bek Indonesia keteteran. Saat itu, peluang gol terbuka 90 persen. Momen ini sungguh mengagetkan. Tak berselang lama, serangan tajam dibangun melalui sayap kanan. Dua palang pintu Timnas Indonesia, terkecoh oleh gerak-tipu pemain Timnas Thailand berambut putih. Bola dengan mudah dioper ke Chanathip Songkrasin. Dengan leluasa, bola liar disambar.  Langsung ke arah pojok gawang Nadeo Argawinata. Gol pun terjadi.

    Saya - dan supporter lain - mulai gelisah. Kalah dalam perebutan bola, kalah dalam kecepatan lari, dan lemahnya akurasi operan, tampak sekali dilakukan pemain-pemain Indonesia. Dominasi penguasaan bola hingga 76 persen oleh Timnas Thailand, menjadikan suasana hati gusar dan mencekam. Dalam hati terasa ada bisikan, “Bukan mustahil, keajaiban bisa muncul”. Benar. Serangan balik cepat, mampu dilakukan Witan Sulaiman. Ball crossing yang akurat pun berhasil dilakukannya. Tak kuasa dibendung bek Timnas Thailand. Terjadilah peluang emas. Alfeandra Dewangga tinggal berhadapan dengan gawang dan kiper Thailand. Sayang, sayang, sayang. Sambaran bola Dewangga melambung di atas mistar gawang. Apes.

    Sejak saat itu, kegelisahan saya semakin memuncak. Mengapakah, apes, nasib sial terjadi? Dalam doa dan asa kepada Sang Maha Kuasa, mudah-mudahan nasib sial itu berubah menjadi keberuntungan. Setidaknya, sang pelatih, di babak kedua akan mengubah strategi, hingga mampu mengatasi situasi yang kian berat itu.

    Apa yang terjadi? Permainan tidak banyak berubah. Walaupun Elkan Baggott dan Evan Dimas serta Eggy Maulana Vikri dimasukkan sebagai pemain pengganti. Tak ada satu gol pun bagi Timnas Indonesia. Gol-gol tambahan bagi Timnas Thailand justru terjadi. Pemain-pemain tengah Timnas Thailand semakin leluasa mendapatkan ruang tembak dari second line. Terjadilah gol-gol yang diinginkannya. Skor menjadi 4-0.

    Dari segala aspek, skor itu sungguh rasional. Walaupun demikian, amat menyesakkan rongga dada supporter Indonesia. Direnung dalam-dalam, memang, sepakbola suatu negara tak pernah steril dari tatanan moral (Piliang, 2003) dan sportivitas bangsanya. Tampilnya Timnas Indonesia di babak final AFF 2020, semula disambut gegap gempita. Sebagai bangsa kita bersyukur, ketika drama demi drama persepakbolaan nasional mulai dibenahi. Masih ingat kan?! Beberapa tahun berselang, pengurus PSSI, korps pelatih, pemain, supporter, dan insan-insan bola mania, masih belepotan dengan kepentingan-kepentingan pribadi dan kelompok. Dunia sepakbola pun tak lepas dari tarik-ulur kampanye politik, sarana bisnis, dan berbagai kepentingan lainnya. Singkat kata, kala itu persepakbolaan nasional berada di area immoralitas dan nirsportivitas.

    Apa akibatnya? Sejak era itu, persepakbolaan nasional hancur. Di level nasional, sikap anarkis, koruptif, dan “sepakbola gajah”, menjadi tontonan marak. Amat memuakkan. Dalam situasi seperti itu, wajar bila masyarakat (khususnya pencinta sepakbola) bergerak ke arah “krisis legitimasi moral dan sportivitas” (Habermas, 1998). Hiper-moralitas dan hiper-sportivitas, memenuhi rongga jiwa, menggiring masyarakat tidak percaya lagi pada insan-insan sepakbola.

    Kini, situasinya sedikit berubah. Andai Timnas Indonesia keluar sebagai juara Piala AFF 2020, bisa saja kemenangannya dimaknakan sebagai berakhirnya krisis legitimasi, dan sekaligus lahirnya era moralitas dan sportivitas persepakbolaan yang otentik. Sebagaimana persepakbolaan negara-negara lain, semisal Jepang, Korea,Thailand, kiranya Indonesia pun pasti bisa bangkit, bila moralitas dan sportivitas semua pihak dimantapkan. Langkah ke arah itu sudah diayunkan. Maka, di atas puing dan berkah kekalahan di babak final AFF 2020, mari kita bangun bersama dunia sepakbola nasional yang sarat dengan moralitas dan profesionalitas. Wallahu’alam. ***

    Prof. Dr. Sudjito Atmoredjo, S.H., M.Si.

    Guru Besar Ilmu Hukum UGM, Pencinta Sepakbola



    SHARE



    '

    BERITA TERKAIT


    Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

    Tulis Komentar disini