Kamis, 21 Okt 2021,


warga-terperangah-melihat-padatnya-mobilitas-orang-di-kota-jogjaIlustrasi


Warjono
Warga Terperangah Melihat Padatnya Mobilitas Orang di Kota Jogja

SHARE

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA — Penurunan PPKM di DIY dari level 4 menjadi level 3 membuat sebagian warga terperangah. Bukan lantaran tak percaya dengan kabar baik ini, tapi lebih karena kaget dengan respons sebagian besar masyarakat yang euforia, seakan pandemi telah berlalu. Padatnya mobilitas manusia di Jogja bahkan menumbuhkan rasa was-was dengan kemungkinan merebaknya kembali kasus Covid-19 di Bumi Mataram.


“Waduh Mas. Sore tadi saya jalan ke kota, macetnya gak ketulungan. Bukan hanya jalanan yang padat, sejumlah kawasan wisata, tempat makan dan sejumlah ruang publik juga padat manusia. Saya jadi ngeri. Malah gak jadi keluar mobil dan memilih putar balik dan pulang,” kata Eva, Minggu (26/9/2021). Perempuan dengan dua anak kecil ini sedianya ingin sekadar menikmati suasana Kota Jogja dengan jalan-jalan.


Eva mengaku kaget dengan mobilitas manusia di Jogja pasca penurunan level PPKM. Ibu rumah tangga ini tidak menyangka, warga Jogja begitu lalai dan sembrono memaknai penurunan level PPKM layaknya kondisi telah aman. Padahal, penurunan level barulah indikasi kondisi yang membaik dan bukannya tanda bahwa ancaman Covid-19 telah hilang.

“Sedih banget. Baru mulai lega kondisi membaik. Ini kok orang-orang sudah seperti itu. Kalau seperti ini, pengin rasanya PPKM diteruskan saja sampai benar-benar aman. Mestinya semua kan saling menjaga. Kasihan anak-anak yang sekian lama tidak bisa sekolah tatap muka. Kasihan juga para nakes dan relawan yang sudah mati-matian berjuang di garda depan,” katanya bernada mengeluh.


Kegalauan juga diungkapkan Erwan, pelaju dari Sleman yang bertugas di Gunungkidul. Cukup lama menjalankan program work from home (WFH), ayah 3 anak ini mengaku kaget ketika memulai kembali aktivitas pekerjaannya dan melintas di wilayah kota Jogja.

Ruas-ruas jalan yang biasanya lengang, tiba-tiba kembali padat sejak PPKM diperlonggar, seiring mulai menurunnya kasus positif Covid-19. Antrean kendaraan nampak panjang setiap mendekati persimpangan dengan traffic light. Kondisi serupa bahkan juga terlihat di wilayah-wilayah pinggiran, terutama jalur-jalur menuju kawasan wisata.

“Rasanya sudah seperti kehidupan normal. Seakan pandemi sudah berlalu. Padahal kan sama sekali belum hilang,” tuturnya prihatin.

Berdasarkan pantauan Kementerian Kesehatan, tingkat mobilitas masyarakat saat ini sudah jauh meningkat dibandingkan masa PPKM Darurat pada Juli atau masa PPKM level 4 pada awal Agustus.

Mobilitas di hampir semua provinsi menunjukkan peningkatan. Bahkan tingkat mobilitas di beberapa daerah seperti Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, sudah melampaui level sebelum pandemi.

Terkait hal tersebut, epidemiolog Universitas Indonesia (UI), Tri Yunis Miko, mengingatkan peningkatan mobilitas masyarakat di tengah pelonggaran aktivitas dalam PPKM bisa mengarah pada potensi lonjakan kasus ketiga Covid-19. Kewaspadaan dan kedisiplinan masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan tidak boleh mengendur agar risiko itu dapat dihindari.

“Risiko penyebaran Covid-19 semakin meningkat seiring dengan semakin tingginya mobilitas dan kerumunan masyarakat. Belajar dari sebelumnya, beberapa kali lonjakan kasus Covid-19 di tanah air terjadi setelah melewati libur panjang yang mengakibatkan mobilitas dan kerumunan orang meningkat,” ujar Tri Yunis.

Belum lagi, lanjutnya, Indonesia akan menghadapi hari libur keagamaan serta mendekati libur tahun baru yang akan membuat mobilitas masyarakat kian tinggi. Ancaman gelombang ketiga Covid-19 juga semakin besar jika capaian vaksinasi tidak sampai 50 persen pada Desember 2021.

“Prediksi Desember-Januari itu kemungkinan puncak ketiganya,” kata Tri Yunis.

Menurutnya, kalaupun capaian vaksinasi bisa sampai 50 persen, lonjakan kasus masih bisa tetap terjadi manakala mobilitas masyarakat tidak dibatasi di periode libur panjang akhir tahun ini. Dalam skenario ini, lanjut Tri Yunis, lonjakan kasus diperkirakan akan terjadi selambat-lambatnya pada Maret 2022.

Ia mengingatkan, puncak kasus juga bisa terjadi jika penelusuran kontak lambat dan pengawasan saat pasien Covid-19 isolasi mandiri lemah. “Jadi ya memang bakal mengalami puncak lagi kalau 3T lemah,” ujarnya.

Oleh karena itu, Tri Yunis meminta kepada masyarakat untuk tetap mematuhi protokol kesehatan. Jangan sampai kondisi yang sudah membaik dan jumlah kasus yang menurun justru membuat lengah dan abai. Jika hal ini dilupakan, maka risiko peningkatan kasus akan menjadi kenyataan.

“Pandemi belum usai, potensi lonjakan kasus masih bisa terjadi. Karenanya tetap disiplin mematuhi protokol kesehatan,” tegas Tri Yunis. (*)



SHARE



'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini