wisatawan-rewel-tantangan-pariwisata-masa-depanGKR Bendara, Ketua Badan Promosi Pariwisata DIY saat memberikan kuliah perdana bagi mahasiswa D3 dan S1 Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo (muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)


Muhammad Zukhronnee Muslim
Wisatawan Rewel Tantangan Pariwisata Masa Depan

SHARE

KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Pariwisata yang mulai bangkit setelah dihantam pandemi Covid-19 menjadi pekerjaan rumah besar bagi pegiat industri ini. Pandemi yang panjang telah merubah sebagian besar wisatawan dalam negeri khususnya yang berkunjung ke Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).


"Sebelum pandemi, rata-rata berwisata menggunakan angkutan umum berubah. Banyak wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta menggunakan mobil pribadi," papar GKR Bendara, Ketua Badan Promosi Pariwisata DIY saat memberikan kuliah perdana bagi mahasiswa D3 dan S1 Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo (STIPRAM) Yogyakarta, Senin (26/9/2022).


Ini merupakan tantangan bagi pariwisata DIY termasuk mahasiswa-mahasiswa pariwisata ke depan, apalagi dalam waktu dekat tol akan terkoneksi, sehingga akan banyak mobil pribadi yang akan datang ke Jogja. Sedangkan hotel-hotel yang ada di Jogjakarta dan Sleman ini menjadi sebuah area yang bebannya terberat.

"Ke depan, hotel-hotel di Jogja menyediakan 40% slot parkir dari kapasitas hotel keseluruhannya dan itu sudah mendapatkan izin," terang Gusti Bendara.


Sedangkan sekarang, lanjut Bendara, wisatawan masih jalan sendiri-sendiri sehingga yang terjadi adalah overload kendaraan pribadi. Di kota Jogja parkirnya pun sudah tidak memenuhi syarat, penuh dan overload, akhirnya banyak yang parkir di pinggir jalan. Selain mengganggu pengguna jalan lain, tarifnya pun bisa lebih mahal.

Masalahnya orang Indonesia kalau parkir tidak dekat dengan tempat yang dituju, mereka itu rewelnya setengah mati. Begitu setelah Keraton ditutup tidak boleh ada parkir bus besar juga pariwisata yang harus jalan dari parkir Ngabean atau dari Malioboro datang ke Keraton itu mereka mengeluh.

"Semenjak ada peraturan tersebut, kunjungan ke Keraton berkurang sebanyak 40 persen. Bisa dibayangkan betapa orang Indonesia itu sangat rewel. Bahkan untuk berjalan yang jaraknya cuman 350 meter pun protes dulu," lanjutnya.

Sementara Ketua Stipram, Suhendroyono menambahkan, kita sudah diberi gelar menjadi negara terindah di dunia, maka kita harus memanfaatkan sekaligus kita pertahankan. Merupakan satu kewajiban bagi Stipram Untuk memanfaatkan kesempatan yang langka tersebut dan makin menggalakkan potensi-potensi pariwisata yang ada di Indonesia.

Seperti yang disampaikan juga oleh Gusti Bendara, seluruh mahasiswa baru Stipram ini maupun mahasiswa lama menjadi ambassador bagi Yogyakarta khususnya dan Indonesia pada umumnya.

"Mereka disiapkan agar bisa menjual dan bisa meningkatkan potensi-potensi pariwisata yang sangat luar biasa yang dimiliki oleh negara kita," tandasnya. (*)


 



SHARE
'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini