temanten-gagrak-ngayogyakarta-wujud-pelestarian-budayaUpacara tradisional boyong temanten dan wisuda Tali Darma Gagrak Ngayogyakarta digelar oleh  Paguyuban Panatacara Yogyakarta DPD Kabupaten Bantul. (istimewa)


Sariyati Wijaya
Temanten Gagrak Ngayogyakarta Wujud Pelestarian Budaya

SHARE

KORANBERNAS.ID,BANTUL -- Memperingati  Sumpah Pemuda, tujuh panatacara muda di Bantul menggelar kemasan upacara adat boyong temanten dan wisudan Tali Darma  dengan kemasan tembang Macapat di Jonggrangan RT 05 Dukuh Babadan Kalurahan Bantul Kapanewon Bantul.


Adapun tujuh panatacara muda Bantul itu adalah Kuswandi Hadi Soekirno, Efendi Citra Wicaksana ,Nur Jayanto atau sering disebut  Nur Jee,Mas Bekel Anom Purwa Suparwimana, Fikri sidiq Suparmanto, Egsa Sudrajad  dan Eko Purwanto. 


“Kami tujuh pembawa acara  adat atau sering disebut panatacara yang tergabung dalam wadah Paguyuban Panatacara  Yogyakarta Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Kabupaten Bantul menggelar rangkaian prosesi upacara adat pasrah panampi ngunduh mantu dilanjutkan dengan wisudan Tali  Darma dengan Kemasan tradisi yang kental,” kata Kuswandi dalam rilis yang dikirim ke redaksi koranbernas.id, Minggu (30/10/2022).

Kegiatan yang dilaksanakan pada Sabtu (22/10/2022) pekan lalu ini merupakan kolaborasi  yang apik oleh tujuh panatacara dalam mengemas upacara adat tersebut menjadi sebuah tontonan ,tatanan dan tuntunan bagi masyarakat luas Mereka mengemas upacara adat sesuai dengan pakemnya yakni pakem adat  Yogyakarta dengan kemasan yang menarik berkolaborasi dengan Bergada Rakyat  Rangsang Manggala Yogyakarta.


Kegiatan ini digelar bersamaan saat dirinya yang merupakan Wakil Ketua Paguyuban Panatacara Yogyakarta DPD Kabupaten Bantul  bersama keluarga besarnya memiliki hajad menikahkan adiknya . Sehingga momen tersebut disepakati  sebagai upaya edukasi kepada masyarakat luas mengenai upacara tradisi  pernikahan Gagrak Ngayogyakarta sekaligus kado bagi pemuda pemudi di peringatan Sumpah pemuda tahun 2022. 

“Karena selama ini masih sering terjadi  kesalahan kesalahan yang dilakukan oleh masyarakat luas dalam mengemas  upacara adat Gagrak Ngayogyakarta,” katanya.

Kuswandi menjelaskan dalam perhelatan upacara  ngunduh mantu tersebut sebagai rangkaian prosesinya diawali dari proses kedatangan mempelai dan keluarga besar besan berjalan beriringan diawali berjalannya  seorang duta pasrah yang diperankan oleh Efendi Citra Wicaksana diiringi pasukan bregada  rakyat Rangsang Manggala Yogyakarta lengkap dengan  tetabuhan khas keprajuritan.

Kemudian berjalan menuju lokasi pahargyan yang  disambut dengan ucapan selamat datang oleh Kuswandi dengan melantunkan tembang Asmarandana Pelog 6,dan dilanjutkan pasrah oleh duta pasrah Efendi Citra Wicaksana dan diterima  oleh Mas Bekel Anom Purwa Wicaksana. 

Keduanya dalam upacara serah terima dengan menggunakan tembang Macapat. Setelah selesai dilanjutkan dengan upacara wisudan Tali Darma. Diawali dengan ibu mempelai pria mengambil dedaunan yang khusus diberikan kepada bapak dari mempelai pria untuk di sentuh sentuhkan ke badan kedua mempelai sebagai simbol membersihkan semua goda dan marabahaya.

Setelah selesai ibu mempelai pria memberikan minuman air putih kepada kedua mempelai sebagai simbol bahwa kedua mempelai dalam membangun rumah tangga senantiasa berdasarkan pikiran jernih . 

Dilanjutkan mempelai pria diberikan kalung rangkaian bunga melati oleh bapak mempelai  pria sebagai simbol  mempelai pria kawisudha atau di wisuda sebagai seorang pemimpin keluarga yang selalu membawa keharuman nama keluarganya dengan dilandasi kebijaksanaan. 

Setelah itu keris yang dipakai mempelai pria diganti dengan keris yang baru  sebagai simbul bahwa keris yang dipakai dalam prosesi akad nikah adalah keris nom noman atau keris anak muda yang bersifat ksatria diganti dengan  keris kasepuhan yang merupakan pusaka keluarga dengan harapan setelah menikah menjadi pemimpin keluarga yang berkualitas berfikir dewasa dan menjadi orangtua yang  bijaksana

Efendi Citra Wicaksana selaku Ketua Paguyuban mengutarakan bahwa ini bagian dari program mereka untuk  mengenalkan upacara adat dan tradisi sesuai pakemnya. Walaupun setelah rangkaian upacara adat selesai, mereka memberikan ruang kepada kalangan muda yang hadir dalam acara resepsi untuk tetap bisa menikmati acara sesuai harapan mereka yakni acara yang dikemas secara modern. 

"Karena salah satu rekan kami ,  Nur Jee handal dalam mengemas acara modern yang keren dan pasti cocok untuk kalangan muda,” jelasnya.  (*)



SHARE
'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini