uniknya-kebaya-tidak-semua-negara-punyaPeserta Pelatihan Vocational bagi Usaha Mikro di Sektor Ekonomi Kreatif Subsektor Fashion di Kota Yogyakarta mengikuti fashion show. Semua mengenakan kebaya. (istimewa)


Siaran Pers
Uniknya Kebaya, Tidak Semua Negara Punya..
Kementerian Koperasi dan UKM Ajak Perempuan Indonesia Bangga Pakai Kebaya
SHARE

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Ada yang menarik di Lynn Hotel Yogyakarta, Jumat (11/11/2022) siang. Tidak kurang 30 perempuan mengikuti fashion show. Semua tampil dengan busana kebaya. Meski tanpa catwalk berkarpet cerah sebagaimana layaknya gelar busana profesional, ibu-ibu itu mampu tampil percaya diri.


Mereka adalah peserta Pelatihan Vocational bagi Usaha Mikro di Sektor Ekonomi Kreatif Subsektor Fashion di Kota Yogyakarta. Pelatihan yang berlangsung hingga 13 November 2022 tersebut diselenggarakan oleh Kementerian Koperasi dan UKM, bekerja sama dengan Dinas Koperasi dan UKM DIY serta organisasi Perempuan Berkebaya Indonesia.

  • Buku Geguritan Dialek Semarangan Diluncurkan di Bantul
  • Smart Phone Picu Disharmoni Keluarga

  • Satu per satu, mereka beranjak dari tempat duduk, menunggu giliran tampil, lantas berjalan di antara deretan meja dan kursi. Gaya berjalan bebas mengingat ibu-ibu itu beragam usianya.

    Begitu pula gerakannya, terutama saat memberikan hormat di hadapan Deputi Bidang Usaha Mikro Kementerian Koperasi dan UKM, Dr Yulius MA, Asisten Deputi (Asdep) Pengembangan Kapasitas Usaha Mikro Ari Anindya Hartika, Kepala Dinas Koperasi dan UKM DIY, Srie Nurkyatsiwi, Ketua Perempuan Berkebaya Indonesia, Rahmi, maupun tamu undangan. Sederhana tetapi mengesankan.

  • Penundaan Eksekusi Baiq Nuril Bukan Solusi
  • Desa Sinduadi Maju Lomba PKK

  • Menariknya, kebaya yang mereka kenakan beragam model, motif maupun warnanya. Ada kebaya merah, hijau, kuning dan lain sebagainya, termasuk dipadu dengan kerudung sehingga terkesan elegan dan anggun.

    Saat diwawancarai wartawan, Yulius memberikan apresiasi kegiatan tersebut. Baginya, kebaya adalah busana unik. Itulah kekuatan atau daya tarik berbisnis.

    “Kalau kita berbisnis, yang utama adalah unik yang kita jual. Kalau biasa-biasa saja, itu ndak akan laku. Kita punya modal unik, tidak semua negara punya pakaian kebaya,” ujarnya.

    Memang ada beberapa negara di Asia seperti Vietnam dan Laos memiliki busana mirip kebaya tetapi bukan kebaya.

    Sekali lagi Yulius mengatakan keunikan kebaya sudah menjadi modal berbisnis. “Tinggal sekarang bagaimana kita bisa menjual kebaya di dalam negeri maupun luar negeri,” kata dia.

    Peluang kerja sama

    Menurut Yulius, dengan memperhatikan enam aspek berbisnis di antaranya pemasaran, kualitas SDM (Sumber Daya Manusia), pendanaan maka terbuka peluang kerja sama dengan perusahaan-perusahaan besar yang sudah memiliki brand mapan. Ini memungkinkan, sehingga kebaya menjadi produk internasional kebanggaan Indonesia.

    “Pertama, kita bisa belajar dari situ. Kita (Kementerian Koperasi dan UKM) bisa memfasilitasi kerja sama itu. Aspek ekonomi dari kebaya itu luar biasa sebenarnya, karena keunikannya yang negara lain tidak punya,” tegasnya.

    Yulius pun memotivasi mereka jangan minder mengenakan kebaya sebagai busana sehari-hari. “Kita selalu minder dengan buatan sendiri, seolah-olah buatan asing itu kayaknya nggak bagus. Bagus atau tidak itu mindset (cara berpikir). Kalau kita sebarkan virus kebagusan, orang akan tertarik,” paparnya.

    Supaya kebaya mampu berkembang, dia menyatakan harus dibuat formal. Artinya produk UKM itu harus memiliki NIB (Nomor Induk Berusaha) serta pembuatnya terdata by name by address. Ini akan memudahkan Kementerian Koperasi dan UKM memberikan bantuan berupa pendanaan, pelatihan maupun pemasaran.

    Ke depan, kementerian tersebut ingin mereka bukan sekadar mengikuti pelatihan selama hari selesai kemudian pulang, melainkan memberikan pendampingan secara berkesinambungan enam bulan atau satu tahun. Selain itu, juga difasilitasi pemasaran melalui platform digital.

    Yang terpenting, lanjut Yulius, mereka semua harus masuk koperasi. Jika tidak, saat berjualan bertemu tengkulak pasti harganya tinggi. “Dengan masuk koperasi ibu-ibu ini yang menentukan harga, kita dorong menjadi anggota koperasi,” kata dia.

    Sependapat, Ari Anindya Hartika menyampaikan dari pelatihan yang berlangsung tiga hari itu peserta sebagai pelaku usaha mikro mampu menguasai materi pelatihan, di antaranya literasi ekonomi digital maupun strategi inovasi produk. “Semoga pelatihan ini bermanfaat bagi pengembangan usaha dan pemulihan ekonomi,” harapnya.

    Srie Nurkyatsiwi menambahkan, Pemda DIY selain melaksanakan pemberdayaan juga berkomitmen senantiasa mengembangkan ekosistem UKM melalui sektor ekonomi kreatif.

    Seperti diketahui, di provinsi ini terdapat tidak kurang 350 ribu UMKM yang masuk sibakul, termasuk sektor fashion. Demi terbentuknya ekosistem sekaligus sebagai wujud keberpihakan terhadap sektor UMKM, Dinas Koperasi dan UKM DIY menjalin kerja sama dengan kalangan akademisi, pembiayaan maupun kalangan media.

    Sesi foto bersama usai pembukaan pelatihan Pelatihan Vocational bagi Usaha Mikro di Sektor Ekonomi Kreatif Subsektor Fashion di Kota Yogyakarta, Jumat (11/11/2022), di Lynn Hotel. Pelatihan berlangsung tiga hari hingga 13 November 2022. (istimewa)

    Budaya bangsa

    Kebaya merupakan salah satu fashion yang sangat kental dengan budaya bangsa Indonesia. “Perlu dipikirkan bagaimana pelestarian budaya tetap berjalan dan produk kebaya tetap berkembang, simpel namun tetap sesuai pakem,” kata dia.

    Di tempat yang sama, Rahmi mengakui sejak organisasi Perempuan Indonesia Berkebaya berdiri tahun 2014 pihaknya saat ini sedang belajar mengembangkan bisnis kebaya.

    Diakui, kebaya merupakan busana yang jarang dipakai kecuali untuk keperluan acara-acara formal. Contoh, sebagian dari suku Batak saat ke gereja mengenakan kebaya. Di Tidore, saat perayaan Maulid Nabi SAW maupun lebaran, warga di sana mengenakan kebaya. Di Yogyakarta masih ditemukan perempuan berkebaya terutama di Pasar Beringharjo. “Di Jakarta jarang sekali sekarang ini orang mengenakan kebaya,” ungkapnya.

    Pihaknya pernah melakukan semacam survei, dalam tanda kutip, di Pasar Pagi Salatiga. Hasilnya, waktu itu mereka hanya menemui lima orang perempuan berkebaya, salah seorang di antaranya wanita berusia di atas 90 tahun.

    Menurut Rahmi, kebaya memiliki aspek ekonomi yang tinggi, maka tidak salah perlu didaftarkan ke UNESCO dengan catatan kebaya tetap memiliki pakem. Dengan kata lain, pelestarian budaya tetap berjalan dan kegiatan ekonomi dari bisnis kebaya berjalan dengan baik.

    Pelatihan yang secara resmi dibuka oleh Deputi Bidang Usaha Mikro Kementerian Koperasi dan UKM, Dr Yulius MA, ditandai penyematan tanda peserta kepada perwakilan peserta.

    Adapun materi antara lain cara menggambar model kebaya yang bisa dituangkan ke dalam karya. Selama pelatihan, pada ruangan tempat pelatihan terpajang sejumlah model dan ragam kebaya beserta aksesorisnya. (*)


    TAGS: perempuan  kebaya 

    SHARE
    '

    BERITA TERKAIT


    Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

    Tulis Komentar disini